Sikap Orde Baru terhadap ilmu sosial boleh dikatakan ambivalent—antara memajukan dan mencurigai. Karena Orde Baru menjadikan pembangunan sebagai salah satu dasar legitimasinya, tentu saja pendekatan akademis diperlukan. “Developmentalisme“ yang teknokratis dari Orde Baru memang memerlukan ilmu sosial. Tetapi ternyata masalahnya tidak sesederhana ini. Soalnya ialah Orde Baru, seperti halnya dengan Demokrasi Terpimpin yang digantikannya, adalah sebuah “negara serakah”. Kedua negara ini tidak puas dengan monopoli politik dan ekonomi saja. Ia juga ingin menguasai kesadaran masyarakat dan ingatan kolektif bangsa. Keduanya menampilkan diri dan sekaligus bertindak sebagai pemegang hegemoni makna dan dengan begini juga tampil sebagai penguasa wacana. Negaralah yang menentukan makna setiap konsep politik dan kemasyarakatan. Kita bisa mengatakan demokrasi, tetapi negaralah yang menentukan makna dari demokrasi itu. Demi untuk penyesuaian makna yang telah dikuasai inilah, masyarakat harus ikut P4, melalui bimbingan dan pengawasan BP7.
Showing posts with label Umum. Show all posts
Showing posts with label Umum. Show all posts
Monday, December 24, 2012
Refilosofi Kebudayaan Pergeseran Pascastruktural
Kalau ada konsep yang paling polluted dalam ranah sosial budaya, maka salah satunya adalah konsep kebudayaan. Betapa tidak? Istilah kebudayaan ini digunakan oleh semua orang, semua disiplin ilmu pengetahuan —khususnya sosial budaya— untuk kepentingan yang beraneka ragam. Ahli fi lsafat menggunakan istilah ini untuk menggambarkan manusia sebagai makhluk yang berakal budi sehingga pembedaan antara yang benar dan salah menjadi absah dalam kehidupan, keanekaragaman manusia di muka bumi dibawa ke dalam ruang universalitas, yang mana aturan-aturan mengenai “sebagaimana adanya” diterjemahkan lebih luas menjadi “sebagaimana seharusnya”.
Bentuk-bentuk kekuasaan otoriter yang absah dalam konteks keanekaragaman kebudayaan menurut sarjana antropologi mungkin menjadi korup menurut kacamata fi lsafat karena kekuasaan yang seharusnya adalah demokratis yang menyejahterakan manusia. Para seniman dan sastrawan tak kalah banyak menggunakan istilah kebudayaan ini. Bahkan, kerap kali kita menemukan istilah kebudayaan dianggap identik dengan seni
dan sastra, seni dan budaya dianggap kata tunggal. Bagi mereka, karya seni dan sastra adalah puncak kebudayaan. Kebebasan manusia dalam berpikir dan bertindak menjadi gagasan primadona yang seyogianya tidak terkurung dalam batas-batas.
Upaya mencari kebebasan kerap kali menjadi kegelisahan yang tak habis-habisnya. Selain itu, tak kurang para tokoh tertentu —meski keahliannya jauh kaitannya dari kebudayaan— dibaiat sebagai budayawan sehingga dianggap sahih untuk menyampaikan pidato kebudayaan di forum terhormat di Bentara Budaya atau Taman Ismail Marzuki.
dan sastra, seni dan budaya dianggap kata tunggal. Bagi mereka, karya seni dan sastra adalah puncak kebudayaan. Kebebasan manusia dalam berpikir dan bertindak menjadi gagasan primadona yang seyogianya tidak terkurung dalam batas-batas.
Upaya mencari kebebasan kerap kali menjadi kegelisahan yang tak habis-habisnya. Selain itu, tak kurang para tokoh tertentu —meski keahliannya jauh kaitannya dari kebudayaan— dibaiat sebagai budayawan sehingga dianggap sahih untuk menyampaikan pidato kebudayaan di forum terhormat di Bentara Budaya atau Taman Ismail Marzuki.
Download Buku Refilosofi Kebudayaan Pergeseran Pascastruktural
Free Download Buku Obrolan Nusantara
Udara politik di Indonesia semakin pengab dari waktu ke waktu. Rakyat menjadi kehilangan harapan untuk dapat menggapai hidup yang lebih sejahtera. Hampir semua lembaga publik sudah tidak dapat dipercaya. Rakyat sebagai pemilik syah dari negara bebas bersuara tetapi tanpa daya. Wakil rakyat tak acuh terhadap rakyat yang memberinya mandat. Situasi ini secara ringkas dapat dikatakan sebagai jaman “kafilah menggonggong, anjing berlalu.”
Meskipun saya selalu dinasehati oleh kakak yang juga teman diskusi, Bondan Gunawan, bahwa seperti apapun keadaannya, rakyat tidak salah dan tidak boleh dipersalahkan, tetapi menurut saya andil rakyat terhadap terbentuknya kondisi saat ini juga besar. Lamanya situasi seperti ini berlangsung juga tidak terlepas dari sikap mental masyarakat. Selalu merasa diri tidak berdaya dan bersikap menunggu datangnya hari baik, pemimpin yang jujur, tegas, tetapi adil, jaman keemasan atau situasi menyenangkan lainnya. Selama perjalanan saya ke berbagai penjuru negeri ini, saya jelas mendengar jeritan rakyat yang tak pernah terdengar. Menjeritlah dengan daya sehingga ada yang mendengar!
Perubahan harus dimulai dari cara kita memandang persoalan dan lingkungan di sekitar kita. Hari baik tidak akan pernah datang bila kita sendiri tidak menjemputnya. Pemimpin yang jujur, tegas, tetapi adil itu tidak akan pernah datang kecuali kita mempersiapkan diri menjadi pemimpin itu. Jangan berharap jaman keemasan akan datang jika kita hanya menunggu. Kitalah yang membuat semua itu mungkin terjadi. Berhentilah menunggu. Mulailah mengerjakan sesuatu yang diyakini dapat membantu mempercepat datangnya hari baru yang lebih bermutu. Jaman keemasan akan datang bila cara kita berpikir dan bertindak adalah berkualitas emas.
Meskipun saya selalu dinasehati oleh kakak yang juga teman diskusi, Bondan Gunawan, bahwa seperti apapun keadaannya, rakyat tidak salah dan tidak boleh dipersalahkan, tetapi menurut saya andil rakyat terhadap terbentuknya kondisi saat ini juga besar. Lamanya situasi seperti ini berlangsung juga tidak terlepas dari sikap mental masyarakat. Selalu merasa diri tidak berdaya dan bersikap menunggu datangnya hari baik, pemimpin yang jujur, tegas, tetapi adil, jaman keemasan atau situasi menyenangkan lainnya. Selama perjalanan saya ke berbagai penjuru negeri ini, saya jelas mendengar jeritan rakyat yang tak pernah terdengar. Menjeritlah dengan daya sehingga ada yang mendengar!
Perubahan harus dimulai dari cara kita memandang persoalan dan lingkungan di sekitar kita. Hari baik tidak akan pernah datang bila kita sendiri tidak menjemputnya. Pemimpin yang jujur, tegas, tetapi adil itu tidak akan pernah datang kecuali kita mempersiapkan diri menjadi pemimpin itu. Jangan berharap jaman keemasan akan datang jika kita hanya menunggu. Kitalah yang membuat semua itu mungkin terjadi. Berhentilah menunggu. Mulailah mengerjakan sesuatu yang diyakini dapat membantu mempercepat datangnya hari baru yang lebih bermutu. Jaman keemasan akan datang bila cara kita berpikir dan bertindak adalah berkualitas emas.
Download Buku Obrolan Nusantara
Friday, December 21, 2012
Tuesday, November 20, 2012
Bentuk Otak Einstein
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --Siapa yang tidak kenal dengan Albert Einstein? Penemu teori relativitas ini merupakan satu dari sedikit orang paling jenius yang pernah ada.
Penelitian terbaru menunjukkan kejeniusan Einstein ini sangat berhubungan dengan bentuk otaknya yang unik. Peneliti telah membandingkan otak Einstein dengan 85 otak 'normal' manusia untuk menemukan fitur tidak biasa yang dimiliki penemu Jerman ini.
Secara keseluruhan otak Einstein tidak ada bedanya dengan otak manusia normal lain. Pun halnya bentuk asimetris otak Einstein.
Namun bagian prefrontal, somatosensory, motor utama, parietal, temporal dan oksipital korteks milik Einstein sangat berbeda. "Ini mungkin memberikan dasar neurologis untuk kemampuan visuospatial dan matematika Einstein," kata Profesor Antropologi di Hale G Smith Florida, Dean Falk, dilansir laman Daily Mail, Selasa (20/11).
Menggunakan 14 gambar baru otak si jenius, Falk dan rekan-rekannya mampu menggambarkan seluruh korteks serebral Einstein. Studi mereka yang berjudul 'The Cerebral Cortex of Albert Einstein: A Description and Preliminary Analysis of Unpublished Photographs' diterbitkan di jurnal neurologi, Brain.
Dengan izin keluarga, otak Einstein telah diambil dan difoto untuk keperluan penelitian pada 1955. Otak tersebut bahkan sudah dipotong menjadi 240 blok untuk keperluan histologi.
Mayoritas foto otak Einstein ini sudah hilang dari mata publik. Foto-foto yang dipakai oleh tim Falk berasal dari National Museum of Health and Medicine.
Subscribe to:
Comments (Atom)





















