Showing posts with label Organisasi. Show all posts
Showing posts with label Organisasi. Show all posts

Tuesday, January 8, 2013

Proposal Rakernas Ikahimki 2013 (Januari)


Silahkan download disini Untuk Proposal Rakernas yang akan dilaksanakan pada tanggal 27 Januari- 2  Februari 2013

Monday, January 7, 2013

IKAHIMKI (Ikatan Himpunan Mahasiswa Kimia Indonesia)


I. Sejarah Berdirinya Ikahimki 
Ikatan Himpunan Mahasiswa Kimia Indonesia (Ikahimki) merupakan satu-satunya organisasi profesi yang mengikat semua Himpunan Mahasiswa Kimia (HMK) di seluruh Nusantara. Pembentukan Ikahimki didorong oleh cita-cita bersama yang luhur untuk membangun kimia Indonesia menjadi lebih berkembang. Dalam perkembangannya, Ikahimki dibagi menjadi tiga tahapan yaitu tahap pembentukan, tahap pemantapan dan tahap pengembangan.
Tahap pembentukan terdiri dari tahap pembentukan Forum Komunikasi Mahasiswa Kimia Indonesia (FKMKI) dan tahap pembentukan Ikahimki. Pada tanggal 1 Februari 1989 diadakan pertemuan himpunan mahasiswa kimia se-Indonesia di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Surabaya. Dari pertemuan tersebut dibentuklah Forum Komunikasi Mahasiswa Kimia Indonesia. Dalam forum ini tergabung tiga disiplin ilmu kimia yaitu kimia murni, pendidikan kimia dan teknik kimia. Hasil-hasil yang telah disepakati dalam pertemuan tersebut masih diselimuti kemelut sehingga untuk memantapkan perlu diadakan pertemuan lanjutan dan disepakati tempatnya pelaksanaannya di IKIP Jakarta. Pertemuan lanjutan yang diselenggarakan di IKIP Jakarta pada tanggal 29 Januari 1990 sampai dengan 1 Februari 1990 merupakan pertemuan bersejarah bagi Ikahimki sebab untuk yang pertama kalinya Musyawarah Nasional (Munas) diselenggarakan. Salah satu hasil Munas Ikahimki ke-1 di IKIP Jakarta yaitu ditetapkan tanggal 1 Februari 1990 sebagai tanggal berdirinya Ikahimki yang disyahkan melalui Keputusan Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan No. 119/DIKTI/Kep/1990.
Ikahimki memasuki tahap pemantapan sejak Munas ke-II sampai dengan Munas ke-IV yang masing-masing dilaksanakan di Ujung Pandang (sekarang Makassar), Bandung dan Bali. Memasuki Munas ke-V sampai dengan sekarang Ikahimki memasuki tahap pengembangan. Pada Munas-Rakernas ke-VIII di Universitas Airlangga, Surabaya pada tanggal 5 sampai dengan 8 September 2004 terpilih mahasiswa Jurusan Kimia FMIPA Universitas Lampung yaitu Saudara Saepul Rohman sebagai Sekretaris Jenderal Badan Pengurus Pusat Ikahimki periode 2004-2006. Saat ini anggota Ikahimki terdiri dari 52 Himpunan Mahasiswa Kimia (HMK) dari 48 Universitas Negeri/Swasta di seluruh Indonesia.

II. Visi, Misi dan Tujuan Ikahimki

Visi
Menjadikan Ikahimki sebagai organisasi profesi yang profesional, berpondasi kuat dan bermanfaat bagi bangsa dan negara
Misi
1. Melakukan program pengkaderan organisasi yang berencana, komprehensif dan terpadu.
2. Melakukan koordinasi dan konsolidasi internal yang kondusif bagi pengembangan Ikahimki.
3. Menciptakan kondisi yang kondusif bagi peningkatan profesionalisme anggota
4. Menekankan gerak organisasi pada pengembangan bidang kimia.

Tujuan
Menggalang persatuan dan kerjasama antara Himpunan Mahasiswa Kimia di Indonesia dalam mengembangkan profesi guna meningkatkan peran sertanya dalam pembangunan nasional.

III. Wilayah Koordinasi Ikahimki
Ikahimki dibagi atas lima wilayah koordinasi, yaitu :
1. Wilayah I : Sumatera dan sekitarnya kecuali Lampung.
2. Wilayah II : Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta dan Lampung
3. Wilayah III : Jawa Tengah, DI Yogyakarya dan Kalimantan
4. Wilayah IV : Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara
5. Wilayah V : Sulawesi, Maluku dan Papua

IV. Perangkat Ikahimki
Musyawarah Nasional (Munas)
1. Munas merupakan permusyawaratan tertinggi dan pemegang kekuasaan organisasi tertinggi didalam Ikahimki
2. Munas diselenggarakan setiap dua tahun sekali
3. Hak dan wewenang Munas adalah :
a. Mengubah, menetapkan serta mengesahkan AD/ART Ikahimki
b. Membuat, menetapkan serta mengesahkan GBHO dan rekomendasi
c. Membuat, menetapkan serta mengesahkan peraturan-peraturan organisasi yang tidak bertentangan dengan AD/ART Ikahimki
d. Mengevaluasi dan menilai laporan pertanggungjawaban sekretaris jenderal pada masa akhir jabatannya
e. Mendemisionerkan sekretaris jenderal
f. Memilih, menetapkan serta mengesahkan sekretaris jenderal baru
g. Berhak menerima atau menolak calon anggota, serta berhak menghapuskan status keanggotaan
h. Mengesahkan pembubaran organisasi

Musyawarah Wilayah (Muswil)

1. Muswil merupakan musyawarah anggota yang merupakan forum tertinggi organisasi di tingkat wilayah
2. Muswil di selenggarakan setiap dua tahun sekali bersamaan dengan Munas
3. Hak dan wewenang Muswil adalah :
a. Membuat, menetapkan dan mengesahkan peraturan-peraturan yang tidak bertentangan dengan hasil Munas dan AD/ART Ikahimki
b. Memilih dan menetapkan koordinator wilayah (korwil)
c. Mengevaluasi dan menilai laporan pertanggungjawaban korwil

Badan Pengurus Pusat (BPP)
1. BPP merupakan badan koordinasi pelaksana hasil ketetapan Munas dan Rakernas
2. BPP terdiri dari sekretaris jenderal dan staf
3. Masa jabatan BPP selama dua tahun, terhitung sejak ditetapkan
4. Staf sekretaris jenderal terdiri dari bendahara, departemen dan lainnya sesuai kebutuhan
5. BPP bertanggung jawab kepada Munas

Badan Pengurus Wilayah (Bapewil)
1. Bapewil merupakan badan koordinasi pelaksana hasil ketetapan Muswil dan Rakerwil
2. Bapewil terdiri dari koordinator wilayah (korwil) dan staf
3. Masa jabatan Bapewil selama dua tahun, terhitung sejak ditetapkan
4. Staf korwil terdiri dari bendahara, departemen dan lainnya sesuai kebutuhan
5. Bapewil bertanggung jawab kepada Muswil
Sekretaris Jenderal (Sekjend)1. Sekjend diangkat dan diberhentikan dalam Munas, serta bertanggung jawab kepada Munas
2. Dalam melaksanakan tugasnya, sekjend dibantu oleh staf sekjend
3. Hak-hak sekjend adalah
a. Berhak menggunakan seluruh fasilitas organisasi untuk kepentingan organisasi
b. Berhak menghadiri kegiatan-kegiatan Ikahimki di tingkat nasional, maupun wilayah serta himpunan mahasiswa yang mengundang sekjend dan dibebaskan dari biaya registrasi
4. Kewajiban sekjend adalah
a. Mematuhi AD/ART
b. Mengkoordinir kegiatan Ikahimki secara keseluruhan
c. Melaporkan hasil Munas dan Rakernas kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas RI
d. Menyusun Badan Pengurus Pusat beserta staf

Koordinator Wilayah (Korwil)

1. Korwil bertanggung jawab kepada Muswil, disahkan dalam Muswil dan dikukuhkan oleh sekjend
2. Hak-hak korwil adalah
a. Berhak menggunakan seluruh fasilitas organisasi untuk kepentingan organisasi
b. Berhak menghadiri kegiatan-kegiatan Ikahimki di tingkat wilayah serta himpunan mahasiswa kimia yang mengundang korwil dan dibebaskan dari biaya registrasi
3. Kewajiban korwil adalah
a. Mematuhi AD/ART
b. Mengkoordinir kegiatan wilayah secara keseluruhan
c. Berkoordinasi dengan sekjend selama masa tugasnya
d. Melaporkan hasil Muswil dan Rakerwil kepada Dinas Dikmenti, Pemda setempat dan Diknas Provinsi
e. Menyusun Bapewil dan staf

Himpunan Mahasiswa Kimia (HMK)1. Syarat menjadi anggota
a. Menyetujui AD/ART
b. Mengajukan surat permohonan secara tertulis kepada sekjend untuk diajukan dalam Munas dan wajib hadir dalam Munas
c. Keanggotaan dianggap sah jika disetujui sekurang-kurangnya 2/3 jumlah anggota yang hadir dalam Munas
2. Status keanggotaan hilang apabila
a. Mengundurkan diri secara tertulis
b. Himpunan mahasiswa yang bersangkutan bubar
c. Tidak hadir dua kali berturut-turut dalam acara Munas tanpa keterangan
3. Kewajiban anggota adalah
a. Mematuhi AD/ART
b. Menjaga dan menjunjung tinggi nama baik Ikahimki
c. Berperan serta secara aktif dalam kegiatan Ikahimki
d. Membayar iuran anggota
4. Hak-hak anggota adalah
a. Setiap anggota berhak dipilih dan memilih
b. Setiap anggota berhak mendapat perlakuan yang sama
c. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan program kerja dan tugas Badan Pengurus Pusat

V. Dewan Pelindung  IkahimkiDewan Pelindung
1. Prof. Dr. Syamsul Arifin Ahmad (Guru Besar ITB)
2. Prof. Dr. Anna Poejiadi (Guru Besar UPI)
3. Dr. Dipo Alam (Ketua Himpunan Kimia Indonesia dan Deputi Menko Perekonomian Bidang Koordinator Perindustrian, Perdagangan dan Pemberdayaan UKM)
4. Dr. Ing. Evita H. Legowo (Kepala Pusat Lembaga Minyak dan Gas RI)
5. Dr. Burhanuddin Tola (Kepala Bidang Analisis Penilaian Balitbang Depdiknas RI)
6. Dr. Taslim Ersam, MS. (Sekretaris Himpunan Kimia Indonesia Jawa Timur dan Dosen Kimia ITS)

Sunday, December 30, 2012

Bismillahirrohmanirrohim "Budaya"

Bismillahirrohmanirrohim.
Segala puji hanya milik Allah Ta’ala, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Sore, udara dingin tidak memunda penulis untuk datang pada acara malam kali ini, meskipun gerimis telah membasahi sebagian daerah ramah pendidikan yang ada dikota malang. Tetesan air gerimis menghinggap di bagian atas kopiah yang biasa penulis kenakan, dan lekas penulis tancap gas agar basah ini tidak terlalu kuyup dibadan penulis. Hari ini adalah rabu malam kamis, di hari sebelumnya dapat pesan singkat dari sedulur anas, bahwasanya penulis diundang untuk berdiskusi bersama sedulur-sedulur komunitas pengagum Gus Dur atau biasa disebut Gusdurian. Sekitar 2menit penulis berangkat sampai di tempat  keadaan kampus masih gaduh dan ramai karena berfariasi mahasiswa yang masih ada di universitas islam negeri maulana malik ibrahim malang atau yang biasa disingkat dengan UIN Maliki Malang.

Assalamu’alaikum...
Sambutan hangat sedulur-sedulur ini membuat penulis tersenyum mengembang, penulis menyalami satu persatu sedulur-sedulur Gusdurian yang datang. Sambil bertanya kabar, penulis tolah-toleh melihat keadaan kampus ini masih ramai dan tambah ramai karena pada waktu itu masih sedang berlangsung yang namanya rapat-rapat(pertemuan bermanfaat) dari organisasi lain. Termasuk dari kami, tidak banyak hanya enam orang yang datang, tapi tidak apalah yang penting silaturrohim.:)

Sekitar 10 menit kita ngobrol tentang kabar dan keadaan, ada satu dari sedulur mengusulkan untuk acara ini diskusi ini dimulai. Monggo-monggo jawab semua sedulur-sedulur yang hadir.....
Baru pertama kali “Alhamdulillah” penulis bisa menghadiri acara ini, jadi sangat membuat hati penulis tertarik dan ingin terus bersama sampai acara selesai. Dengan sedikit membuka pertanyaan yang mana ini gus arifin? Tanya penulis kepada mas anas(dengan bahasa lokal “madura”). Oo yang ini lo...Alhamdulillah senang berkenalan dengan panjennengan gus. Sambil “mesem-mesem” ,

Pembahasan sore ini tentang “ Culture and philosophi “ yang disampaikan oleh gus arifin dari kalimantan. Satu lembar kertas berisikan materi disebar dan disertai sambutan oleh moderator.

Culture and philosophi

Sebelum dikemukan tulisan ini, terlebih dahulu perlu penulis kemukakan arti budaya (Culture), di dalam KBBI(Kamus Besar Bahasa Indonesia) ialah pikiran; Akal budi. Budaya atau kebudayaan berasal dari   bahasa Sansekerta yaitu  buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari  buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata  Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata  culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.

Budaya dalam pengertian yang luas adalah pancaran daripada budi dan daya. Seluruh apa yang difikir, dirasa dan direnung diamalkan dalam bentuk daya menghasilkan kehidupan. Budaya adalah cara hidup sesuatu bangsa atau umat. Budaya tidak lagi dilihat sebagai pancaran ilmu dan pemikiran yang tinggi dan murni dari sesuatu bangsa untuk mengatur kehidupan berasaskan peradaban. kebudayaan memiliki perbedaan sudut pandang, akan tetapi setiap definisi menyimpulkan kesamaan, yaitu bahwa kebudayaan adalah ciptaan manusia. Dengan demikian, tidak ada budaya tanpa manusia dan tidak ada manusia tanpa budaya.

dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan yang mana akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat(bergotong royong).

Dan akhirnya : dengan Ucapan Alhamdulillahirobbil aalamiin. “Tiada Waktu Udzur Di dalam Berjuang”(Kh. Wahab Chasbulloh). MASA LALU adalah SEJARAH , MASA DEPAN merupakan MISTERI dan SAAT INI adalah KARUNIA. Itulah kenapa dalam bahasa Inggris SAAT INI disebut "The Present". serta penulis mohon kritikan dan saran. semoga kita masih bisa menjaga budaya kita dan semoga bermanfaat.aamiin.

" Al muhafazhah bil qadimis shalih, wal akhdzu bil jadidil ashlah".
Wallahu’alam

Wallahul Muwaffiq Ilaa Aqwamith Thorieq
Wassalamu’alaikum Wr. Wb. 

Malang, 5 april 2012
salam mesem,baca,tanya,tulis,berbagi
Mohammad afief hasan.:)
Pustaka pribadi “catatan upil”UK, http://www.anneahira.com/arti-budaya.htm

Doa Kemerdekaan Gus dur

Ya Allah ya Tuhan kami,
Wahai Keindahan yang menciptakan sendiri segala
yang indah,
Wahai Pencipta yang melimpahkan sendiri segala anugerah
Wahai Maha Pemurah yang telah menganugerahi
kami negeri sangat indah dan bangsa yang menyukai keindahan,
Ya Allah yang telah memberi kami kemerdekaan yang indah,
Demi nama-nama agungMu yang maha indah
Demi sifat-sifat suciMu yang maha indah
Demi ciptaan-ciptaanMu yang serba indah
Anugerahilah kami, pemimpin-pemimpin kami, dan bangsa kami
kepekaan menangkap dan mensyukuri keindahan anugerahMu.
Keindahan merdeka dan kemerdekaan
Keindahan hidup dan kehidupan
Keindahan manusia dan kemanusiaan
Keindahan kerja dan pekerjaan
Keindahan sederhana dan kesederhanaan
Keindahan kasih sayang dan saling menyayang
Keindahan kebijaksanaan dan keadilan
Keindahan rasa malu dan tahu diri
Keindahan hak dan kerendahan hati
Keindahan tanggung jawab dan harga diri
Anugerahilah kami, pemimpin-pemimpin kami, dan bangsa kami
kemampuan mensyukuri nikmat anugerahMu
dalam sikap-sikap indah yang Engkau ridlai
Selamatkanlah jiwa-jiwa kami
dari noda-noda yang mencoreng keindahan martabat kami
Pimpinlah kami, pemimpin-pemimpin kami, dan bangsa kami
ke jalan indah menuju cita-cita indah kemerdekaan kami
Kuatkanlah lahir batin kami
untuk melawan godaan keindahan-keindahan imitasi
yang menyeret diri-diri kami dari keindahan sejati
kemanusiaan dan kemerdekaan kami
Merdekakanlah kami dari belenggu penjajahan apa saja
selain penjajahanMu
termasuk penjajahan diri kami sendiri
Kokohkanlah jiwa raga kami
untuk menjaga keindahan negeri kami.
Ya Malikal Mulki Ya Allah yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa
Jangan kuasakan atas kami --karena dosa-dosa kami--
penguasa-penguasa yang tak takut kepadaMu
dan tak mempunyai belas kasihan kepada kami.
Anugerahilah bangsa kami pemimpin yang hatinya
penuh dengan keindahan cahaya kasihsayangMu
sehingga kasihsayangnya melimpahruahi rakyatnya
Jangan Engkau berikan kepada kami pemimpin
Yang merupakan isyarat kemurkaanMu atas bangsa kami

Wahai Maha Cahya di atas segala cahya
Pancarkanlah cahyaMu di mata dan pandangan kami
Pancarkanlah cahyaMu di telinga dan pendengaran kami
Pancarkanlah cahyaMu di mulut dan perkataan kami
Pancarkanlah cahyaMu di hati dan  keyakinan kami
Pancarkanlah cahyaMu di pikiran dan sikap kami
Pancarkanlah cahyaMu di kanan dan kiri kami
Pancarkanlah cahyaMu di atas dan bawah kami
Pancarkanlah cahyaMu di dalam diri kami
Pancarkanlah cahyaMu, ya Maha Cahya
Agar kami dapat menangkap keindahan ciptaanMu dan meresapinya
dapat menangkap keindahan anugerahMu dan mensyukurinya
Agar kami dapat menangkap keindahan jalan lurusMu dan menurutinya
dapat menangkap keburukan jalan sesat setan dan menghindarinya

Pancarkanlah cahyaMu, ya Maha Cahya
Agar kami dapat menangkap keindahan kebenaran dan mengikutinya
dapat menangkap keburukan kebatilan dan menjauhinya
Agar kami dapat menangkap keindahan kejujuran dan menyerapnya
dapat menangkap keburukan kebohongan dan mewaspadainya
Pancarkanlah cahyaMu, ya Maha Cahya
Sirnakan dan jangan sisakan sekelumit pun kegelapan
di batin kami.
Ya Maha Cahya di atas segala cahya
Jangan biarkan sirik dan dengki
hasut dan benci
ujub dan takabur
kejam dan serakah
dusta dan kemunafikan
gila dunia dan memuja diri
lupa akherat dan takut mati
serta bayang-bayang hitam lainnya
menutup pandangan mata-batin kami
dari keindahan wajahMu.
menghalangi kami
mendapatkan kasihMu
menghambat sampai kami
kepadaMu.

Ya Allah ya Tuhan kami,
Ampunilah dosa-dosa kami
Dosa-dosa para pemimpin dan bangsa kami
Merdekakanlah kami dan kabulkanlah doa kami.
Amin.

@.mustofa bisri

Buku : Membedah Konsep Negara Islam

Buku
 
 
Oleh : Ali Rif'an
Judul: Chiefdom Madinah: Salah Paham Negara Islam
Penulis: Dr Abdul Aziz MA
Pengantar: Prof Dr M Bambang Pranowo, Prof Dr Achmad Mubarok MA
Penerbit: Alvabet, Jakarta
Tahun: I, Maret 2011
Tebal: xxiv + 398 Halaman
Baru-baru ini, publik Indonesia kembali diguncang dengan kabar pengrekrutan anggota Negara Islam Indonesia (NII) di Malang,  Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jakarta. Fenomena ini sontak memunculkan keresahan banyak kalangan sekaligus menimbulkan satu pertanyaan mendasar: apa sebenarnya motif mereka?
Ada dua alasan yang sering diberitakan media. Pertama, mereka menganggap sistem pemerintahan Indonesia sudah tidak layak pakai karena tidak mampu menjawab persoalan kebangsaan, seperti kemiskinan dan kesejahteraan. Kedua, sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia, sudah seharusnya Indonesia memakai konsep negara Islam. Bagi mereka, Islam mempunyai konsep sendiri dalam dunia politik yang sangat "ideal" dan pernah dilakukan oleh Rasulallah SAW.
Karena itu, selain NII, di Indonesia, tiga gerakan resmi yang menginginkan berdirinya negara Islam adalah Hizbu Tahrir Indonesia (HTI), Komite Persiapan Pembentukan Syariat Islam (KPPSI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Padahal, secara konseptual, banyak kalangan yang salah paham tentang negara Islam. Konsep khilafah yang pernah dianut umat Islam sepeninggal nabi Muhammad SAW sebetulnya sama dengan kesultanan. Keduanya merupakan bentuk monarki dalam sistem pemerintahan.
Konsep negara Islam, menurut pemikiran ulama klasik semisal Ibnu Abi Rabi' dan Al-Maward adalah konsep kenegaraan yang berbasis monarki seperti khilafah dan kesultanan. Sedangkan bagi intelektual kontemporer Jamaluddin Al-Afghani dan Rashid Rido', konsep kenegaraan adalah konsep negara-bangsa (nation-states).
Berpijak pada pemikiran Al-Afghani dan Rashid Rido', pada masa pemerintahan Rasulullah belum bisa dinyatakan sebagai negara. Sebab, semua sistem pemerintahan dan kepemimpinan masih bertumpu pada Muhammad SAW. Jika zaman Rasulullah disebut-sebut zaman ideal daulah islamiah oleh kelompok Hizbut Tahrir, sebetulnya ketika itu masih proses institusionalisasi kepemimpinan.
Buku berjudul Chiefdom Madinah: Salah Paham Negara Islam besutan Dr Abdul Aziz MA ini ingin membedah bagaimana sebenarnya konsep negara Islam. Sebab, sebagian pemikir dan aktivis politik Islam meyakini bahwa pengorganisasian masyarakat Muslim Arab di Madinah pada masa Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin merupakan wujud Negara Islam. Keyakinan ini tampaknya lebih didasarkan pada pemahaman normatif-ideologis atas sejarah Islam awal. Alhasil, Negara Islam ditempatkan pada posisi yang sakral, bahkan dianggap tipe ideal (ideal type) bentuk negara yang wajib dibangun kembali oleh umat Islam dewasa ini.
Karena itu, menurut Abdul Aziz, kesahihan pemahaman di atas perlu diuji kembali. Sebab, jika di jazirah Arab namanya khilafah, di kawasan lain, seperti Turki dan India saat itu namanya kesultanan. Pasalnya, ulama Islam mencari rujukan pembentukan negara melalui berbagai ijtihad karena meninggalnya Rasulullah mewariskan organisasi umat yang terdiri atas berbagai ras dan suku.
Buku ini diracik dengan menggunakan pendekatan dan metode interpretasi historis-sosiologis. Penulis mampu secara apik menyuguhkan pandangan-pandangan baru sekaligus memaparkan secara proporsional kontribusi Islam bagi pembentukan negara (state formation) pada masa-masa awal. Terdapat tiga pandangan yang menjadi titik kisar dalam kajian buku ini.
Pertama, pandangan yang mewajibkan pendirian negara Islam yang tunduk pada syariat Islam. Jika diruntut, ideologisasi negara Islam berawal dari krisis legitimasi menyangkut kekuasaan imamah (pemimpin) dan kesatuan ummah (rakyat). Sebagai respons terhadap situasi ini, Ibnu Taimiyah tampil sebagai pemikir muslim yang pertama kali menjadikan penegakan syariat Islam sebagai fokus pembahasan fikih politik. Ibnu Taymiyah memandang perlu untuk merumuskan syariat Islam yang murni (hlm. 148).
Kedua, pandangan sekuler dengan memisahkan negara dan agama. Di Timur Tengah, pandangan ini dimotori oleh ulama-ulama kontemporer semisal Jamaluddin Al-Afghani dan Rashid Rido', sementara di Indonesia, tokoh yang santer menyuarakan pandangan ini adalah almarhum Cak Nur (Nurcholish Madjid). Pandangan Cak Nur ini tersirat dalam slogan kontroversialnya, "Islam Yes, Partai Islam No".
Ketiga, pandangan akan internalisasi nilai-nilai Islam dalam bernegara dengan konsep kombinasi nilai-nilai Islam dalam praktek bernegara tanpa menyematkan negara Islam atau negara sekuler. Dalam konteks ini, Islam dan tradisi kultur serta konteks kebangsaan sama-sama berperan. Kesemuanya bisa mengentaskan masyarakat yang semula tak bernegara (stateless) menuju masyarakat dengan sebentuk pranata kekuasaan terpusat, disebut dengan chiefdom.
Di sini, bisa dipahami bahwa dalam proses bernegara sangatlah penting  mengembangkan demokrasi politik dengan landasan nilai-nilai Islam tanpa harus menggaung dengan konsep negara Islam. Sebab, Islam akan tampil pada isinya, bukan kulitnya. Indonesia, dengan konsep Pancasila, sebanarnya sudah mengandung nilai-nila keislaman yang justru sangat substansial dan egaliter.
Buku ini pada awalnya merupakan disertasi doktor Dr Abdul Aziz MA di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta taun 2010. Melali buku ini, penulis mencoba menguak asal usul munculnya apa yang disebut daulah islamiyah itu. Ditulis berdasarkan data sejarah dan realitas sosial, buku ini seolah mampu merekonstruksi secara halus dengan format teoritik tentang pertautan antara Islam dan pembentukan negara.
Karena itu, sebagaimana dikatakan Prof Dr Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, buku ini sangat kaya dengan inspirasi, aspirasi, dan nilai-nilai bagi pembentukan negara modern.
Peresensi adalah Ali Rif'an, Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Aktif di Pusat Studi Lintas Agama Piramida Circle Jakarta.

Indonesiaku "ada apa denganmu???

INDONESIAKU
“DIANTARA HEDON-ESIA & END-ONESIA”
Oleh : Moh. Fauzan

Indonesia yang Hedon-esia
Bangsa ini memang sudah mencapai usia di atas setengah abad, namun jika kita sedikit melihat kondisinya sekarang, banyak pertanyaan yang timbul dalam benak kita tentang bangsa ini. ”Mengapa banyak sekali kerusuhan terjadi sekarang ini..? Mengapa banyak perpecahan terjadi di berbagai pelosok di Indonesia? Mengapa banyak kasus korupsi terjadi di pemerintahan sementara semakin banyak pula gelandangan dan orang- orang miskin di Indonesia? Mengapa semua saling beradu dan berlomba-lomba untuk menjadi wakil rakyat yang ternyata tujuan utama adalah materialisme? ”. Itulah kondisi bangsa Indonesia sekarang ini. Bangsa Indonesia yang katanya sudah merdeka, tetapi di dalamnya masih saja banyak sekali kekacauan-kekacauan yang timbul dari individu masing-masing. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Dunia kini sudah diwarnai dengan paham yang disebut hedonisme. Hedonisme berasal dari bahasa yunani yaitu “Hedone” yang berarti kesenangan, dimana istilah ini sudah lama dikenal dan banyak tokoh melakukan kajian mengenai konsep hedonisme. Aristippus (435-366 SM), salah satu  pengikut Socrates, mengajarkan bahwa kesenangan yang merupakan satu-satunya yang ingin dicari manusia. Paham ini mengedepankan kesenangan diri sebagai ukuran keberhasilan suatu usaha tanpa memandang yang lain, ”Pokoknya saya senang”. Itulah hal yang sedang terjadi di dunia ini. Indonesia sebagai negara yang notabene masih dalam tahap berkembang kurang siap dalam menerima budaya-budaya yang datang dari luar, akhirnya hedonisme pun berkembang di Indonesia.
Pola hidup yang mengedepankan kesenangan tanpa memikirkan yang lain inilah yang sudah menyebabkan banyaknya kekacauan yang terjadi. Setiap orang berlomba-lomba untuk mengedepankan ego masing-masing. Semua ingin keinginannya tercapai, akhirnya tidak ada yang mau mengalah semua berpegang kokoh pada pendiriannya dan tak mau membuka diri untuk yang lain. Misalkan seorang yang ingin menjadi wakil rakyat di legislatif, mereka berlomba-lomba agar dapat diterima. Pikiran pertama yang terbesit rata-rata adalah bahwa wakil rakyat memilki fasilitas yang mewah dan gaji pun menggiurkan. Mindset pertama ini terjadi karena tujuan utama mereka bukanlah menjadi wakil rakyat, akan tetapi kesenangan dan kebahagiaan yang akan mereka dapatkan setelah menjadi wakil rakyat. Hasilnya, fasilitas yang mewah serta berlebihan dan gaji yang cukup besar membuat para dewan terusik hatinya. Timbulah rasa ketidakpuasan akan harta yang dimiliki yang ujung-ujungnya melakukan korupsi padahal di sekeliling mereka masih banyak orang yang serba kekurangan.
Begitu pun dengan kerusuhan-kerusuhan yang terjadi, kedua belah pihak tidak mau saling mengalah akan idealisme dan argumen yang yang ada. Keduanya mementingkan diri masing-masing tanpa berpikir sehat terlebih dahulu secara objektif, timbulah perpecahan. Keduanya mengejar dan memperjuangkan apa yang menurut mereka menguntungkan bagi mereka tanpa memikirkan aspek-aspek yang lain.

Indonesia yang end-onesia
NKRI-ku adalah harga hidup bagiku !
Terus hiduplah NKRI-ku jangan kau mati !!!

Dewasa ini, kita mempunyai kekawatarin yang sangat mendalam terhadap keutuhan bangsa ini. Bukan hal yang tidak mungkin perpecahan NKRI semakin hari semakin marak, NKRI yang dibangun dengan segala jerih payah dan cucuran darah para pahlawan bangsa kita digoyahkan dan dilepas baut keeratan kebangsaan dan nasionalisme dengan berbagai upaya oleh oknum baik dalam negeri ataupun luar negeri. Mereka merangsak masuk pada sendi-sendi kekuatan kita dan melumerkan baja persatuan bangsa indonesia. Bagaikan virus yang menggerogoti pemikiran kita. Seperti yang terjadi pada timtim. Hanya kebulatan tekad kita yang dapat meredam usaha-usaha tangan jahil emperialis yang masuk dan memecah belah kita. Mereka berusaha memecah kita baik usaha didalam sistem pemerintahan kita ataupun diplomasi diluar.
Cara yang sering mereka lakukan untuk memecah NKRI dengan pencaplokan wilayah dengan memanfaatkan kelemahan kita dari sisi hukum internasional. Seperti Sipadan dan Ligitan yang telah lepas dari NKRI.
Mereka melakukan gerakan yang terus-menerus melemahkan NKRI. Regenerasi muda menjadi perhatian yang besar bagi mereka. Generasi muda kita mulai dicekoki oleh misi-misi hedonisme, anti nasionalisme, memperkecil peran agama, memperkecil peran cendikiawan pribumi indonesia, melakukan fitnah kepada para tokoh-tokoh agama dan tokoh nasionalis.
Apa yang harus kita lakukan ?????
Kendorkan pengaruh asing yang ingin menggoyang NKRI kita. Jangan pilih partai yang melakukan kontak asing karena boleh jadi kebijakan indonesia dipengaruhi oleh mereka, jangan pilih pemimpin yang menjadi boneka asing, kuatkan peran bangsa sendiri. Bangun kemandirian bangsa. Jangan berikan kekayaan mineral nusantara kepada bangsa asing. Hentikan tayangan hidonisme di televisi, dan berikan kesempatan ruh nasionalisme mengalir kepada generasi bangsa kita. Stop liberalisasi perdagangan, jangan serahkan aset-aset strategis bangsa ke asing. Ikut arus globalisasi bukan berarti bersedia dibodohi !!!!!!!!!!!!!!!
Pemerintah Indonesia juga harus rajin apresiasi berbagai upaya positif untuk menangani permasalahan dipapua saat ini. Seperti yang pernah dilakukan pada GAM.
Undang-undang Keamanan Nasional harus benar-benar bermanfaat dalam melindungi pulau-pulau nusantara dari pihak separatis. Indonesia harus mandiri dalam mengatur dan mengendalikan keamanan dalam wilayah indonesia sendiri. Kita berada di negara-negara yang masih memiliki potensi untuk melakukan klaim atas wilayah kita.
Selain itu, aspek lain yang juga harus dibenahi adalah mengenai kesejahteraan rakyat yang berada jauh dari Jakarta. Kesejahteraan masyarakat yang berada digaris perbatasan memiliki dampak politik-politik yang sangat besar, seperti masyarakat di Kalimantan yang berbatasan dengan Malaysia. Wilayah nusantara perbatasan selalu lebih memiliki potensi untuk bergolak dan berpisah. Keadilan dan kesejahteraan saudara kita ini penting artinya untuk keutuhan NKRI. 
            Perbaiki kualitas pendidikan, masukkan semangat nasionalisme dalam kurikulum kita. Bangsa kita tidak perlu terlalu pintar, pecuma jika pintar tetapi bermoral seperti penjajah Belanda. Merahkan darah generasi kita dengan darah pejuang ’45. Perbanyak kibaran bendera merah putih pada seluruh wilayah nusantara kita. Buat kewajiban itu kepada semua kantor pemerintah kita. Perbanyak dengungkan lagu-lagi wajib penggugah semangat kita, tidak hanya pada acara-acara 17-an. Buatkan jam wajib pada televise-televisi kita untuk memperdengarkan lagu-lagu itu, yang membantah jangan-jangan bagian dari intruders. Merdeka!.. Hidup NKRI!

Budaya dan Filosofinya (Indonesia)

Indonesia merupakan nagara kepulaun yang terdiri dari 17.506 pulau. Dilihat dari bentuk geografisnya tampak jelas bahwa Indonesia kaya dengan bahasa, budaya, suku, dan sumber daya alam. Meski demikian, keanekaragaman yang ada tidak menjadi halangan bagi mereka untuk berinteraksi sosial maupun menjalin hubungan di sektor ekonomi. Hal ini dikarenakan jati diri bangsa Indonesia yamg memiliki toleransi dan sifat gotong-royong sebagaimana termaktub dalam pancasila dan bhineka tunggal ika. keanekaragaman yang ada telah melahirkan sumpah pemuda yang diikrarkan pada 28 oktober 1928 sebegai bentuk kesinambungan dari sumpah palapa. Budaya Indonesia telah mengalami banyak perubahan semenjak zaman pra-sejarah hingga sekarang. Dan budaya yang kita jumpai sekarang merupakan bentuk akulturasi dan asimilasi budaya lokal dan budaya luar. Meski demikian Indonesia memiliki ciri khas yang  tidak berubah hingga sekarang dan itu sudah berada dalam makna bhineka tunggal ika. Hal ini tergambar jelas pada daerah Riau yang dihuni 17 suku dan ada sekitar 10 bahasa yang digunakan sebagai alat berkomunikasi, hidup berdampingan dan tetap menghormati satu sama lain.
Menurut Koentjaraningrat (1990:180) menafsirkan  “Kebudayaan sebagai seluruh gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan untuk pedoman bangsa Indonesia belajar”. Budaya itu sendiri berasal dari bahasa sanskerta “budhayah” yang merupakan bentuk jamak dari “budhi” yang berarti “budi” atau “akal”.
Budaya memiliki dua unsur yakni unsur phenomenon (bentuk benda atau materi) dan noumenon (bentuk ide dan gagasan). Maka, kebudayaan merupakan hasil akal budi (akal) dan hasil karya manusia sepanjang sejarah hidupnya.
Dalam keanekaragaman budaya ada sistem budaya yang di area itu terdapat unsur-unsur gagasan, adat-istiadat yang menjadi pedoman hidup masyarakat setempat yang disebut nilai-nilai budaya. Ada yang mengatakan nilai budaya merupakan pandangan hidup. Namun ada perbedaan antara nilai budaya dan pandangan hidup. Pandangan hidup lazimnya dianut oleh suatu golongan atau individu tertentu dalam masyarakat dan tidak mewakili seluruh masyarakat. Nilai budaya merupakan pedoman hidup warga suatu masyarakat dan memiliki ruang lingkup yang sangat luas dan sebagai konsep yang bersifat umum.
Individu memiliki unsur akal dan jiwa yang memicunya untuk bertindak. Kedua hal ini telah melahirkan kebudayaan masyarakat yang beranekaragam. Berdasarkan hal tersebut montesguieu menyatakan suatu pandangan yang kemudian dalam ilmu antropologi dikenal dengan relativisme kebudayaan. Relativisme kebudayaan berarti bahwa suatu unsur atau adat dalam suatu kebudayaan tak dapat dinilai dengan pandangan yang berasal dari kebudayaan lain, melainkan dari system nilai yang pasti ada di dalam kebudayaan itu sendiri.
Ringkasnya, suatu masyarakat atau kolektif sebaiknya dapat menerima kebudayaan kolektif lain seadanya tanpa adanya pengaruh prasangka-prasangka dalam menilai kebudayaan kolektif lain. Relativisme kebudayaan kiranya akan membuat manusia untuk lebih bersikap toleran pada adat istiadat atau kebiasaan-kebiasaan yang ada dalam kebudayaan masyarakat lain.
Dari renungan bersama dalam konten sosial-intelektual ini setidaknya  bisa dijadikan sebagai upaya me-restorasi kearifan lokal yang dalam sentuhan pemikiran, hati, dan jiwa kita telah sedikit mengalami kelunturan pada segi makna dan praksisnya. AMIIIN



*Artikel Kajian Rutin GARUDA : 04 april 2012
oleh : Moh Arifin :)

Refleksi-“Gerakan & Pembebasan”Kartini

Oleh : Surida

Hari Kartini, begitulah kebanyakan dari kita menyebutnya. Hari yang biasanya diperingati oleh kebanyakan kaum perempuan. Tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini setelah Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan tanggal 21 April merupakan tanggal dimana memperingati Hari Kartini.

Raden Ajeng Kartini dilahirkan di Jepara pada tanggal 21 April 1879. Beliau adalah Putri dari se
orang Bupati Jepara pada waktu itu, yaitu Raden Mas Adipati Sastrodiningrat. Dan merupakan cucu dari Bupati Demak, yaitu Tjondronegoro. Pada waktu itu kelahiran Raden Ajeng Kartini, nasib kaum wanita penuh dengan kegelapan, kehampaan, dari segala harapan, ketiadaan dalam segala perjuangan, dan tidak lebih dari perabot kaum laki-laki belaka, dan bertugas tidak lain dari yang telah ditentukan secara alamiah, yaitu mengurus dan mengatur rumah tangga saja, kaum wanita telah dirampas dan diinjak-injak harkat dan martabatnya sebagai manusia.

GERAKAN R.A KARTINI dan KONDISI PEREMPUAN  MASA DULU

Daya berpikir kaum wanita tidak dapat berkembang sebagaimana mestinya, kaum wanita tidak diberi kesempatan untuk mengembangkan dirinya untuk melebihi dari apa yang diterimanya dari alam. Karena kaum wanita tidak berdiri kesempatan untuk belajar membaca, menulis dan sebagainya. Dengan kata lain kaum wanita hanya mempunyai kewajiban tetapi tidak mempunyai hak sama sekali.
Raden Ajeng Kartini yang telah meningkat dewasa pada waktu itu, tidak dapat melihat kenyataan ini meskipun beliau dilahirkan didalam lingkungan ditengah-tengah kebangsawanan atau keningratan yang pada waktu itu mempunyai taraf kehidupan sosial yang sangat berbeda dengan masyarakat banyak yang hidup didalam lingkungan kehidupan adat yang sangat mengekang kebebasan tetapi beliau tidak segan-segan turun kebawah bergaul dengan masyarakat biasa, untuk mengembangkan ide dan cita-citanya yang hendak merombak status sosial kaum wanita, dan cara-cara kehidupan dalam masyarakat dengan semboyan : “Kita harus membuat sejarah, kita mesti menentukan masa depan kita yang sesuai dengan keperluan serta kebutuhan kita sebagai kaum wanita dan harus mendapat pendidikan yang cukup seperti halnya kaum laki-laki”.

Dengan melanggar segala aturan-aturan adat pada saat itu, Raden Ajeng Kartini mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya yang setara dengan pendidikan kaum penjajah belanda pada waktu itu, beliau sempat mempelajari kegiatan-kegiatan kewanitaan lainnya.
Dengan pengetahuan serta pengalaman yang didapatnya, Raden Ajeng Kartini secara berangsur-angsur dan setahap demi setahap tapi pasti berusaha menambah kehidupan yang layak bagi seorang kaum wanita.

Perkawinan Raden Ajeng Kartini pada tahun 1903 dengan Raden Adipati Joyoningrat Bupati Rembang mengharuskan beliau mengikuti suami, dan di daerah inilah beliau dengan gigih meningkatkan kegiatannya dalam dunia pendidikan. Peranan Suami, dalam usaha Raden Ajeng Kartini Meningkatkan perjuangan sangat menentukan pula karena dengan dorongan dan bantuan suaminyalah beliau dapat mendirikan sekolah kepandaian putri dan disanalah beliau mengajarkan tentang kegiatan wanita, seperti belajar jahit menjahit serta kepandaian putri lainnya.
Usaha-usaha Raden Ajeng Kartini dalam meningkatkan kecerdasan untuk bangsa indonesia dan kaum wanita, khususnya melalui sarana-sarana pendidikan dengan tidak memandang tingkat dan derajat, apakah itu bangsawan atau rakyat biasa. Semuanya mempunyai hak yang sama dalam segala hal, bukan itu saja karya-karya beliau, persamaan hak antara kaum laki-laki dan kaum wanita tidak boleh ada perbedaan. Beliau juga mempunyai keyakinan bahwa kecerdasan rakyat untuk berpikir, tidak akan maju jika kaum wanita ketinggalan.
Inilah perjuangan Raden Ajeng Kartini yang telah berhasil menampakkan kaum wanita ditempat yang layak, yang mengangkat derajat wanita dari tempat gelap ketempat yang terang benderang. sesuai dengan karya tulis beliau yang terkenal, yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Kartini tumbuh di lingkungan Jawa yang teguh memegang adat-istiadat. Di tengah kuatnya dominasi adat, Kartini berani berdiri untuk menantang semua adat itu. “Peduli apa aku dengan segala tata cara itu… segala peraturan, semua itu bikinan manusia, dan menyiksa diriku saja. Kau tidak dapat membayangkan bagaimana rumitnya etiket di dunia keningratan Jawa itu… tapi sekarang mulai dengan aku, antara kami (Kartini, Roekmini, dan Kardinah) tidak ada tata cara lagi. Perasaan kami sendiri yang akan menentukan sampai batas-batas mana cara liberal itu boleh dijalankan” (Surat Kartini kepad Stella, 18 Agustus 1899).

Kartini menyimpulkan bahwa pangkal kemunduran dan rasa rendah diri yang dialami oleh masyarakat adalah mundur dan minimnya pendidikan yang mereka rasakan. Kaum pribumi adalah kaum terbelakang dan bodoh. Pendidikan menjadi hak paten bagi kalangan ningrat dan para penjajah.
Titik tolak perjuangan Kartini diawali dengan membenahi pendidikan di kalangan pribumi, tak terkecuali kaum wanita. Kartini membuat nota yang berjudul “Berilah Pendidikan Kepada Bangsa Jawa” kepada pemerintah kolonial. Dalam nota tersebut, Kartini mengajukan kritik dan saran kepada hampir semua Departemen Pemerintah Hindia Belanda, kecuali Departemen angkatan Laut (Marine). Kartinipun merasa perlu untuk belajar ke Barat. “Aku mau meneruskan pendidikanku ke Holland, karena Holland akan menyiapkan aku lebih baik untuk tugas besar yang telah kupilih” (Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, 1900).

GERAKAN PEREMPUAN MASA KINI
₰      Masihkah jiwa nasioanalisme seperti kartini terpatri dalam jiwa perempuan-perempuan masa kini?
₰      Apakah perempuan masa kini menjadi pelaku sejarah atau hanya menjadi sampah sejarah?
₰      Apakah kartini masa kini tetap kritis dan tanggap terhadap persolan-persoalan yang mendiskreditkan peremuan?
₰      Kalau jawabannya tidak, maka siapa yang harus kita salahkan? Masyarakatkah? pemerintahkah? Cendekiawankah? Atau perempuan itu sendiri?
₰      Bagaimana pola gerakan saat ini?

Pemakalah & Fasilitator adalah Pengurus Badan Studi Advokasi Gender (BSAG) Komisasriat Unisma. Materi ini disampikan pada kajian rutin Gerakan GUSDURian Muda (GARUDA) malang, jum’at/20-april-2012, di teras gedung B Uin Maliki Malang.

Karakter Bangsa Versus Budaya Korupsi

Oleh : Gus Aqil Fikri

“Inikah yang dinamakan Negara berkembang, segala sesuataunya ditentukan dengan uang” (Kill DJ Gusdurian)

Bagaimana karakter bangsa Indonesia sebenarnya?pertanyaan ini seringkali terlontar .saat Indonesia merdeka 1945, di saat pemerintahan orde lama mulai mencanangkan beberapa program yaitu salah satunya adalah BERDIKARI(berdiri di kaki sendiri),dengan kata lain bahwa bangsa Indonesia harus punya karakter ,yang mana karakter itu adalah spirit kebanggaan menjadi bangsa yang terdiri dari banyak pulau,mempunyai kekayaan melimpah tanpa ada sedikit pun campur tangan atau sentuhan dari bangsa asing. tapi apa yang diperjuangkan oleh sukarno dibawah bendera orde lama sampai era reformasi di bawah panji-panji kepemimpinan Presiden Gus Dur sampai hari ini dibawah tangan Si-Buya sebagai orang nomor wahid di bumi Indonesia ini ternyata lebih banyak memunculkan segelumit bencana sosial dan virus Korupsi yang belum mampu di scan atau dibersihakan secara tuntas,tas, taaaaaas…dan hal ini menjadi komitmen kita bersama sebagai generasi muda untuk memperjuangkan dan memerangi bahaya laten Korupsi yang sedang menghujani “langit merah” Indonesia tercinta ini.

Berbicara tentang karakter bangsa ada beberapa yang masih melekat dibenak kita,diantaranya yaitu Gotong royong, musyawarah (kajian-diskusi), dan beberapa kebudayaan lokal tentunya yang seharusnya bisa untuk kita terus bentengi dan kawal terus kedepan. Namun permasalahan yang dihadapi timbul titik pertanyaan mampukah karakter bangsa yang sedemikian ini menjadi sebuah tonggak perjuangan anak bangsa untuk melawan korupsi yang merajalela di seantero negeri ini???
Dari pernyataan diatas maka dapat disimpulkan bahwa korupsi merupakan salah satu sumber dari keterpurukan rakyat, mengapa hal ini terjadi ?apa yang melatar belakangi ?ada dua hal yang mungkin menjadi penyebab terjadinya korupsi yaitu sistem pemerintahan yang rusak (Republik Amburadul) dan mental anak bangsa yang mudah terusik.

Jika kita menelisik lebih jauh sistem pemerintahan bangsa Indonesia khususnya dibidang hukum  yang sangat lamban (LEMOT) dalam mengatasi segelumit permasalahan kekerasan dan Virus Korupsi, banyak contoh pejabat yang tersandung kasus korupsi tapi mereka tidak dihukum setimpal malahan hasil dari korupsi itu mereka bayarkan denda sehingga mereka tidak akan kekurangan sesuatu apapun.ini adalah salah satu contoh dari bobroknya sistem pemerintahan seperti dikutip dari perkataan mending Gus Dur “hukum di Indonesia itu seperti pisau, tajam kebawah dan tumpul keatasnya”,artinya hukum hanya mempan kepada rakyat miskin dan bodoh.

Salah satu hal yang menyebabkan korupsi adalah mental dari anak bangsa , bukan lagi tuntutan perut busung  lapar melainkan kesempatan untuk berkorupsi yang terbuka lebarlah yang membuat korupsi begitu menggiurkan, sekali lagi apabila etika beragama tidak menuntun dan hanya mengandalkan rasio maka yang terjadi adalah kecenderungan untuk berkorupsi sangat terbuka lebar!!!.

bangsa Indonesia sudah lelah terus menerus digerogoti oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung-jawab,tidak ada gunanya kita mengeluh tanpa berbuat apa-apa,marilah kita bersama membuka pikiran ,  melawan rasa takut dan terus mengecam para oknum korupsi, tidak ada gunanya kita mengeluh tanpa berbuat apa-apa. Seraya terus berteriak lantang Resik-Resikan para tikus-tikus Koruptor.

Dan hari ini yang dapat kita lakukan adalah memberi pendidikan sedini mungkin cara berpolitik yang baik dan benar, penanaman karakter kebangsaan yang menyeluruh sehingga nantinya menjadi pagar untuk melawan virus korupsi , ifda’binafsi (mulai dari diri sendiri) .

“iki zaman edan,sing ora edan ora kumanan, neng sak bejan-bejane wong edan si bejo wong sing waspodo lan kelingan” (ronggo waksito)

Nilai Dasar Gus Dur

KETAUHIDAN Ketauhidan bersumber dari keimanan kepada Allah sebagai yang maha ada, satu-satunya Dzat hakiki yang maha cinta kasih,  yang disebut dengan berbagai nama. Ketauhidan didapatkan lebih dari sekedar diucapkan dan dihafalkan, tetapi juga disaksikan dan disingkapkan. ketauhidan menghujam kesadaran terdalam bahwa dia adalah sumber dari segala sumber dan rahmat kehidupan dijagad raya. Pandangan ketauhidan menjadi poros nilai-nilai ideal yang diperjuangkan Gus Dur melalui kelembagaan dan birokrasi agama. Ketauhidan yang bersifat ilahi itu diwujudkan dalam perilaku dan perjuangan sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan dalam menegakkan nilai-nilai kemanusiaan.  KEMANUSIAAN Kemanusiaan bersumber dari pandangan ketauhidan bahwa manusia adalah mahluk tuhan yang paling paling mulia yang dipercaya untuk mengelolah dan memakmurkan bumi. Kemanusiaan merupakan cerminan sifat-sifat ketuhanan. Kemuliaan yang ada pada diri manusia mengharuskan sikap untuk saling menghargai dan menghormati. Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya, demikian juga merendahkan dan menistakan manusia berarti merendahkan dan menistakan tuhan sang pencipta. Dengan pandangan inilah, Gus Dur membela kemanusiaan tanpa syarat.KEADILAN Keadilan bersumber dari pandangan bahwa martabat kemanusiaan hanya bisa dipenuhi dengan adanya keseimbangan, kelayakan dan kepantasan dalam kehidupan masyarakat. Keadilan tidak sendirinya hadir didalam realitas kemanusiaan dan karena harus  diperjuangkan. Perlindungan dan pembelaan pada kelompok masyarakat yang diperlakukan tidak adil, merupakan tanggung jawab moral kemanusiaan. Sepanjang hidupnya, Gus Dur rela dan mengambil tanggung jawab itu, ia berfikir dan berjuang untuk menciptakan keadilan ditengah-tengah masyarakat. KESETARAAN Kesetaraan bersumber dari pandangan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama dihadapan tuhan. Kesetaraan meniscayakan adanya perilaku yang adil, hubungan yang sederajat, ketiadaan diskriminasi dan subordinasi, serta marjinalisasi dalam masyarakat. Nilai kesetaraan ini, sepanjang kehidupan Gus Dur, tampak jelas ketika melakukan pembelaan dan pemihakan terhadap kaum tertindas dan dilemahkan termasuk di dalamnya adalah kelompok minoritas dan kaum marjinal. PEMBEBASAN Pembebasan bersumber dari pandanagan bahwa setiap manusia memiliki tanggung jawab untuk menegakkan kesetaraan dan keadilan, untuk melepaskan diri dari berbagai belenggu. Semangat pembebasan hanya di miliki oleh jiwa yang merdeka, bebas dari rasa takut, dan otentik. Dengan nilai pembebasan ini, Gus Dur selalu mendorong dan memfasilitasi tumbuhnya jiwa-jiwa merdeka yang mampu membebaskan dirinya dan manusia lain. KESEDERHANAAN Kesederhanaan bersumber dari jalan pikiran substansial, sikap dan prilaku hidup yang wajar dan patut. Kesederhanaan menjadi konsep kehidupan yang di hayati dan di lakoni sehingga menajadi jati diri. Kesederhanaan menjadi budaya perlawanan atas sikap berlebihan, matelistis, dan koruptif. Kesederhanaan Gus Dur dalam segala aspek kehidupannya menjadi pembelajaran dan keteladanan. PERSAUDARAAN Persaudaraan bersumber dari prinsip-prinsip penghargaan atas kemanusiaan, keadilan, kesetaraan dan semangat mengerakkan kebaikan. Persaudaraan menjadi dasar untuk memajukan peradapan. Sepanjang hidupnya, Gus Dur memberi teladan dan menekankan pentingnya menjunjung tinggi persaudaraan dalam masyarakat, bahkan terhadap yang berbeda keyakinan dan pemikira. KESATRIAAN Kesatriaan bersumber dari keberaniaan untuk memperjuangkan dan menegakkan nilai-nilai yang di yakini dalam mencapai keutuhan tujuan yang ingin diraih. Proses perjuangan dilakukan dengan mencerminankan intergritas pribadi; penuh rasa tanggungjawab atas proses yang harus dijalani dan konsekuensi yang dihadapi, komitmen yang tinggi serta istiqomah. Kesatriaan yang dimiliki Gus Dur mengedepankan kesabaran dan keikhlasan dalam menjalani proses, seberat apapun, serta dalam menyikapi hasil yang dicapainya. KEARIFAN LOKAL Kearifan lokal bersumber dari nilai-nilai sosial-budaya yang berpijak pada tradisi dan prektik terbaik kehidupan masyarakat setempat. Kearifan lokal indonesia di antaranya berwujud dasar negara pancasila, konstitusi UUD 45, prinsip Bhineka Tunggal Ika dan seluruh tata nilai kebudayaan Nusantara yang beradap. Gus Dur mengerakkan kearifan lokal dan menjadikannya sebagai sumber gagasan dan pijakan sosial-budaya-politik dalam membumikan keadilan, kesetaraan dan kemanusiaan, tanpa kehilangan sikap terbuka dan progresif terhadap perkembangan peradapan.

Pendidikan Kaum Pinggiran (GARUDA MALANG)

Menurut UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, dinyatakan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar yag dilakukan agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran dan/atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat. Pendidikan merupakan satu aspek yang penting di dalam kehidupan manusia bahkan pendidikan tak mungkin dapat di pisahkan dari kehidupan manusia itu sendiri.

Dan sejatinya Pendidikan itu mulai tersentuh sejak seseorang itu dilahirkan hingga putusnya gertakan denyut nadi terakhirnya. Dimana bebagai ranah Pendidikan bagi manusia meliputi aspek jasmani, rohani, akal dan sosial. “Para orang tua mendidik anaknya pada substansinya supaya badannya sehat dan kuat, akalnya waras dan cerdas, rohaninya luhur dan berbudi pekerti tinggi, mampu hidup bermasyarakat dan menyesuaikan diri dalam kelompoknya” .

Pada konten yang lain, Kaum pinggiran kita bisa mendefinisikan sebagai sekumpulan dari orang-orang yang termarginalkan. Kaum pinggiran adalah kelompok masyarakat yang terpinggirkan dan adakalanya juga dipinggirkan. Bagi kaum marginal, hampir tiada asa bagi suara mereka. Hampir tiada asa bagi seruan memperbaiki nasib, Malahan seringkali tiada asa bagi pencerahan masa depan mereka. Kaum marginal adalah sebuah realitas sosial.Mereka ada dan keberadaannya menyublim dengan tatanan kehidupan sosial kita. Karena itu, tidak akan salah  jika kaum marginal diberdayakan. Agar keberadaan mereka tidak lagi sekedar “pelengkap penderita ” dalam tatanan kehidupan masyarakat.

Secara umum, mereka yang tergolong masyarakat terpinggirkan adalah orang miskin, gelandangan, pemulung, kaum buruh dengan gaji rendah, anak jalanan, para penyandang cacat, terjangkit penyakit HIV dan AIDS, masyarakat tradisional, Korban perdagangan manusia, korban kekerasan domestik, remaja yang mengalami konflik dengan hukum, buruh tani, pekerja seks, dan lainnya. Mereka terpinggirkan karena tekanan ekonomi, sosial, budaya, dan politik, termasuk kebijakan dan program pemerintah yang tidak berpihak.

Peranan pendidikan di kalangan kaum yang termarginalkan lebih cendrung pada ranah pendidikan non formal. Hal ini akan terlihat sebagai ruang pemasalahan yang cukup komplit dimana peran pendidik harus bersentuhan langsung dengan peserta didik (masyarakat) yang terlanda berbagai masalah, yakni pada aspek ekonomi (kemiskinan), pendidikan (putus sekolah), sosial (pengangguran), sumber daya manusia (rendahnya ketrampilan yang dimiliki) dan lain sebagainya. Dengan kata lain, pendidikan non formal menitik beratkan pada pemberdayaan “masyarakat sampah” atau masyarakat yang bermasalah secara kolektif.

Mengutip beberapa tulisan yang ada, dinyatakan bahwa keberadaan kaum pinggiran dapat dikatagorikan sebagai kaum buruh rendahan, kaum imigran kota (pemukinan kumuh dan padat), masyarakat di daerah perbatasan, maupun masyarakat desa tertinggal karena faktor sumber daya alam yang tidak mendukung.   

Keberadaan mereka pelan tapi pasti menjadi penyebab terjadinya akumulasi segala bentuk penyakit masyarakat seperti pelacuran, gelandangan / pengemis, anak jalanan, pencurian, perampokan, human trafficking, narapidana, dan lain - lain di suatu negara. Dengan demikian masyarakat (kaum) marjinal ini bila tidak diberdayakan melalui pemberian solusi yang tepat, maka berarti pula ini disiapkan untuk menjadi benih bom waktu yang dahsyat untuk merusak sendi - sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dengan demikian menurut penulis, bahwa kondisi masyarakat marjinal bila dibiarkan berlarut-larut akan berdampak pada beberapa persoalan :
a.   Semakin banyaknya angka putus sekolah (drop out) dan buta huruf di kalangan mereka.
b.   Semakin menurunya kualitas SDM
c.   Semakin tingginya angka pengangguran.
d.   Semakin tingginya penyakit – penyakit sosial masyarakat dan kerawanan sosial.
e.   Indeks kemajuan pendidikan di Indonesia semakin tertinggal dengan negara – negara lain.

Suggetion:
Keberadaan masyarakat marjinal di sekitar kita merupakan fenomena yang wajar dan harus diterima sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Kita tidak dapat menghindar dari kenyataan tersebut sehingga tidak perlu saling menuding dan menyalahkan penyebab dari keberadaan mereka, Yang perlu digarisbawahi adalah bagaimana upaya kita sebagai bagian keluarga besar bangsa Indonesia ini untuk turut serta mencari solusi sebagai jalinan, tantangan dan tanggung jawab sosial dalam rangka pemberdayaan agar mereka tidak berkelanjutan bernafas dalam keterpurukan.

*artikel ini disajikan pada forum kajian rutin Gerakan GUSDURian Muda(GARUDA)Malang|04- 05- 2012|19.30wib|di ged-B Uin Maliki :)

Friday, December 28, 2012

Mars Rayon PMII "Pencerahan" Galileo



Lihatlah malam tlah tiba
Aku kaLihatlah malam tlah tiba
Aku kan jemput impian
Pagi esok kan ku bawa perubahan
Aku ragu dengan yang ada

Bersama kita berjuang
Meraih satu impian
Menuju sebuah pencerahan
Tinggalkan sang kegelapan

Hari ini gagal esok pasti menang
Karena pengalamanku telah bertambah
Dan akhirnya ku berhasil raih mimpiku
Meski tiada satupun yang mempercayaiku
dan jemput impian
Pagi esok kan ku bawa perubahan
Aku ragu dengan yang ada

Sejarah Rayon PMII "Pencerahan" Galileo

 
Dalam pepatah Arab mengatakan “Syubhanul Yaum Rijaalul Ghoddi” Pemuda sekarang adalah Pemimpin Masa depan, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon “Pencerahan” Galileo, merupakan salah satu organisasi Mahasiswa Islam berbasis eksact “Sains dan Teknologi” yang mandiri yang secara struktural berada dibawah naungan PMII Komisariat Sunan Ampel UIN Malang, sedangakan hubungan dengan Nahdatul Ulama (NU) masih tetap terikat dalam bingkai garis Kultural. Pada awalnya kader-kader PMII yang ada pada jurusan tadris matematika dan biologi (yang pada saat itu keberadaannya masih dibawah naungan Rayon Chondrodhimuko/ Fakultas Tarbiyah) berinisiatif untuk memisahkan diri dengan Rayon condrodimuko karena sangat merasa belum maksimal dalam berfikir, bersikap,bertindak, beraktualisasi diri, serta menggali potensi diri secara mandiri,sekaligus dirasa kurang efektif dalam aktifitas pengkaderannya. disertai dengan prinsip pengembangan organisasi dengan sebuah Tujuan untuk membentuk Sebuah pribadi yang dengan segala kapasitas pribadinya terasah, kemudian mengarahkan semua kualitas pribadinya bagi kepentingan Masyarakat dan bangsa.
 Berangkat dari Latar belakang dan Kegelisahan di atas Serta besamaan dengan adanya pemisahan fakultas yang semula Matematika dan Biologi adalah jurusan tadris (pendidikan) dibawah Fakultas Tarbiyah menjadi jurusan murni di bawah Fakultas MIPA (yang sekarang berubah menjadi Fakultas Sains dan Teknologi). Akhirnya aspirasi dan inisiatif pembentukan Rayon  baru dibawa dalam sebuah Loka karya pengembangan organisasi (LPO) Komisariat Suanan Ampel Uin Malang periode 1999-2000, akhirnya setelah mendapat restu dari ketua Rayon Condrodhimuko (sahabat M. Quraisyi) sekaligus ketua komisariat (Sahabat Alamul Huda) pada saat itu, dideklarasikanlah berdirinya Rayon “Pencerahan” Galileo pada tanggal 10 Juni 2000 di gedung J-4 STAIN Malang (Sekarang menjadi gedung B UIN)
Sedangakan untuk nama Rayon sendiri sebelumnya dari kader-kader Biologi mengusulkan nama Ibnu Sina, karena dinilai memiliki disiplin keilmuwan yang paham dalam bidang kedokteran, selanjuntya kader-kader dari jurusan Matematika mengusulkan  Galileo yang di anggap sebagai Scientist yang dikenal dengan pola disiplin keilmuawnnya yang sekaligus secara konsensus di sepakati untuk di jadikan sebagai nama Rayon yang nantinya akan mewadahi semua kader Mipa pada saat itu.
Dalam keberadaannya sekaligus perjalanan sejarahnya Rayon” Pencerahan” Galileo sebagai wahana profesionalitas dan intelektualitas seta kaderisasi mahasiswa di lingkungan fakultas Saintek, telah mengalami 11 periodesasi pengurus yang pertama yakni Sahabat Herianto (2000-2001), Sahabat Khilwan Habibi (2001-2002), Sahabat Hendrik Ahyar (2002-2003), Sahabat Mubin Masduki(2003-2004), Sahabat Bambang Riadi (2004-2005). Sahabat Yusuf Afandi (2005-2006), Sahabat Agus Saifurrohim (2006-2007), Sahabat Ahmad Sadzily (2007-2008), Sahabat Barokat Anas Al-Hadi (2008-2009), Sahabat Arief Nurhandika(2009-2010), dan Sahabat M. Yasin Arif(2010-2011).
Sebagai salah satu organisasi kemahasiswaan Rayon “Pencerahan” Galileo  bergerak di bidang pengkaderan dan terus berusaha menjadi wahana aktualisasi serta untuk menggali potensi diri dalam dunia pergerakan dan dunia akademiknya untuk ‘Terbentuknya pribadi muslim yang bertaqwa kepada Allah swt. berbudi luhur, berilmu, cakap, dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmu pengetahuannya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia’.  (Visi Misi PMII ).
Rayon “Pencerahan” Galileo yang beranggotakan mahasiswa berbasis eksakta, Sebagian orang mengatakan mahasiswanya terkesan individualis dan  praktis. Karena hal yang demikianlah Rayon “Pencerahan” Galileo dituntut untuk berupaya membuka pola pikir warga eksakta menjadi warga eksak yang berpikiran luas, mempunyai paradigma kritis transformatif, profesional,ilmiah (positif) dan dinamis. dan mengaktualisasikan diri sebagai sebuah citra diri “Ulul Albab”. (Semoga sedikit pengetahuan diatas bermanfaat bagi Sahabat-Sahabati Mahasiwa).Amien
Wallahul Muwaffiq Ilaa Aqwamith Thorieq
Wassalamualaikum Wr. Wb
by http://rayonpmiipencerahangalileo.blogspot.com/

Sejarah Teater Galileo "TEGAL" (PMII)

TEGAL Adalah Singkatan dari "Teater Galileo", Teater galileo Adalan sebuah Komunitas Teater yang berada di Dibawah Organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon pencerahan Galileo "Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang" Komisariat sunan Ampel PMII Cabang Kota Malang.
Tegal didirikan oleh bidang gerakan rayon “pencerahan” galileo periode 2004-2005 pada tanggal 25 Oktober 2004
Perumusan TEGAL dilaksanakan selama 11 hari di UIN malang, dengan berbagai pertimbangan akhirnya dipilih dan ditetaokan nama TEGAL sebagai simbol dari teater PMII Rayon Galileo, diantara nama-nama yanng diusulkan adalah Teater Air dan Teater Krikil.
TEGAL di deklarasikan pada tanggal 4 Maret 2005 di Aula Gedung B, dengan mementaskan naskah berjudul “untuk Rakyatku”

PENDIRI TEGAL
SIGIT MUSTOFA (Matematika '02)
DEWI FATIMAH (Kimia '03)
ZAENAL FUADI (Biologi '03)
ARMY OKTASIANI HAMIDAH (Kimia '03)
SITI FATIMAH (Fisika '03)

TUJUAN
MENCETAK KADER YANG PEKA BUDAYA
MENCETAK KADER YANG BERPRESTASI DALAM PENINGKATAN SENI DAN BUDAYA
MENCIPTAKAN SUASANA HARMONIS DAN SELARAS

VISI:
Teater galileo (TEGAL) adalah lembaga otonom yang bergerak dalam bidang pengembangan seni dan budaya dan organ taktis PMII Rayon “Pencerahan” Galileo dalam mencetak seniman-seniman yang bertaqwa, intelektual, profesional dan peka terhadap fenomena sosial serta menjadi pusat pengembangan seni dan budaya.

MISI:
Menggali potensi dan kreativitas kader di bidang seni
Menjadikan TEGAL sebagai wahana komunikasi dan pengembangan seni dan budaya
Berperan aktif dalam mengembangkan, meningkatkan dan menyebarkan peninggalan budaya bangsa

MOTTO
MENGGERAKKAN BUDAYA, MEMBUDAYAKAN GERAKAN
by  


Monday, December 24, 2012

Hitam Putih PMII

Ide dasar berdirinya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) bermula dari adanya hasrat kuat para mahasiswa Nahdliyin untuk membentuk suatu wadah (organisasi) mahasiswa yang berideologi Ahlussunnah Waljama’ah (aswaja). Ide ini tak dapat dipisahkan dari eksistensi IPNU-IPPNU (Ikatan Pelajar Nahadlatul Ulama - Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama), secara historis, PMII merupakan mata rantai dari departemen perguruan tinggi IPNU yang dibentuk dalam muktamar III IPNU di Cirebon Jawa Barat pada tanggal 27 - 31 Desember 1958. Di dalam wadah IPNU-IPPNU ini banyak terdapat mahasiswa yang menjadi anggotanya, bahkan mayoritas fungsionaris pengurus pusat IPNU-IPPNU berpredikat sebagai mahasiswa.  Itulah sebabnya, keinginan dikalangan mereka untuk membentuk suatu wadah khusus yang menghimpun para mahasiswa nahdliyin. Pemikiran ini sempat terlontar pada muktamar II IPNU tanggal 1 - 5 Januari di Pekalongan Jawa Tengah. tetapi para pucuk pimpinan IPNU sendiri tidak menanggapi secara serius. Hal ini mungkin dikarenakan kondisi di dalam IPNU sendiri masih perlu pembenahan, yakni banyaknya fungsionaris IPNU yang telah berstatus mahasiswa, sehingga dikhawatirkan bila wadah khusus untuk mahasiswa ini berdiri akan mempengaruhi perjalanan IPNU yang baru saja terbentuk, Tetapi aspirasi kalangan mahasiswa yang tergabung dalam IPNU ini makin kuat, hal ini terbukti pada muktamar III IPNU di Cirebon Jawa Barat, pucuk pimpinan IPNU didesak oleh para peserta muktamar membentuk suatu wadah khusus yang akan menampung para mahasiswa nahdliyin, namun secara fungsional dan struktur organisatoris masih tetap dalam naungan IPNU, yakni dalam wadah departemen perguruan tinggi IPNU.

Download lengkap Buku Hitam putih PMII