Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Sunday, January 27, 2013

Jurnal Efektivitas Antibakteri Senyawa Katekin Hasil Isolasi Dari Daun Teh

UJI EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA KATEKIN
HASIL ISOLASI DARI DAUN TEH (Camellia sinensisL. var Assamica)
Elly Rustanti
ABSTRAK 
Zat antibakteri merupakan suatu zat yang dapat mengganggu pertumbuhan dan metabolismebakteri, sehingga zat tersebut dapat menghambat pertumbuhan atau bahkan membunuh bakteri. Penelitianini bertujuan untuk memanfaatkan bahan alam sebagai antibakteri alami. Penelitian ini ingin mengetahuibahwa daun teh dapat menghambat bakteri Pseudomonas fluorescens dan Micrococcus luteus sertamengidentifikasi senyawa katekin yang terdapat dalam daun teh (Camellia sinensis L. var assamica) yangefektif sebagai antibakteri alami.

Penelitian ini meliputi ekstraksi yang dilakukan dengan metode maserasi menggunakan variasi sampel yaitu daun teh dan serbuk daun teh. Pemisahan ekstrak katekin dilakukan dengan KLT Analitikdengan variasi eluen yaitu etil asetat:air:asam format (18:1:1), toluena:aseton:asam format (3:3:1) dan kloroform:metanol:air (6,5:3,5:1), untuk mencari eluen terbaik yang selanjutnya digunakan untuk KLTPreparatif. Selanjutnya hasil dari KLT Preparatif digunakan untuk uji antibakteri dan isolat yang terbaikdiidentifikasi dengan spektrofotometer FTIR. 
Hasil penelitian  menunjukkan bahwa  hasil ekstrak katekin dari daun teh ± 3,34 gram dan ekstrak serbuk daun teh ± 3,52 gram masing-masing dari 50 gram sampel. Hasil KLT Analitik menunjukkan bahwa eluen terbaik untuk KLT Preparatif adalah etil asetat:air: asam format. Hasil uji antibakteri menunjukkan bahwa isolat 5 dari ekstrak daun teh memberikan efektivitas terbaik sebagai antibakteri Microccocus luteus,  sedangkan isolat 5 diduga senyawa EpiGalloCatechinGallat (EGCG). Isolat 2 dari ekstrak serbuk daun teh memberikan efektivitas terbaik sebagai antibakteri Pseudomonas fluorescens, isolat 2 diduga senyawa EpiCatechin (EC). Hal ini didukung dengan hasil identifikasi FTIR yang menunjukkan bahwa gugus fungsi yang terdapat pada senyawa EGCG dan EC adalah O-H, C-O, C=C, dan C-H aromatik. 

Kata Kunci: daun teh (Camellia sinensis L. var Assamica), katekin, antibakteri.
DOWNLOAD JURNAL KLIK DISINI
 

Friday, January 25, 2013

Jurnal Uji Efektifitas Ekstrak Kasar Senyawa Anti Bakteri Pada Buah Belimbing Wuluh

ABSTRAK
Lathifah, Q.A., 2008, Uji Efektifitas Ekstrak Kasar Senyawa Antibakteri pada Buah Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) dengan Variasi Pelarut.

Pembimbing I : Akyunul Jannah, S.Si, MP
Pembimbing II : Ach. Nashichuddin, MA
Kata kunci: belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.), uji golongan senyawa aktif, antibakteri.
Penelitian ini dilatar belakangi oleh Surat Al-Sajadah ayat 27 dengan tujuan untuk mengetahui pengekstrak (pelarut) terbaik, golongan senyawa aktif antibakteri dan efektifitas ekstrak kasar buah belimbing wuluh sebagai antibakteri terhadap bakteri  S. aureus  dan  E. coli. Pada penelitian sebelumnya belum dilakukan identifikasi senyawa aktif antibakteri dalam buah belimbing wuluh, sehingga penelitian ini perlu dilakukan.

Penelitian ini meliputi ekstraksi yang dilakukan dengan metode maserasi menggunakan 5 jenis pelarut yang berbeda kepolarannya yaitu akuades, metanol, etanol, kloroform dan petroleum eter. Pengujian golongan senyawa aktif antibakteri dilakukan dengan metode tabung dan didukung oleh identifikasi spektrofotometer FTIR. Uji efektifitas antibakteri  dilakukan terhadap bakteri  S. aureus  dan  E. coli  menggunakan metode difusi cakram dengan konsentrasiekstrak 100, 150, 200, 250, 300, 350, 400 dan 450 mg/mL.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa etanol merupakan pelarut terbaik untuk memperoleh ekstrak kasar senyawa antibakteri pada buah belimbing wuluh. Hasil uji golongan senyawa aktif antibakteri menunjukkan bahwa dalam ekstrak terbaik buah belimbing wuluh terkandung golongan senyawa flavonoid dan triterpenoid, hal ini didukung oleh adanya gugus O-H, C=O, C=C, CH, C-OH, cincin aromatik tersubstitusi dan C-O dari alkohol  sekunder. Ekstrak kasar buah belimbing wuluh masih kurang efektif sebagai antibakteri terhadap bakteri S. aureus  dan  E. coli, namun tetap dianggap berpotensi sebagai antibakteri. Konsentrasi ekstrak 300, 350, 400 dan 450 mg/mL berpengaruh sangat nyata (p < 0,01) di antara konsentrasi lain.
DOWNLOAD JURNAL KLIK DISINI

Saturday, January 12, 2013

Jurnal Efektivitas Biji Kelor Dalam Mengurangi Kadar Cd(II)

ABSTRAK

Zulkarnain,  2008 , Efektifitas Biji Kelor  Moringa oleifera Lamk Dalam Mengurangi Kadar KadmiumII, Skripsi Jurusan Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri UIN Malang

Pembimbing  
I : Eny Yulianti, M.Si 
II : Ach. Nashichuddin, MA 
III : Rini Nafsiati Astuti, M.Pd


Semua sumber daya alam yang diberikan Allah SWT dalam kehidupan ini wajib kita syukuri. Salah satu bentuk rasa syukurnya adalah menjaga dan memelihara sumber daya alam yang ada, tetapi tidak  semua manusia menyadari hal tersebut. Kerusakan alam yang setiap tahun terus meningkat merupakan akibat ulah manusia yang tidak mensyukuri nikmat Allah SWT. Kerusakan alam dapat menyebabkan kehidupan manusia di bumi semakin menderita. Salah satu bentuk kerusakan alam adalah pencemaran limbah logam berat di lingkungan. 

Masalah pencemaran limbah logam berat seperti kadmium merupakan masalah  global warning yang saat ini ditakuti oleh manusia di bumi karena pencemaran kadmium dapat menyebabkan berbagai penyakit yang dapat berdampak pada manusia seperti rusaknya sistem ginjal, kanker, gangguan reproduksi, dan kematian. Ancaman pencemaran kadmium merupakan ujian bagi umat manusia dalam melaksanakan kehidupan ini. Peningkatan pencemaran kadmium di lingkungan terus meningkat dari tahun ke tahun, sehingga diperlukan suatu metode untuk mengatasi masalah tersebut salah satunya adalah dengan metode koagulasi. Metodekoagulasi adalah metode untuk mengurangi kadmium dalam air dengan menambahkan koagulan. Koagulan alamiah dapat diperoleh dari alam seperti tanaman kelor. Penelitian dan pengkajian tentang pemanfaatan tanaman kelor untuk mengurangi kadar kadmium dalam air merupakan salah satu cara menjaga dan memelihara amanat Allah SWT. 

Penelitian ini meliputi penentuan dosis optimum, waktu pengendapan optimum, dan pH optimum biji kelor dalam mengkoagulasi kadmium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis optimum biji kelor dalam mengkoagulasi kadmium adalah  50  ppm, waktu pengendapan optimum biji kelor dalam mengkoagulasi kadmium adalah  120  menit, dan pH optimum biji kelor dalam mengkoagulasi kadmium adalah pH 6. Biji kelor mampu mengkoagulasi kadmium sampai 62%.

Kata kunci: Biji Kelor, dan Kadmium

Jurnal Isolasi dan Identifikasi Asam Lemak pada Minyak Ikan lemuru

Abstrak
 
Mudawamah, U., 2007, Isolasi Asam Lemak pada Minyak Ikan Lemuru (Sardinella Longiceps) dengan Variasi Pelarut dan Identifikasi Menggunakan Kromatografi Gas-Spektroskopi Massa (KG-SM), Skripsi Jurusan kimia, Fakultas Sains dan Teknologi (UIN) Malang.

Pembimbing I  : Diana Candra Dewi, M.Si
Pembimbing II  : Munirul Abidin, M.Ag 
Pembimbing III : Akyunul Jannah, S.Si., MP. 


Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh  perbedaan variasi pelarut terhadap rendemen hasil isolasi asam lemak pada ikan lemuru dan untuk mengetahui jenis asam lemak hasil isolasi pada ikan lemuru (Sardinella Longiceps) menggunakan kromatografi gas-spektroskopi massa (KG-SM).

Pada penelitian ini sampel daging ikan lemuru yang telah dikeringkan diekstraksi dengan metode sokshlet menggunakan variasi pelarut: (petroleum eter, kloroform, etanol, campuran etanol:petroleum eter (1:5)). Minyak ikan yang diperoleh ditransesterifikasi dengan katalis BF3/metanol (katalis asam) terlebih dahulu sehingga diperoleh metil ester asam lemaknya. Senyawa hasil transesterifikasi dianalisis menggunakan kromatografi gas-spektroskopi massa (KG-SM).

Hasil analisis kromatografi gas dan spektra massa menunjukkan bahwa minyak ikan lemuru mengandung 45 komponen utama asam lemak ikan lemuru. Salah satunya asam lemak omega-3 serta asam lemak yang disinyalir merupakan turunan dari EPA dan DHA. Asam-asam lemak tersebut  adalah 9-12-15 asam oktadekatrinoat (asam omega-3), asam Eikosanoat dan11-asam eikosenoat (diduga turunan EPA), sedangkan 13-asam dokosenoat, dan asam dokosanoat (turunan dari DHA). 

Kata kunci: Identifikasi, Asam lemak, Minyak Ikan Lemuru
SILAHKAN DOWNLOAD JURNALNYA DISINI

Jurnal Penentuan Angka Asam Thiobarbiturat Dan Angka Peroksida Pada Minyak Goreng Hasil Pemurnian dengan Biji Kelor

PENENTUAN ANGKA ASAM THIOBARBITURAT DAN ANGKA PEROKSIDA PADA MINYAK GORENG BEKAS HASIL PEMURNIAN DENGAN KARBON AKTIF BIJI KELOR (Moringa oleifera, LAMK)

Siti Muallifah

ABSTRAK

Minyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok  manusia sebagai media pengolahan bahan makanan. Penggunaan minyak goreng  yang berulang-ulang dengan pemanasan pada suhu tinggi akan menghasilkan senyawa aldehida, keton, hidrokarbon, alkohol serta bau tengik, yang akan mempengaruhi mutu dan gizi bahan pangan yang digoreng.

Alternatif pengolahan minyak goreng bekas adalah melalui proses adsorpsi dengan karbon aktif dari biji kelor (Moringa oleifera, LAMK). Penelitian ini bertujuan untuk menurunkan kadar air, berat jenis, indeks bias, angka thiobarbiturat (TBA) dan angka peroksida yang terkandung dalam minyak goreng bekas dengan menggunakan biji kelor.

Metode  penelitian ini meliputi: (1) Preparasi biji kelor yang meliputi: dehidrasi, karbonisasi, dan aktivasi dengan NaCl 30 % dan pemanasan pada suhu 500 0C selama 2 jam. (2) pemurnian minyak goreng bekas, meliputi: penghilangan bumbu (despicing), netralisasi dan pemucatan (bleaching). (3) penentuan kadar air, indeks bias, berat jenis, angka TBA, dan angka peroksida minyak goreng baru, bekas dan hasil reprocessing. 

Hasil preparasi biji kelor dalam penelitian ini menghasilkan arang aktif biji kelor yang berupa serbuk berwarna hitam dan rapuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata kadar air minyak goreng baru sebesar 0,055 %, indeks bias sebesar 1,4576, berat jenis sebesar 0,898 g/mL, angka TBA sebesar 0 dan angka peroksida sebesar 0,8 meq/kg. Minyak goreng bekas mempunyai rerata kadar air sebesar 1,44 %, indeks bias sebesar 1,4603, berat jenis sebesar 0,929 g/mL, angka TBA sebesar 0,3588 dan angka peroksida sebesar 4,44 meq/kg, sedangkan minyak yang sudah diinteraksikan dengan karbon aktif biji kelor mempunyai rerata kadar air sebesar 0,08 %, indeks bias sebesar 1,465, berat jenis sebesar 0,906 g/mL, angka TBA sebesar 0,195 dan angka peroksida sebesar 2,44 meq/kg. Adanya proses pemurnian tersebut mampu menurunkan kadar air sebesar 94 %, indeks bias sebesar 2,5 %, berat jenis sebesar 0,07 %, angka TBA sebesar 4,7 % dan angka peroksida sebesar 46 %. 

Kata Kunci : Minyak Goreng Bekas, Karbon Aktif, Biji Kelor, Angka TBA, Angka Peroksida 
SILAHKAN DOWNLOAD JURNALNYA DISINI

Jurnal Efektivitas Bioflokulan Biji Kelor Dalam Mengurangi Kadar Cr(IV)

ABSTRAK
Mukarromah,  Lailatul.,  2008,  EFEKTIFITAS  BIOFLOKULAN  BIJI  KELOR (Moringa Oleifera Lamk.) Dalam MENGURANGI KADAR Cr (VI).
Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri (UIN) Malang.

  Pembimbing I  : Eny Yulianti, M.Si
  Pembimbing II  : Ahmad Barizi, M.A
  Pembimbing III  : Anton Prasetyo, M.Si

Kata Kunci: Kromium(VI), bioflokulan, Biji Kelor (Moringa Oleifera Lamk.).


Logam Cr(VI) merupakan  salah  satu  logam  berat  yang mempunyai  toksisitas tinggi  serta  dapat  menyebabkan  terjadinya  kanker.  Pencemaran  logam  Cr(VI) dilingkungan  perairan  disebabkan  semakin  banyaknya  industri  yang  membuang limbah di perairan tanpa mengolah terlebih dahulu sehingga menyebabkan terjadinya pencemaran  di  lingkungan  perairan  dan  bila  dikonsumsi  akan  menyebabkan
keracunan  terhadap  makhluk  hidup,  sebagaimana  dalam  QS  ar-Ruum/30:41.  Biji kelor  (Moringa Oleifera Lamk.) dikenal sebagai koagulan yang  tidak beracun, dapat diolah  secara  biologis  dan  ramah  lingkungan.  Penelitian  ini  bertujuan  untuk mengetahui jumlah dosis optimum dan waktu pengendapan optimum biji kelor dalam mengendapkan  ion  logam  Cr(VI).  Mengetahui  pH  larutan  optimum  untuk mengendapakan ion logam Cr(VI) menggunakan biji kelor. 

Penelitian  ini  dilakukan  pada  4  variasi  dosis  dari Moringa  oleifera  (0,  1000, 2500, 5000, 7500 ppm) dengan 6 variasi waktu pengendapan (0, 15, 30, 60, 90, 120) dengan 2 kali ulangan. Penelitian juga dilakukan pada 6 variasi pH larutan Cr(VI) (2, 3, 4, 5, 6, dan 8) setelah diketahui dosis dan waktu pengendapan optimum biji kelor. Efektivitas bioflokulan diukur dalam mg/L dan persen. 

Hasilnya  menunjukkan  bahwa  serbuk  biji  Moringa  oleifera  mampu menurunkan kadar Cr(VI) dalam  larutan. Efektivitas biokoflokulan Moringa oleifera pada  dosis  5000  ppm  dengan  waktu  pengendapan  120  menit  mampu menurunkan kadar  Cr(VI)  dalam  larutan  sebesar  14,3161  mg/L  atau  28,0098  %.  Efektivitas biokoflokulan Moringa oleifera pada pH 2 mampu menurunkan kadar Cr(VI) sebesar 15,3543 mg/L atau 30,63%. 
SILAHKAN DOWNLOAD JURNALNYA DISINI

Jurnal Efektivitas Koagulasi Ion Paraquat Menggunakan Biji Kelor



ABSTRAK


Khoiroh, Lilik Miftahul. 2008. Efektifitas Koagulasi Ion Paraquat (1,1-Dimetil,4,4-Bipiridilium) Menggunakan Biji Kelor (Moringa Oleifera Lamk).
Pembimbing I              : Eny Yulianti, M.Si
Pembimbing II            : Ahmad Barizi, MA
Pembimbing III           : Anton Prasetyo, M.Si


Paraquat selain dapat meningkatkan produktifitas pertanian juga dapat mencemari sistem perairan dan tanah, karena relatif stabil terhadap suhu, tekanan, pH normal dan mudah larut dalam air. Allah melarang manusia berbuat kerusakan dan memerintahkan agar menjaga keseimbangan alam, sebagaimana firman-Nya dalam al-Qur’an surat Al-A’raf/7: 56. Salah satu cara mengurangi pencemaran yang disebabkan paraquat, dapat dilakukan dengan koagulasi menggunakan biji kelor. Penelitian bertujuan untuk mengetahui efektifitas proses koagulasi ion paraquat menggunakan biji kelor.
Metode penelitian meliputi tiga tahapan. Pertama, optimasi metode spektrofotometri. Kedua, menentukan dosis dan waktu pengendapan optimum koagulasi paraquat menggunakan biji kelor. Parameter yang diamati adalah perubahan konsentrasi, pH dan konduktifitas. Ketiga, penentuan pH optimum koagulasi paraquat menggunakan biji kelor. Parameter yang diamati adalah perubahan konsentrasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa panjang gelombang maksimum paraquat tereduksi adalah 629,2 nm dengan waktu kestabilan tidak lebih dari 15 menit. Sensitivitas analisis paraquat tereduksi sebesar 0,2287 mg/L sedangkan batas deteksi sebesar 0,284 mg/L. Konsentrasi paraquat dapat menurun sebesar 86,60% pada dosis 15000 ppm. Waktu pengendapan optimum adalah 30 menit. Bertambahnya dosis dan waktu pengendapan, pH dan konduktifitas larutan semakin turun. pH berkisar pada pH 5 dan konduktifitas berkisar pada 6,8 – 7 mS/cm. pH optimum koagulasi adalah sekitar pH 5 dengan penurunan konsentrasi sebesar 86%.


Kata Kunci : Koagulasi, Paraquat, Biji Kelor, dan Konsentrasi.
SILAHKAN DONWLOAD JURNALNYA DISINI

Jurnal Efektivitas Biji Kelor Sebagai Koagulan Fosfat Dalam Limbah Cair Rumah Sakit

ABSTRAK

Khasanah,  Uswatun,  2008,  Efektifitas  Biji  Kelor  (Moringa  Oleifera,  LAMK) Sebagai Koagulan Fosfat Dalam Limbah Cair Rumah Sakit (Studi Kasus di RSU Dr.  Saiful Anwar Malang), 
 Skripsi,  Jurusan Kimia, Fakultas  Sains  dan  Teknologi,  Universitas  Islam  Negeri  (UIN) Malang.

Pembimbing utama  : Eny Yulianti, M.Si
Pembimbing agama  : Ahmad Barizi, MA

Kata Kunci: Fosfat, koagulan, biji kelor (Moringa oleifera, LAMK), limbah cair.
  
Konsentrasi  fosfat dalam  limbah cair yang berlebihan akan menyebabkan eutrofikasi dan ketidakseimbangan di perairan  sehingga banyak mikroorganisme yang  mati.  Kerusakan  lingkungan  ini  disebabkan  oleh  manusia  sendiri sebagaimana firman Allah Swt dalam Qs. ar-Rm 41: “Telah nampak kerusakan di darat dan di  laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan  kepada  mereka  sebahagian  dari  (akibat)  perbuatan  mereka,  agar mereka kembali (ke  jalan yang benar)”. Alternatif pengolahan  limbah cair dapat dilakukan dengan metode koagulasi menggunakan biji kelor. 

Penelitian  ini  dilakukan  di  laboratorium  IPL  RSU  Dr.  Saiful  Anwar Malang  pada  bulan  Oktober  2007-  Mei  2008.  Penelitian  ini  bertujuan  untuk mengetahui dosis optimum dengan variasi dosis 200, 250, 300, 350, 400 ppm dan waktu  pengendapan  optimum  biji  kelor  dalam  mengurangi  konsentrasi  fosfat limbah cair rumah sakit pada variasi waktu 0, 15, 30, 60, 90, dan 120 menit dan mengetahui  pH  optimum  pada  variasi  pH  2,  3,  4,  5  dan  6  untuk  mengurangi konsentrasi  fosfat menggunakan biji kelor. Efektifitas koagulan biji kelor diukur dalam satuan ppm dan persen.

Hasil  dari  penelitian  ini  menunjukkan  bahwa  kelor  serbuk  biji  kelor mampu menurunkan  konsentrasi  fosfat  total  pada  dosis  200  ppm  dengan waktu pengendapan  90 menit  sebesar  27,82 %  atau  8,068  ppm  dan  ortofosfat  sebesar 29,87 %  atau  3,195  ppm.  Efektifitas  biji  kelor  pada  pH  2 mampu menurunkan konsentrasi  fosfat  total  sebesar  52,15 %  atau  14,93  ppm  dan  ortofosfat  sebesar 56,70  %  atau  8,65  ppm.  

Penurunan  konsentrasi  fosfat  dalam  limbah  cair  ini disebabkan  adanya  gaya  tarik  menarik  antara  gugus  –NH3+  biji  kelor  dengan H2PO4- dalam limbah cair, hal ini dikarenakan adanya kandungan protein di dalam biji  kelor  yang  didukung  oleh  data  sekunder  FTIR.  Pemanfaatan  biji  kelor (habbรขn  mutarkibbรขn)  sebagai  koagulan  fosfat  membuktikan  kebesaran  Allah Swt, tiada penciptaan-Nya yang sia-sia walaupun itu sekecil biji kelor.
SILAHKAN DOWNLOAD JURNALNYA DISINI

Jurnal Uji Antibakteri Ekstrak Daun Teh Hasil Ektraksi Menggunakan Pelarut Akuades dan Etanol

Uji Efektivitas Antibakteri Ekstrak Kasar Daun Teh (Camellia sinensis L., v. assamica) Tua Hasil Ekstraksi Menggunakan Pelarut Akuades dan etanol 
Nurul Hidayati
 
ABSTRAK 
Telah  dilakukan  penelitian  tentang  uji  efektivitas  antibakteri  ekstrak  kasar  daun  teh  tua  hasil ekstraksi menggunakan pelarut akuades dan etanol. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan bahan alam sebagai antibakteri alami. Allah telah menjelaskan dalam al-Qur an surat An-Nahl [26] ayat 11 bahwa segala apa yang  ada di bumi untuk kemaslahatan manusia  termasuk  tumbuh-tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai pengobatan. Penelitian ini ingin mengetahui bahwa daun teh tua berpotensi sebagai antibakteri. 

Ekstraksi  daun  teh  tua  dilakukan  menggunakan  metode  maserasi  dengan   pelarut  akuades  dan etanol.  Masing-masing  ekstrak  dilakukan  identifikasi  golongan  senyawa  aktif  dalam  daun  teh  tua.  Uji  antibakteri pada penelitian ini dilakukan 2 tahap, yaitu tahap I uji antibakteri dari ekstrak akuades dan etanol pada  konsentrasi  30 mg/mL  untuk mendapatkan  ekstrak  terpilih.  Tahap  II  uji  antibakteri  dengan variasi  konsentrasi (30, 40, 50, 60, 70, dan 80 mg/mL) hasil dari pelarut terpilih untuk mencari konsentrasi terbaik.  

Hasil identifikasi ekstrak daun teh tua positif mengandung alkaloid, katekin dan tanin. Ekstrak yang lebih baik  sebagai  antibakteri  adalah  akuades,  dengan  nilai  diameter  zona  hambat  Micrococcus  luteus sebesar 6,33 mm dan Pseuodomonas fluorescens 4,00 mm. Uji efektivitas antibakteri pada bakteri M. luteus dan bakteri P. fluorescens dengan variasi konsentrasi tidak berpengaruh pada aktivitas antibakteri.   
Kata kunci: daun teh (C. sinensis L, v. assamica) tua, uji golongan senyawa aktif, uji antibakteri
Silahkan Download Jurnalnya disini

Jurnal Pemurnian Minyak Goreng Bekas Menggunakan Biji Kelor

ABSTRAK
PEMURNIAN MINYAK GORENG BEKAS (Jelantah) MENGGUNAKAN BIJI KELOR
(Moringaoleifera Lamk)
Moh. Taufiq, 2007.

Kebutuhan masyarakat terhadap minyak goreng semakin meningkat mencapai lebih dari 2,5juta ton pertahun, menyebabkan banyaknya minyak goreng bekas yang dihasilkan dan selama ini hanya dibuang percuma (sia-sia), sehingga diperlukan penelitian dengan tujuan untuk menurunkan kadar FFA, angka peroksida dan warna yang terkandung pada minyak goreng bekas menggunakan biji kelor (Moringaoleifera Lamk). Selain itu penelitian ini juga ingin mengetahui interaksi antara serbuk biji kelor dengan minyak goreng bekas.

Metode penelitian ini meliputi : Penghilangan bumbu (despicing) dan pemucatan (bleaching) dengan variabel waktu pengadukan (menit) dan dosis serbuk biji kelor (mg/g) dengan pemanasan pada suhu 70-100oC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase penurunan kadar FFA dan angka peroksida optimum terjadi pada penambahan dosis serbuk biji kelor 125 mg/200g, waktu pengadukan 45 menit. Kadar FFA mengalami penurunan sebesar 74,6%, dan angka peroksida sebesar 84,00%. Sedangkan warna minyak goreng mengalami peningkatan.

Untuk warna cerah (L) mengalami peningkatan sebesar 38,2%, warna merah (a*) 60,9%, dan warnakuning (b*) 58,26%. Interaksi yang terjadi antara serbuk biji kelor dengan zat-zat pengotor dalam minyak goreng bekas adalah melibatkan proses adsorpsi dan koagulasi. Fenomena tersebut terjadi karena banyaknya gugus aktif dalam protein serbuk biji kelor yang berasal dari polimer asam amino (NH2 dan COOH) seperti C=O, CH, R-O-Aromatik.

KataKunci: Minyakgoreng, FFA (free fatty acid), Angka Peroksida danWarna. Biji Moringa Oleifera Lamk sebagai bleaching minyak gorengbekas
Silahkan Download Jurnalnya disini

Studi Keseimbangan Adsorpsi Merkuri(II) yang Diimmobilisasi pada Matriks Polisilikat

ABSTRAK
 
Khalifah, Susi Nurul. 2007. Studi Keseimbangan Adsorpsi Merkuri(II) pada Biomassa Daun Enceng Gondok (Eichhornia crassipes) yang Diimmobilisasi pada Matriks Polisilikat. 
Skripsi, Jurusan Kimia Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang.

PembimbingI     : Diana Candra Dewi, M.Si, 
Pembimbing II   : Ahmad Barizi, M.A 
Pembimbing III  : Himmatul Barroroh, M.Si.

Pengikatan ion logam oleh biomassa mempunyai kelemahan yaitu mudah terdegradasi oleh mikroba, maka dilakukan immobilisasi pada biomassa tumbuhan. Penelitian ini difokuskan pada studi keseimbangan adsorpsi
merkuri(II) pada biomassa daun enceng gondok yang diimmobilisasi pada matriks polisilikat dan interaksi matriks dengan biomassa.
Interaksi matriks polisilikat dengan biomassa daun  enceng gondok ditentukan dengan menggunakan FTIR. Penentuan kapasitas adsorpsi, konstanta adsorpsi dan energi adsorpsi merkuri(II) dilakukan dengan cara menginteraksikan 25 ml larutan dengan konsentrasi, 20, 30, 40, 50, 60, 70, 80, 90, 100 dan 150 mg/L pada pH optimum selama 60 menit. Data hasil percobaan kemudian diolah menggunakan persamaan isotermis Langmuir dan Freundlich Hasil penelitian menunjukkan bahwa enceng gondok dapat mengadsorpsi logam merkuri(II). Sebagaimana Firman Allah Swt. dalam surat  Shaad ayat 27 dapat diketahui bahwa Allah Swt. menciptakan segala sesuatu ada manfaatnya.
 
Interaksi antara matriks polisilikat dengan biomassa daun enceng gondok terdapat dua kemungkinan, pertama  biomassa daun enceng gondok terjebak dalam matriks polisilikat dan merupakan interaksi yang paling dominan,  kedua interaksi terjadi antara situs aktif Si-OH dengan gugus NH2 dan COOH. Hal ini didasarkan dengan hilangnya spektra serapan Si-OH pada bilangan gelombang 3601,82 cm-1, 3503,45 cm-1, 3410,68 cm-1. Isotermis adsorpsi merkuri(II) pada biomassa daun enceng gondok (Eichhornia crassipes) yang diimmobilisasi pada matriks polisilikat mengikuti persamaan isotermis Langmuir dengan nilai R2 = 0,982, kapasitas adsorpsi (Xm) sebesar 4,806 x 10-5 mol/g, konstanta adsorpsi (K) 27130,85 mol/L dan energi adsorpsi (E) sebesar 25,46079 kJ/mol.

Kata kunci: merkuri(II), enceng gondok (Eichhornia crassipes), immobilisasi, matriks polisilikat.
 Silahkan Download jurnalnya disini

Absorpsi Merkuri (II) Yang diimmobilisasi pada matriks polisilikat menggunakan metode kolom

ABSTRAK

Krystiyanti, Kartika. 2008.  Adsorpsi Merkuri(II) Oleh Biomassa Enceng Gondok (Eichornia crassipes) Yang Diimmobilisasi Pada Matriks Polisilikat Menggunakan Metode Kolom. 
Pembimbing Utama : Himmatul Barroroh, M.Si,
Pembimbing Agama : Achmad Nashichuddin, MA.
Sistem adsorpsi dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu: metode kolom dan metode  batch. Metode kolom dipandang lebih  efektif karena kolom yang sudah digunakan dapat diregenerasi kembali. Biomassa mempunyai kelemahan karena mudah terdegradasi oleh mikroba dan akan menggumpal ketika dikemas di dalam kolom, sehingga perlu dilakukan immobilisasi biomassa enceng gondok pada matriks polisilikat.
Penelitian ini difokuskan pada penentuan kapasitas pertukaran ion dan perubahannya, dengan dilakukan regenerasi sebanyak 7 kali menggunakan larutan NaCl jenuh. Penentuan kapasitas adsorpsi merkuri(II) dengan variasi konsentrasi 25, 50, 75, 100, 125 dan 150 mg/L pada pH optimum 6 dan laju alir 3 mL/menit
dengan metode kolom. Penentuan laju alir optimum dengan variasi laju alir 0,5, 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 mL/menit pada pH  6 dan konsentrasi optimum 100 mg/L. Penentuan kapasitas adsorpsi merkuri(II) menggunakan metode kolom dan batch pada konsentrasi 20 mg/L dengan laju alir 2 mL/menit dan waktu pengocokan 50
menit.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa enceng gondok mampu mengadsorpsi logam merkuri(II) melalui mekanisme pertukaran ion. Kapasitas pertukaran ion yang diperoleh sebesar 13,75 mmol per gral adsorben, dengan menggunakan ion Na+ yang dapat dipertukarkan dengan ion H+. Kapasitas pertukaran ion mengalami penurunan setelah diregenerasi sebanyak 7 kali dengan mengikuti persamaan y =13,27e-0,2723x, y adalah kapasitas  pertukaran ion dan x adalah jumlah regenerasi. Kapasitas adsorpsi Hg2+ optimum sebesar 9,0937 mg/g, sedangkan laju alir optimumnya adalah 3 mL/menit. Adsorpsi merkuri(II) menggunakan metode kolom lebih baik dari pada metode batch dengan nilai kapasitas adsorpsi metode kolom sebesar 3,9375 mg/g dan metode batch sebesar 1,775 mg/g, artinya kapasitas adsorpsi metode kolom 2 kali lebih besar dari pada metode batch.

Kata kunci  : Adsorpsi, Merkuri(II), Biomassa, Enceng Gondok (Eichornia
crassipes), Immobilisasi, Matriks Polisilikat, Metode Kolom.
Silahkan Download Jurnalnya Disini 

Studi Kesetimbangan Adsorpsi Merkuri (II)

ABSTRAK
 
al Ayubi Chalid M. 2007.  Studi Keseimbangan Adsorpsi Merkuri(II) pada Biomassa Daun Enceng Gondok (Eichhornia crassipes).  
Skripsi, Jurusan kimia Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang.

Pembimbing I  : Himmatul Barroroh, M.Si
Pembimbing II : Diana Candra D, M.Si
Pembimbing III: Munirul Abidin, M.Ag
 
Penelitian tentang adsorpsi ion logam dengan menggunakan biomassa daun enceng gondok telah banyak dilakukan. Ion logam yang pernah diteliti adalah Cr, Cd, Pb dan Ni, akan tetapi penelitian dengan menggunakan ion logam Hg2+ belum pernah dilakukan.dalam penelitian ini dikaji tentang keseimbangan adsorpsi Hg2+ pada biomassa daun enceng gondok. Mengingat pH larutan sangat berpengaruh pada adsorpsi ion logam oleh biomassa, maka dalam penelitian ini dikaji pula penentuan pH optimum terhadap adsorpsi Hg2+.  Penentuan pH optimum dilakukan dengan cara menginteraksikan 25 ml ion logam Hg2+ 60 mg/L dengan 0,1 g biomassa daun enceng gondok (Eichhornia crassipes) selama 60 menit pada variasi pH 2; 3; 4; 5; 6; 6,4; 6,7; 7 dan 8. sebagai kontrol dibuat larutan kotrol untuk mengetahui kelarutan Hg2+ pada berbagai pH.
Penetuan kapasitas adsorpsi, konstanta adsorpsi dan energi adsorpsi, dilakukan dengan cara menginteraksikan biomassa daun enceng gondok (Eichhornia crassipes) dengan ion logam Hg2+ dengan variasi konsentrasi 20, 30, 40, 50, 60, 70, 80, 90, 100 dan 150 mg/L selama 60 menit pada pH optimum. Data hasil percobaan kemudian diolah menggunakan persamaan isotermis Langmuir dan Freundlich Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH optimum adsorpsi adalah 6. 

Isotermis adsorpsi merkuri(II) pada biomassa daun enceng gondok (Eichhornia crassipes) mengikuti persamaan isotermis Langmuir dengan nilai R2 = 0,982, dari persamaan isotermis Langmuir didapatkan kapasitas adsorpsi (Xm) sebesar 4,806 x 10-5 mol/gr dengan konstanta adsorpsi (K) 27130,85 L/mol dan energi adsorpsi (E) sebesar 25,46079 kJ/mol.  

Kata kunci : Merkuri, Enceng Gondok (Eichhornia crassipes), pH Optimum, 
Silahkn download Jurnal ini lengkap disini

Jurnal Studi Kenetika Adsorpsi Merkuri (II) Yang Diimmobilisasi Pada Matrik Polisilikat

ABSTRAK
Rosyidah, Halimatur., 2008.  Studi Kinetika Adsorpsi Merkuri (II) Pada Biomassa Daun Enceng Gondok  (Eichhornia crassipes) Yang Diimmobilisasi Pada Matriks Polisilikat.  Skripsi, Jurusan Kimia Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang.

 Pembimbing Utama : Himmatul Barroroh, M.Si,
 Pembimbing Agama : Munirul Abidin, M. Ag
 
Kata Kunci: Kinetika, Adsorpsi, Merkuri  (II), Biomassa, Enceng Gondok
(Eichhornia Crassipes),  Immobilisasi, Matriks Polisilikat. 

Merkuri merupakan salah satu logam yang banyak manfaatnya, tetapi akan juga membahayakan lingkungan dan kesehatan jika penggunaannya melebihi ambang batas. Selain merkuri logam yang dapat membahayakan dan mempunyai banyak manfaat adalah besi. Firman Allah: “Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu)”  (Qs. al-Hadฮฏd/57: 25).  Metode alternatif yang digunakan untuk mengurangi pencemaran oleh merkuri (II), salah
satunya melalui metode adsorpsi dengan biomassa daun enceng gondok yang diimmobilisasi. Pengikatan adsorbat oleh  adsorben merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kecepatan biomassa daun enceng gondok yang diimmobilisasi pada matriks polisilikat dalam proses adsorpsi.
Interaksi antara biomassa daun enceng gondok yang terimmobilisasi pada matriks polisilikat ditentukan dengan menggunakan FTIR. Penentuan model kinetika adsorpsi pada biomassa daun enceng gondok yang terimmobilisasi pad` matriks polisilikat dilakukan dengan cara menginteraksikan 25 ml larutan HgCl2 dengan biomassa yang telah terimmobilisasi dengan variasi waktu 5, 10, 20, 30, 60, 90, 120, 150 menit pada suhu 27 ยบC.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa gugus fungsi yang berinteraksi dengan Hg2+ pada biomassa daun enceng gondok yang terimmobilisasi pada matriks polisilikat adalah  O-H dari Si-OH dan O-H dari biomassa, yang ditandai adanya kenaikan intensitas pada bilangan gelombang 3508,27 cm-1. Pergeseran yang terjadi pada bilangan gelombang 2955,71 cm-1 yang merupakan daerah C-H juga dimungkinkan karena adanya interaksi antara logam Hg2+ dengan C-H. Adanya perubahan vibrasi pada pada bilangan gelomabang 620,07 cm-1 menjadi 1088,74 cm-1 dari vibrasi ulur Si-O-Si simetri menjadi vibrasi ulur Si-O-Si asimetri juga dimungkinkan karena adanya interaksi antara logam Hg2+ dengan Si-O-Si. Model kinetika adsorpsi pada biomassa daun enceng gondok yang terimmobilisasi pada matriks polisilikat mengikuti model kinetika Langmuir-Santosa dengan membagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap I, II, III dengan nilai konstanta laju 288 x 10-4 pada menit 0 sampai menit ke 10, sedangkan pada menit ke 5 sampai ke 30 mempunyai konstanta laju yaitu 58 x 10-4, dan pada menit ke 60 sampai 150 konstanta lajunya adalah 3 x 10-4.
Download Jurnal Kimia ini Lengkap disini

Jurnal Studi Kenetika Absorpsi Merkuri (II)

 ABSTRAK 

Rohmawati, Lilik. 2008.  Studi Kinetika  Adsorpsi Merkuri (II) Pada Biomassa Daun Enceng Gondok (Eichhornia crassipes)
Skripsi, Jurusan Kimia Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang.

 Pembimbing Utama : Himmatul Barroroh, M.Si
 Pembimbing Agama : Munirul Abidin, M.Ag

Kata Kunci: Enceng Gondok (Eichhornia crassipes), Merkuri, Kinetika Adsorpsi
 

Merkuri, selain memberikan dampak positif, juga memberikan dampak negatif pada manusia. Merkuri merupakan suatu logam, selain merkuri logam lainnya adalah besi. Kedua unsur logam ini, dapat berdampak positif sekaligus negatif. Sebagaimana firman Allah, “Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu)”  (Qs. al-Hadรฎd/57: 25). Salah satu cara untuk mengurangi dampak negatif yang disebabkan merkuri (II), dapat dilakukan dengan metode adsorpsi menggunakan biomassa daun enceng gondok. Penelitian ini akan mempelajari karakteristik ikatan antara merkuri (II) dengan biomassa daun enceng gondok serta model kinetika adsorpsi.
Penelitian ini meliputi penentuan perubahan karakter ikatan pada biomassa daun enceng gondok sebelum dan sesudah diinteraksikan merkuri (II) dengan menggunakan FTIR. Kemudian dilanjutkan dengan penentuan model kinetika adsorpsi dengan cara menginteraksikan 25 ml larutan merkuri (II) dengan konsentrasi 100 mg/L pada pH 6 selama 5, 10, 20, 40, 60, 90, 120 dan 150 menit  analisis merkuri (II) dilakukan dengan menggunakan AAS. 
Hasil analisis karakter ikatan yang diperoleh dari  spektra FTIR biomassa daun enceng gondok sebelum dan sesudah diinteraksikan dengan merkuri (II) dapat diperkirakan bahwa tipe ikatan antara situs aktif dengan merkuri (II) beraneka ragam antara lain M-N, M-CO, COOM, OM, dengan M adalah merkuri (II). Situs aktif yang terdapat pada biomassa secara kualitatif adalah heterogen. Model kinetika adsorpsi merkuri (II) pada biomassa daun enceng gondok secara kuantitatif dapat dijelaskan melalui model kinetika Langmuir pada tiap tahap laju linier. Pada tahap I nilai konstanta laju adsorpsi (k) = 4,1.10-2 menit-1, konstanta keseimbangan (K) = 287,35 (mol/L) -1, energi adsorpsi ( Eads) = 14,119 kJ/mol, tahap II nilai konstanta laju adsorpsi (k) = 8.10-4 menit -1, konstanta keseimbangan (K) =2381,4 (mol/L) -1, energi adsorpsi ( Eads) = 19,394 kJ/mol dan tahap III nilai konstanta laju adsorpsi (k) = 4.10-5 menit -1, konstanta keseimbangan (K) = 2602,1 (mol/L)-1, energi adsorpsi ( Eads) sebesar 19,615 kJ/mol. Berdasarkan nilai energi adsorpsi dapat diketahui bahwa ikatan yang terjadi antara merkuri (II) dengan biomassa daun enceng gondok kebanyakan berikatan secara fisisorpsi.
Silahkan Download Jurnal Lengkap disini

Jurnal Uji Aktivitas Antioksidan Alga merah

ABSTRACT

TEST THE ACTIVITY Of ANTIOXIDANT OF CARRAGEENAN IN RED SEAWEED 
Eucheuma spinosum and Gracillaria verrucosa
Chemistry Department, Science and Technology Faculty Islamic State University of Malang, 2009

Ocean research as natural weath has a great oppurtinity to be useful. Allah has explained in Al-Qur’an section An-Nahl subsection 14 “That is HIM Allah who defeates ocean for you in order to eat from it fresh meat of fish, and you take of the ocean the jewelry you wear and you see boat sailing on it and you take benefit of god blessing and you be grateful”. One of them is red seaweed. The red seaweed that has been used is the kind of Eucheuma spinosium and Gracillaria verrucosa. The aim of the research is to know the activities of crude extract antioxidant and carrageenan active faction in red seaweed of the kind  of Eucheuma spinosium and Gracillaria verrucosa with DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrasil) methode.

Carrageenan extraction is executed with maceration methode by using ethanbol, quality identification test of carrageenan is executed by using KLT separation methode. Antioxidant activities  test uses DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrasil) methode with varietes concentration. 

Research result indicates that red seaweed  Eucheuma spinosum has water level 12,01% and Gracillaria verrucossa 12,08%. The sample is 35% for Eucheuma spinosum and 25,4 % for Gracillaria verrucossa. In KLT test has gotten spot of carrageenan with the values of Rf 0,74 in each red seaweed as the standard that uses water:methanol movement phase (5:1v/v ). Carrageenan crude extract in red seaweed of the kind Eucheuma spinosum, Gracillaria verrucossa, vitamine C and BHT has increasing concentration in every antioxidant activities. Crude extract antioxidant activities of Eucheuma spinosum is 83,37% in 750 ppm, Gracillaria verrucosa is 85,79% in 750 ppm, vitamine C is 83,03% in 500 ppm and BHT is 77,79% in 350 ppm. Antioxidant activities carrageenan extract active faction in 750 ppm of Eucheuma spinosum is 54,04%, Gracillaria verrucosa is 55,35% and standard is 38,12%.


Keyword : carrageenan, red seaweed Eucheuma spinosum, red seaweed Gracillaria verrucossa, antioxidant.

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN KARAGINAN DALAM ALGA MERAH JENIS 
Eucheuma spinosum dan Gracillaria verrucossa

Melka Nurul Hijaz
  
ABSTRAK

Sumber daya laut merupakan kekayaan alam yang memiliki peluang besar untuk dimanfaatkan. Allah telah menjelaskan dalam al-Qur’an surat An-Nahl [16] ayat 14; ”Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.”. Salah satunya adalah alga merah. Alga merah yang digunakan adalah jenis Eucheuma spinosium dan Gracillaria verrucosa.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak kasar dan fraksi aktif karaginan dalam alga merah jenis Eucheuma spinosum dan Gracillaria verrucosa dengan metode DPPH (1,1-difenil-
2-pikrilhidrasil).
Ekstraksi bahan aktif ekstrak karaginan dilakukan dengan metode maserasi menggunakan  etanol, uji identifikasi kualitatif karaginan dilakukan dengan  menggunakan metode pemisahan KLT. Uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH ((1,1-difenil-2-pikrilhidrasil) dengan berbagai konsentrasi. 
Hasil penelitian menunjukkan bahwa alga merah Eucheuma spinosium memiliki kadar air 12,01% dan Gracillaria verrucosa 12,08%. Rendemen yang dihasilkan adalah sebesar 35% untuk Eucheuma spinosium dan 25,4% untuk Gracillaria verrucosa. Pada uji KLT telah didapatkan satu noda senyawa karaginan dengan nilai Rf 0,74 pada masing-masing alga merah serta standart yang menggunakan fase gerak metanol:air (5:1v/v). 
Ekstrak kasar karaginan dalam alga merah jenis Gracillaria verrucosa, vitamin C serta BHT mengalami peningkatan konsentrasi pada semua perlakuan sehingga menyebabkan peningkatan aktivitas antioksidan. Adapun aktivitas  antioksidan ekstrak kasar yang diperoleh adalah Eucheuma spinosum pada 750 ppm sebesar 83,37%, Gracillaria verrucosa pada 750 ppm sebesar 85,79%, vitamin C pada 500 ppm sebesar 83,03% dan BHT pada 350 ppm sebesar 77,34%. Aktivitas antioksidan ekstrak fraksi aktif karaginan pada konsentrasi 750 ppm yang diperoleh adalah Eucheuma spinosum sebesar 54,04%, Gracillaria verrucosa sebesar 55,35% dan standar sebesar 38,12%.

Kata Kunci : karaginan, Alga Merah Eucheuma spinosium, Alga Merah Gracillaria verrucosa, antioksidan.
Download Jurnal Lengkap disini

Jurnal Pengaruh Ekstrak Kasar Senyawa Alkaloid Terhadap Aktivitas Enzim Lipase

ABSTRAK

Kholifah, N., 2008,
Pengaruh Ekstrak Kasar Senyawa Alkaloid dari Daun Dewa (Gynura speudo-china) Terhadap Aktivitas Enzim Lipase.  
Pembimbing Utama    : Diana Candra Dewi, M.Si
Pembimbing Pendamping  : Ach. Nashichuddin, MA

Kata kunci: Daun dewa, alkaloid, enzim lipase, inhibitor

Produksi enzim lipase dalam tubuh yang berlebih dapat menyebabkan obesitas yang menimbulkan berbagai  penyakit, maka diperlukan suatu penghambat atau inhibitor untuk menghambat kerjanya atau aktivitasnya.
Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan bahan alam sebagai inhibitor enzim lipase alami. Allah telah menjelaskan di dalam al-Qur’an surat An-Nahl [26] ayat 11 bahwa segala apa yang ada di bumi  untuk kemaslahatan manusia termasuk tumbuh-tumbuhan yang dapat dimanfaatkan  sebagai pengobatan. Penelitian ini ingin mengetahui bahwa daun dewa yang merupakan tumbuhan semak semusim mempunyai senyawaan yang dapat menghambat aktivitas enzim lipase.
Ekstraksi bahan aktif ekstrak kasar daun dewa dilakukan dengan metode sokhlet menggunakan metanol, uji identifikasi kualitatif alkaloid dilakukan dengan menggunakan metode pemisahan KLT dengan pereaksi Dragendroff. Produksi enzim lipase dikulturkan dari bakteri  Bacillus subtilis, uji pengaruh ekstrak kasar daun dewa terhadap aktivitas enzim lipase dilakukan pada kondisi pH, waktu inkubasi dan konsentrasi substrat optimum dengan metode titrasi asam basa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa  hasil  ekstrak  daun  dewa 3,84355 gram dari 60 gram sampel. Di  dalam daun dewa terdapat senyawa alkaloid dengan munculnya spot berwarna jingga dengan Rf 0,77. Kondisi optimum aktivitas enzim lipase pada pH 7, waktu inkubasi menit ke-8 dan konsentrasi substrat pada konsentrasi 2,5 %. Konsentrasi ekstrak kasar daun dewa optimum dalam menghambat aktivitas enzim lipase adalah 60 mg/10 ml (aq) dengan aktivitas 1,25 (±ยต mol/ml.menit).
Download jurnal lengkap disini

Jurnal Isolasi dan Identifikasi Kitin, Kitosan dari Cangkang Hewan Mimi

ABSTRAK RIFAI, DEWI NUR RIZQIYAH, 2007,  

Isolasi dan  Identifikasi Kitin, Kitosan dari  Cangkang  Hewan  Mimi  (Horseshoe  Crab)  Menggunakan Spektrofotometri Infra Merah.
Pembimbing I   : Akyunul Jannah, MP
Pembimbing II  : Ach. Nashichuddin, M.A
Pembimbing III  : Himmatul Barroroh, M.Si

         
Penelitian  tentang  pengisolasian  kitin  telah  banyak  dilakukan  pada cangkang  rajungan  dan  cangkang  udang.  Konsentrasi  reagen  yang  digunakan untuk mengisolasi  kitin  pada  cangkang  rajungan  dan  cangkang  udang  berbeda.
Dilihat dari segi kekerasan cangkangnya, cangkang hewan mimi  lebih keras dari pada  cangkang  rajungan  dan  cangkang  udang  sehingga  perlu  dilakukan metode isolasi kitin dari cangkang hewan mimi yang sesuai. 
Metode  penelitian  yang  digunakan  pada  penelitian  ini  ada  3  tahap. Pertama deproteinasi dengan variasi konsentrasi reagen NaOH 3,5 %, 4,5 %, 5,5 %, 6,5 % dan 7,5 %, kedua demineralisasi dengan variasi konsentrasi reagen HCl 1 M, 1,5 M, 2 M, 2,5 M, dan 3 M, ketiga deasetilasi dengan konsentrasi NaOH 50
%. Uji karakteristik kitin dan kitosan hasil isolasi dilakukan dengan IR. 
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi optimum  reagen NaOH pada proses deproteinasi sebesar 4,5 % dengan konsentrasi optimum protein yang dilepaskan  sebesar  601  ppm.  Konsentrasi  optimum  reagen  HCl  pada  proses demineralisasi  adalah  2,5 M  dengan  kadar  abu  yang  tersisa  dalam  kitin  sebesar 0,972 %.  Perbedaan  spektra  IR  pada  cangkang  hewan  mimi,  kitin  dan  kitosan adalah  :  pada  spektra  IR  cangkang  hewan  mimi  terdapat  serapan  OH intermolekuler,  NH  amida  sekunder,  C=O  amida  sekunder  dan  NH  amina sekunder. Pada  spektra  IR kitin  serapan NH  amina  sekunder hilang dan muncul serapan  C-O  asimetris  eter  alifatik,  sedangkan  pada  spektra  IR  kitosan  serapan OH  intermolekuler,  CH3  dan  C=O  amida  sekunder  hilang  dan muncul  serapan amina  primer.  Derajat  deasetilasi  (D%)  kitin  dan  kitosan  hasil  isolasi  dari cangkang hewan mimi berturut-turut sebesar 45,4 % dan 50,5 %.

Kata kunci  :  hewan mimi, kitin dan kitosan.
Download Jurnal Lengkap disini

Thursday, January 10, 2013

Jurnal Pengaruh Lama Fermentasi Terhadap Kadar Alkohol

ABSTRACT

Hasanah, H., 2008, 
The Influence of Long Fermentation to the Alcohol Level’s of Black Sticky Rice (Oryza sativa  L var forma glutinosa)  and Cassava (Manihot utilissima Phol) Tapai. Thesis Chemistry Department, Sciences and Technology Faculty of The State Islamic University (UIN) Malang.

Main advisor  : Akyunul Jannah, S.Si, MP
Religion advisor  : Munirul Abidin, M.Ag 
Keywords  : Fermentation, Alcohol level’s, Tapai
  
Tapai is one kind of fermentation productions. MUI stated that foods and drinks which contain alcohol more than 1 % is not allowed to consume, and if it is over, those foods and drinks are categorized haram.  This research is aimed to know the the influence of long fermentation to ethanol level’s of black sticky rice (Oryza sativa L var forma glutinosa) and cassava (Manihot utilissima Phol) tapai. The method that is used to separate the two or more component of volatile and non volatile from tapai is called distillation while to analyze an ethanol level used gas chromatography (GC) method. 

The samples of the two tapai’s were fermented for about 24, 48, 72, 96 and 120 hours. Those tapai were mashed and added the aquades. The mixed materials were distillated, then entered into the bottle and considered as gram unit. The considered distillations were being analyzed used gas chromatography (GC) method. To examine the data which differentiate the base concentration of alcohol (%) in black sticky rice and cassava tapai since fermentation process which were analyzed by variants analysis (ANOVA). In the next experiment, if there was different significant result, then continued by the test of BNT which the level for about 1%.
The result of the research showed that there is the influence of long fermentation to ethanol level’s of black sticky rice (Oryza sativa L var forma glutinosa) and cassava (Manihot utilissima  Phol)  tapai. An ethanol level’s of black sticky rice tapai respectively 0.388 %, 1.176 %, 1.056 %, 3,884% and 7.581 %. Fermentation’s period was for about 96 and 120 hours and it was provided an indeed influence (p < 0,01) to the cassava ethanol level’s among the period of long fermentation. The level of cassava ethanol was 0.844%, 2.182%, 4.904%, 6.334% and 11.811%. The long fermentation was for about 120 hours and it was an indeed influence (p < 0,01) to the level of cassava’s ethanol among the period of long fermentation. From the test of BNT there were significant differential ethanol’s level between black sticky rice and cassava tapai.  
Silahkan download jurnal disini

Jurnal Efektivitas Penggunaan Asam Sitrat Dalam Pembuatan Gelatin.pdf

Fatimah, D., 2008,  
Efektivitas Penggunaan Asam Sitrat  Dalam Pembuatan Gelatin Tulang Ikan Bandeng (Chanos-chanos Forskal). 
Pembimbing Utama  : Akyunul Jannah, S.Si, M.P
Pembimbing Agama  : Munirul Abidin, M.Ag


ABSTRAK
 
Tulang ikan bandeng merupakan  by-product perikanan yang dapat diperoleh dari industri pengolahan ikan. Selama ini tulang ikan bandeng masih belum termanfaatkan. Guna meningkatkan nilai ekonominya tulang ikan bandeng berpotensi sebagai bahan baku pembuatan gelatin halal. Gelatin yang beredar dipasaran, mayoritas terbuat dari tulang dan kulit sapi ataupun babi. Bagi umat muslim, perlu mewaspadai perihal kehalalan gelatin tersebut. Sebagai alternatifnya dapat digunakan tulang dan kulit ikan yang sudah jelas kehalalannya sebagai bahan  baku pembuatan gelatin. Gelatin merupakan hasil hidrolisis parsial kolagen yang diperoleh melalui ekstraksi dalam air panas yang dikombinasikan dengan perlakuan asam atau basa. Gelatin dapat berfungsi sebagai pengemulsi (emulsifier) dan penstabil (stabilizer) dalam sistem emulsi. Gelatin dapat dimanfaatkan dalam berbagai produk pangan maupun non pangan.
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari salah satu alternatif pembuatan gelatin halal dengan pemanfaatan tulang ikan bandeng yaitu sebagai bahan baku dengan proses asam, serta mengetahui konsentrasi asam sitrat dan lama perendaman optimum terhadap produksi dan karakteristik gelatin yang dihasilkan.
  
Rancangan percobaan yang digunakan adalah yang pertama penentuan konsentrasi asam sitrat optimum dengan variasi konsentrasi 1 %, 3 %, 5 %, 7 % dan 9 %. Kedua adalah penentuan lama perendaman optimum menggunakan konsentrasi optimum hasil penelitian dengan variasi waktu 12 jam, 24 jam, 32 jam, 48 jam dan 60 jam. Karakterisasi gelatin dilakukan dengan menentukan beberapa sifat fisik maupun kimia gelatin. Parameter yang diamati adalah kadar air, kadar abu, kadar protein, kekuatan gel, titik leleh, warna, aroma dan rasa. Identifikasi gugus fungsi gelatin dilakukan pada sample terbaik menggunakan Spektroskopi FT-IR. Data hasil uji sifat-sifat gelatin yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Untuk menentukan perlakuan terbaik dilakukan dengan menggunakan metode de garmo.
Konsentrasi optimum asam sitrat untuk ekstraksi gelatin adalah 9 % dengan lama perendaman 48 jam. Gelatin yang dihasilkan memiliki kadar air sebesar 6,68 %, kadar abu 0,033 %, kadar protein 9,56 %, titik leleh 71,83 oC, kekuatan gel 38,72 mm/g.dt, warna 4,23, aroma 3,0 dan rasa 2,88 dengan rendemen sebesar 9,74 %. Berdasarkan spektra FT-IR gelatin tulang ikan bandeng, gugus fungsi yang dapat diidentifikasi diantaranya adalah gugus O–H, N–H, C–N, C=O & C–H.  

Kata Kunci : Tulang Bandeng, Hidrolisis, Asam Sitrat, Kolagen dan Gelatin
Silahkan download jurnal disini