Showing posts with label Kimia Dasar. Show all posts
Showing posts with label Kimia Dasar. Show all posts
Saturday, January 12, 2013
Wednesday, January 2, 2013
Termodinamika
Oleh: Tarosaito
Reaksi anorganik dapat dideskripsikan dengan konsep redoks atau asam
basa. Termodinamika dan elektrokimia sangat erat kaitannya dengan
analisis reaksi redoks dan asam basa. Walaupun nampaknya teori
termodinamika dan elektrokimia dideskripsikan dengan sejumlah persamaan
dan rumus yang rumit, hanya beberapa persamaan dan parameter yang
diperlukan untuk pemahaman yang layak. Pemahaman yang baik tentang
tanda dan kecenderungan parameter dalam persamaan-persamaan penting ini
akan sangat membantu pemahaman. Pemahaman lebih detail di luar bahasan
di sini dapat diperoleh dengan memperluas kosep-konsep dasar ini.
3.1 Termodinamika
Parameter
termodinamika untuk perubahan keadaan diperlukan untuk mendeskripsikan
ikatan kimia, sruktur dan reaksi. Hal ini juga berlaku dalam kimia
anorganik, dan konsep paling penting dalam termodinamika dipaparkan di
bagian ini. Pengetahuan termodinamika sederhana sangat bermanfaat untuk
memutuskan apakah struktur suatu senyawa akan stabil, kemungkinan
kespontanan reaksi, perhitungan kalor reaksi, penentuan mekanisme reaksi
dan pemahaman elektrokimia.
Entalpi Karena
entalpi adalah kandungan kalor sistem dalam tekanan tetap, perubahan
∆H bernilai negatif untuk reaksi eksoterm, dan positif untuk reaksi
endoterm. Entalpi reaksi standar, ∆H0, adalah perubahan
entalpi dari 1 mol reaktan dan produk pada keadaan standar (105 Pa dan
298.15 K). Entalpi pembentukan standar, ∆Hf0, suatu senyawa
adalah entalpi reaksi standar untuk pembentukan senyawa dari
unsur-unsurnya. Karena entalpi adalah fungsi keadaan, entalpi reaksi
standar dihitung dengan mendefinisikan entalpi pembentukan zat sederhana
(unsur) bernilai nol. Dengan demikian:
Entropi
Entropi adalah fungsi keadaan, dan merupakan kriteria yang menentukan
apakah suatu keadaan dapat dicapai dengan spontan dari keadaan lain.
Hukum ke-2 termodinamika menyatakan bahwa entropi, S, sistem yang
terisolasi dalam proses spontan meningkat. Dinyatakan secara matematis
∆S > 0
Proses
yang secara termodinamika ireversibel akan menghasilkan entropi.
Entropi berkaitan dengan ketidakteraturan sistem dalam termodinamika
statistik, menurut persamaan:
S = klnW .
k
adalah tetapan Boltzmann, dan W adalah jumlah susunan atom atau molekul
dalam sistem dengan energi yang sama, dan berhubungan dengan besarnya
ketidakteraturan. Dengan meningkatnya entropi, meningkat pula
ketidakteraturan sistem.
Energi bebas Gibbs Kuantitas ini didefinisikan dengan:
∆G = ∆H – T∆S
reaksi
spontan terjadi bila energi Gibbs reaksi pada suhu dan tekanan tetap
negatif. Perubahan energi bebas Gibbs standar berhubungan dengan tetapan
kesetimbangan reaksi A = B melalui:
∆ G0 = -RT ln K.
K bernilai lebih besar dari 1 bila ∆G0 negatif, dan reaksi berlangsung spontan ke kanan.
Larutan (Sifat Kologatif larutan)
Wednesday, January 02, 2013
Kimia Dasar, Larutan, Materi Kuliah, Sifat Koligatif Larutan
No comments
LARUTAN
1. Sifat Dasar
Larutan
Larutan adalah campuran yang bersifat homogen antara
molekul, atom ataupun ion dari dua zat atau lebih. Disebut campuran karena
susunannya atau komposisinya dapat berubah. Disebut homogen karena susunanya
begitu seragam sehingga tidak dapat diamati adanya bagian-bagian yang
berlainan, bahkan dengan mikroskop optis sekalipun.Fase larutan dapat berwujud
gas, padat ataupun cair. Larutan gas misalnya udara. Larutan padat misalnya
perunggu, amalgam dan paduan logam yang lain. Larutan cair misalnya air laut,
larutan gula dalam air, dan lain-lain. Komponen larutan terdiri dari pelarut (solvent)
dan zat terlarut (solute). Pada bagian ini dibahas larutan cair. Pelarut cair
umumnya adalah air. Pelarut cair yang lain misalnya bensena, kloroform, eter,
dan alkohol.
2. Kelarutan
Sebutir kristal gula pasir merupakan gabungan dari beberapa
molekul gula. Jika kristal gula itu dimasukkan ke dalam air, maka
molekul-molekul gula akan memisah dari permukaan kristal gula menuju ke dalam
air (disebut melarut). Molekul gula itu bergerak secara acak seperti gerakan
molekul air, sehingga pada suatu saat dapat menumbuk permukaan kristal gula
atau molekul gula yang lain. Sebagian molekul gula akan terikat kembali dengan
kristalnya atau saling bergabung dengan molekul gula yang lain sehingga kembali
membentuk kristal (mengkristal ulang). Jika laju pelarutan gula sama dengan
laju pengkristalan ulang, maka proses itu berada dalam kesetimbangan dan
larutannya disebut jenuh.
Kristal gula + air
⇔
larutan gula
Larutan jenuh adalah larutan yang mengandung zat terlarut
dalam jumlah yang diperlukan untuk adanya kesetimbangan antara solute yang
terlarut dan yang tak terlarut. Banyaknya solute yang melarut dalam pelarut
yang banyaknya tertentu untuk menghasilkan suatu larutan jenuh disebut
kelarutan (solubility) zat itu. Kelarutan umumnya dinyatakan dalam gram zat
terlarut per 100 mL pelarut, atau per 100 gram pelarut pada temperatur yang tertentu.
Jika kelarutan zat kurang dari 0,01 gram per 100 gram pelarut, maka zat itu dikatakan
tak larut (insoluble). Jika jumlah solute yang terlarut kurang dari
kelarutannya, maka larutannya disebut tak jenuh (unsaturated). Larutan tak
jenuh lebih encer (kurang pekat) dibandingkan dengan larutan jenuh. Jika jumlah
solute yang terlarut lebih banyak dari kelarutannya, maka larutannya disebut
lewat jenuh (supersaturated). Larutan lewat jenuh lebih pekat daripada larutan
jenuh.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan antara lain jenis
zat terlarut, jenis pelarut, temperatur, dan tekanan.
a. Pengaruh Jenis Zat
pada Kelarutan
Zat-zat dengan struktur kimia yang mirip umumnya dapat
saling bercampur dengan baik, sedangkan zat-zat yang struktur kimianya berbeda
umumnya kurang dapat saling bercampur (like dissolves like). Senyawa yang
bersifat polar akan mudah larut dalam pelarut polar, sedangkan senyawa nonpolar
akan mudah larut dalam pelarut nonpolar. Contohnya alkohol dan air bercampur
sempurna (completely miscible), air dan eter bercampur sebagian (partially
miscible), sedangkan minyak dan air tidak bercampur (completely immiscible).
b. Pengaruh
Temperatur pada Kelarutan
Kelarutan gas umumnya berkurang pada temperatur yang lebih
tinggi. Misalnya jika air dipanaskan, maka timbul gelembung-gelembung gas yang
keluar dari dalam air, sehingga gas yang terlarut dalam air tersebut menjadi
berkurang. Kebanyakan zat padat kelarutannya lebih besar pada temperatur yang
lebih tinggi. Ada beberapa zat padat yang kelarutannya berkurang pada
temperatur yang lebih tinggi, misalnya natrium sulfat dan serium sulfat. Pada larutan
jenuh terdapat kesetimbangan antara proses pelarutan dan proses pengkristalan kembali.
Jika salah satu proses bersifat endoterm, maka proses sebaliknya bersifat
eksoterm. Jika temperatur dinaikkan, maka sesuai dengan azas Le Chatelier
(Henri Louis Le Chatelier: 1850-1936)
kesetimbangan itu bergeser ke arah proses endoterm. Jadi jika proses pelarutan bersifat
endoterm, maka kelarutannya bertambah pada temperatur yang lebih tinggi. Sebaliknya
jika proses pelarutan bersifat eksoterm, maka kelarutannya berkurang pada suhu yang
lebih tinggi.
c. Pengaruh tekanan
pada kelarutan
Perubahan tekanan pengaruhnya kecil terhadap kelarutan zat
cair atau padat. Perubahan tekanan sebesar 500 atm hanya merubah kelarutan NaCl
sekitar 2,3 % dan NH4Cl sekitar 5,1 %. Kelarutan gas sebanding dengan tekanan
partial gas itu. Menurut hukum Henry
(William Henry: 1774-1836) massa gas yang melarut dalam sejumlah
tertentu cairan (pelarutnya) berbanding lurus dengan tekanan yang dilakukan
oleh gas itu (tekanan partial), yang berada dalam kesetimbangan dengan larutan
itu. Contohnya kelarutan oksigen dalam air bertambah menjadi 5 kali jika
tekanan partial-nya dinaikkan 5 kali. Hukum ini tidak berlaku untuk gas yang
bereaksi dengan pelarut, misalnya HCl atau NH3 dalam air.
3. Konsentrasi
Larutan
Konsentrasi larutan menyatakan banyaknya zat terlarut dalam
sejumlah tertentu larutan. Secara fisika konsentrasi dapat dinyatakan dalam %
(persen) atau ppm (part per million) =
bpj (bagian per juta). Dalam kimia, konsentrasi larutan dinyatakan dalam molar (M),
molal (m) atau normal (N).
4. Daya Hantar
Listrik Larutan
Berdasarkan daya hantar listriknya, larutan dapat bersifat
elektrolit atau nonelektrolit. Larutan yang dapat menghantarkan arus listrik
disebut larutan yang bersifat elektrolit. Larutan yang tidak dapat
menghantarkan arus listrik disebut larutan yang bersifat nonelektrolit. Pada
larutan elektrolit, yang menghantarkan arus listrik adalah ion-ion yang terdapat
di dalam larutan tersebut. Pada elektroda negatif (katoda) ion positip
menangkap elektron (terjadi reaksi reduksi), sedangkan pada elektroda positip
(anoda) ion negatif melepaskan elektron (terjadi reaksi oksidasi). Jika di
dalam larutan tidak terdapat ion, maka larutan tersebut tidak dapat
menghantarkan arus listrik.
Senyawa elektrolit adalah senyawa yang jika dilarutkan ke
dalam air akan terion (atau terionisasi). Senyawa elektrolit dapat dibedakan
menjadi senyawa elektrolit kuat dan senyawa elektrolit lemah. Senyawa
elektrolit kuat adalah senyawa yang di dalam air terion sempurna atau mendekati
sempurna, sehingga senyawa tersebut semuanya atau hampir semua berubah menjadi
ion. Senyawa yang termasuk senyawa elektrolit kuat adalah:
a. Asam kuat, contohnya: HCl, HBr, HI, H2SO4, HNO3, HCLO4
b. Basa kuat, contohnya: NaOH, KOH, Ba(OH)2, Sr(OH)2
c. Garam, contohnya: NaCl, KCl, MgCl2, KNO3, MgSO4
Partikel-partikel yang ada di dalam larutan elektrolit kuat
adalah ion-ion yang bergabung dengan molekul air, sehingga larutan tersebut
daya hantar listriknya kuat. Hal ini disebabkan karena tidak ada molekul atau
partikel lain yang menghalangi gerakan ion-ion untuk menghantarkan arus
listrik, sementara molekul-molekul air adalah sebagai media untuk pergerakan
ion. Misalnya HCl dilarutkan ke dalam air, maka semua HCl akan bereaksi dengan
air dan berubah menjadi ion-ion dengan persamaan reaksi berikut:
HCl (g) + H2O ( l ) →
H3O+(aq) + Cl− (aq)
Reaksi ini biasa dituliskan:
HCl (aq) → H+(aq) + Cl−
(aq)
Senyawa elektrolit lemah adalah senyawa yang di dalam air
terion sebagian atau senyawa tersebut hanya sebagian saja yang berubah menjadi
ion dan sebagian yang lainnya masih sebagai molekul senyawa yang terlarut.
Larutan yang terbentuk daya hantar listriknya lemah atau kurang kuat karena
molekul-molekul senyawa (yang tidak terion) dalam larutan tidak dapat
menghantarkan listrik, sehingga menghalangi ion-ion yang akan menghantarkan listrik.
Senyawa yang termasuk senyawa elektrolit lemah adalah:
a. Asam lemah, contohnya: HF, H2S, HCN, H2CO3, HCOOH,
CH3COOH
b. Basa lemah, contohnya: Fe(OH)3 , Cu(OH)2 , NH3, N2H4,
CH3NH2, (CH3)2NH
Misalnya CH3COOH dilarutkan ke dalam air, maka sebagian
CH3COOH akan terion dengan persamaan reaksi seperti berikut:
CH3COOH (s) + H2O ( l ) →
H3O+ (aq) + CH3COO− (aq)
CH3COOH yang terion reaksinya biasa dituliskan:
CH3COOH (aq) → H+ (aq) +
CH3COO− (aq)
Ion-ion yang telah terbentuk sebagian bereaksi kembali
membentuk CH3COOH, sehingga dikatakan CH3COOH yang terion hanya sebagian.
Reaksinya dapat dituliskan:
CH3COOH (aq) ⇔ H+ (aq) +
CH3COO− (aq)
Partikel-partikel yang ada di dalam larutan adalah
molekul-molekul senyawa CH3COOH yang terlarut dan ion-ion H+ dan CH3COO−.
Molekul senyawa CH3COOH tidakdapat menghantarkan arus listrik, sehinggga akan
menjadi penghambat bagi ion-ion H+ dan CH3COO− untuk menghantarkan arus
listrik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa larutan elektrolit lemah daya
hantar listriknya kurang kuat.
Senyawa nonelektrolit adalah senyawa yang di dalam air tidak
terion, sehingga partikel-partikel yang ada di dalam larutan adalah
molekul-molekul senyawa yang terlarut. Dalam larutan tidak terdapat ion,
sehingga larutan tersebut tidak dapat menghantarkan arus listrik. Kecuali asam
atau basa, senyawa kovalen adalah senyawa nonelektrolit, contohnya:
C6H12O6, CO(NH2)2, CH4, C3H8, C13H10O.
5. Sifat Koligatif Larutan Non-elektrolit
Sifat larutan berbeda dengan sifat pelarut murninya.
Terdapat empat sifat fisika yang penting yang besarnya bergantung pada
banyaknya partikel zat terlarut tetapi tidak bergantung pada jenis zat
terlarutnya. Keempat sifat ini dikenal dengan sifat koligatif larutan. Sifat
ini besarnya berbanding lurus dengan jumlah partikel zat terlarut. Sifat
koligatif tersebut adalah tekanan uap, titik didih, titik beku, dan tekanan
osmosis. Menurut hukum sifat koligatif, selisih tekanan uap, titik beku, dan
titik didih suatu larutan dengan tekanan uap, titik beku, dan titik didih
pelarut murninya, berbanding langsung dengan konsentrasi molal zat terlarut.
Larutan yang bisa memenuhi hukum sifat koligatif ini disebut larutan ideal. Kebanyakan
larutan mendekati ideal hanya jika sangat encer.
Untuk mendapatkan materi lengkap Larutan dan sifat kologatif larutan download disini
Untuk mendapatkan materi lengkap Larutan dan sifat kologatif larutan download disini
Wujud Zat
Oleh: Ratna dkk
Setiap saat, kita berinteraksi dengan
benda-benda di sekitar kita seperti udara, air, dan bangunan.
Benda-benda tersebut mempunyai wujud yang berbeda-beda, dan
dikelompokkan sebagai gas, cair dan padat. Setiap kelompok mempunyai
ciri-ciri dan sifat-sifat yang akan dipelajari dalam bab ini.
Diantaranya adalah susunan dan gerakan molekul penyusun zat.
Molekul-molekul wujud gas mempunyai susunan yang berjauhan dan setiap
molekul bebas bergerak. Cairan dan padatan mempunyai susunan molekul
yang berdekatan, dimana pada cairan, molekul masih bisa bergerak dengan
bebas, sementara molekul pada padatan tidak bebas bergerak atau tetap
pada posisinya.
Contoh :
Air
mempunyai wujud cair pada suhu ruang, akan berubah wujudnya menjadi
padat apabila didinginkan, dan menjadi gas apabila dipanaskan. Ini
merupakan perubahan fisika karena tidak menghasilkan materi dengan sifat
yang baru.

Susunan molekul: (a) gas, (b) cair, dan (c) padat, serta perubahan wujudnya
Keadaan Gas
Ciri-ciri gas :
- Gas mempunyai susunan molekul yang berjauhan, kerapatan rendah/tidak memiliki volume dan bentuk tetap/selalu bergerak dengan kecepatan tinggi.
- Campuran gas selalu uniform (serba sama).
- Gaya tarik-menarik antar partikel dapat diabaikan.
- Laju suatu partikel selalu berubah-ubah tapi laju rata-rata partikel-partikel gas pada suhu tertentu adalah konstan.
- Gas dapat dimampatkan.
- Gas dapat dalam bentuk atom tunggal seperti golongan gas mulia (He, Ar, Xe), diatomic (H2, O2, F2), dan senyawa (NO, CO2, H2S).

Bentuk gas: tunggal, diatomik, dan senyawa
Udara
Susunan
udara baru diketahui pada akhir abad ke-18 sewaktu Lavoisier, Priestly,
dan lainnya menunjukkan bahwa udara terutama terdiri atas dua zat :
oksigen dan nitrogen.
Oksigen dicirikan
oleh kemampuannya mendukung kehidupan. Hal ini dikenali jika suatu
volume oksigen habis (dengan membakar lilin pada tempat tertutup,
misalnya), dan nitrogen yang tersisa tidak lagi dapat mempertahankan
hewan hidup. Lebih dari 100 tahun berlalu sebelum udara direanalisis
secara cermat, yang menunjukkan bahwa oksigen dan nitrogen hanya
menyusun 99% dari volume total, dan sebagian besar dari 1% sisanya
adalah gas baru yang disebut “argon”. Gas mulia lainnya (helium, neon,
krypton, dan xenon) ada di udara dalam jumlah yang jauh lebih kecil.
Ada beberapa jenis gas lain yang dijumpai pada permukaan bumi. Metana (CH4)
dihasilkan lewat proses bakteri, terutama di daerah rawa. Metana
merupakan penyusun penting dalam deposit gas alam yang terbentuk selama
jutaan tahun lewat pelapukan materi tumbuhan di bawah permukaan bumi.
Gas dapat juga terbentuk dari reaksi kimia.

Tabel Komposisi Udara
Hukum-hukum Gas
Empat variabel yang menggambarkan keadaan gas:
- Tekanan (P)
- Volume (V)
- Temperatur (T)
- Jumlah mol gas, mol (n)
Hukum-hukum Gas
Boyle, Charles dan Gay-Lussac, Amonton, Avogadro, Dalton, Gas ideal, Kinetika, Gas Nyata.
Hukum Boyle
Robert
Boyle (Gambar 1.10) pada tahun 1622 melakukan percobaan dengan
menggunakan udara. Ia menyatakan bahwa volume sejumlah tertentu gas pada
suhu yang konstan berbanding terbalik dengan tekanan yang dialami gas
tersebut.
Hubungan tersebut dikenal sebagai Hukum Boyle, secara matematis dapat dinyatakan sebagai berikut :

Persamaan diatas berlaku untuk gas-gas yang bersifat ideal.
Contoh :
Silinder panjang pada pompa sepeda mempunyai volume 1131 cm3 dan diisi dengan udara pada tekanan 1,02 atm. Katup keluar ditutup dan tangkai pompa didorong sampai volume udara 517 cm3. Hitunglah tekanan di dalam pompa.

Kurva hubungan antara P – V dan 1/P – V
Penyelesaian :
Perhatikan
bahwa suhu dan jumlah gas tidak dinyatakan pada soal ini, jadi nilainya
22,414 L atm tidak dapat digunakan untuk tetapan C. bagaimanapun, yang
diperlukan adalah pengandaian bahwa suhu tidak berubah sewaktu tangkai
pompa didorong. Jika P1 dan P2 merupakan tekanan awal dan akhir, dan V1 mdan V2 adalah volume awal dan akhir, maka:
P1.V1 = P2.V2
Sebab suhu dan jumlah udara dalam pompa tidak berubah. Substitusi menghasilkan :
(1,02atm)(1131cm3)=P2(517cm3) Sehingga P2 dapat diselesaikan:
P2 = 2,23 atm
Hukum Charles
Pada
tekanan konstan, volume sejumlah tertentu gas sebanding dengan suhu
absolutnya. Hukum di atas dapat dituliskan sebagai berikut:
Hubungan
di atas ditemukan oleh Charles (Gambar 1.12) pada tahun 1787 dan
dikenal sebagai Hukum Charles. Secara grafik, hukum Charles dapat
digambarkan seperti pada gambar di bawah. Terlihat bahwa apabila
garis-garis grafik diekstrapolasikan hingga memotong sumbu X (suhu),
maka garis-garis grafik tersebut akan memotong di satu titik yang sama
yaitu – 273,15 °C. Titik ini dikenal sebagai suhu nol absolute yang
nantinya dijadikan sebagai skala Kelvin. Hubungan antara Celcius dengan
skala Kelvin adalah:
K = °C + 273,15
K = suhu absolut
°C = suhu dalam derajat Celcius

Sama hal-nya dengan hukum Boyle, hukum Charles juga berlaku untuk gas ideal.
Contoh :
Seorang
ilmuan yang mempelajari sifat hidrogen pada suhu rendah mengambil
volume 2,50 liter hidrogen pada tekanan atmosfer dan suhu 25,00 °C dan
mendinginkan gas itu pada tekanan tetap sampai – 200,00 °C. Perkirakan
besar volume hidrogen!
Penyelesaian :
Langkah pertama untuk mengkonversikan suhu ke Kelvin:

Hukum Avogadro
Pada
tahun 1811, Avogadro (Gambar 1.14) mengemukakan hukum yang penting
mengenai sifat-sifat gas. Dia menemukan bahwa pada suhu yang sama,
sejumlah volume yang sama dari berbagai gas akan mempunyai jumlah
partikel yang sama pula banyaknya.
Hukum Avogadro dapat dinyatakan sebagai berikut:
V ≈ n
(V/n = konstan)
n = jumlah mol gas
Satu
mol didefinisikan sebagai massa dari suatu senyawa/zat yang mengandung
atom atau molekul sebanyak atom yang terdapat pada dua belas gram
karbon(12C). Satu mol dari suatu zat mengandung 6,023 x Bilangan Avogadro.

Untuk mendapatkan materi lebih lengkap tentang wujud zat, silahkan download disini
Ikatan Kimia
Hampir semua atom membentuk ikatan dengan atom-atom lain. Tetapi ada enam unsur lain yang tidak
bersifat demikian, yaitu unsur-unsur gas mulia yang terdiri dari: helium (
2He), neon ( 10Ne), argon ( 18Ar), krypton ( 36Kr), xenon ( 54Xe), dan radon ( 86Rn). Unsur-unsur gas mulia hampir
tidak membentuk ikatan dengan atom lain dan karena tidak reaktifnya maka sering
disebut gas inert. Gas mulia yang paling
dikenal adalah helium, neon, dan argon dengan struktur elektron (disebut rumus titik elektron Lewis)
sebagai berikut
Kecuali helium yang memiliki 2 elektron (duplet), semua gas mulia memiliki 8 elektron (oktet) pada kulit terluarnya. Susunan yang demikian menurut Kossel dan Lewis sangat stabil, sehingga atom-atom gas mulia tidak menerima elektron ataupun melepaskan elektron terluarnya. Hal inilah yang menyebabkan mengapa gas mulia sangat stabil.
Atom-atom lain agar stabil berusaha memiliki konfigurasi elektron seperti gas mulia. Kecenderungan ini bisa terjadi dengan membentuk ikatan kimia antar atom yang satu dengan atom lainnya. Cara untuk mencapai hal itu adalah:
Melepaskan elektron terluarnya sehingga terjadi ion positif (kation). Misalnya, atom Na yang tidak stabil melepaskan satu elektron valensinya menjadi ion Na+ dengan konfigurasi elektron seperti neon.
Menerima tambahan elektron dari atom lain sehingga terjadi ion negatif (anion). Misalnya, atom Cl yang tidak stabil menerima tambahan satu elektron, sehingga menjadi ion Cl dengan konfigurasi elektron seperti argon.
Serah terima elektron yang terjadi dari penggabungan kedua cara diatas disebut ikatan ion.
Menggunakan pasangan elektron secara bersama-sama oleh atom-atom yang berikatan.
Atom 17Cl (2. 8. 7) yang tidak stabil bisa
menjadi stabil dengan cara menggunakan bersama satu pasang elekltron dengan
atom klor yang lain sehingga terbentuk molekul fluor, F2.
Dengan demikian masing-masing atom akan memiliki konfigurasi elektron
yang stabil seperti gas mulia argon (2. 8. 8). Pembentukan molekul dengan cara ketiga ini disebut ikatan kovalen.
Untuk Penjelasan lebih lanjut tentang ikatan kimia silahkan download disini
Lahirnya teori atom
Wednesday, January 02, 2013
Kimia, Kimia Dasar, Lahirnya Teori Atom, Materi Kuliah, Stoikiometri
No comments
Oleh: chem-is-try.org
Kimia modern dimulai oleh kimiawan Perancis Antoine Laurent Lavoisier
(1743-1794). Ia menemukan hukum kekekalan massa dalam reaksi kimia, dan
mengungkap peran oksigen dalam pembakaran. Berdasarkan prinsip ini,
kimia maju di arah yang benar.
Sebenarnya oksigen ditemukan secara
independen oleh dua kimiawan, kimiawan Inggris Joseph Priestley
(1733-1804) dan kimiawan Swedia Carl Wilhelm Scheele (1742-1786), di
penghujung abad ke-18. Jadi, hanya sekitar dua ratus tahun sebelum kimia
modern lahir. Dengan demikian, kimia merupakan ilmu pengetahuan yang
relatif muda bila dibandingkan dengan fisika dan matematika, keduanya
telah berkembang beberapa ribu tahun.
Namun alkimia, metalurgi dan
farmasi di zaman kuno dapat dianggap sebagai akar kimia. Banyak
penemuan yang dijumpai oleh orang-orang yang terlibat aktif di
bidang-bidang ini berkontribusi besar pada kimia modern walaupun alkimia
didasarkan atas teori yang salah. Lebih lanjut, sebelum abad ke-18,
metalurgi dan farmasi sebenarnya didasarkan atas pengalaman saja dan
bukan teori. Jadi, nampaknya tidak mungkin titik-titik awal ini yang
kemudian berkembang menjadi kimia modern. Berdasarkan hal-hal ini dan
sifat kimia modern yang terorganisir baik dan sistematik metodologinya,
akar sebenarnya kimia modern mungkin dapat ditemui di filosofi Yunani
kuno.
Jalan dari filosofi Yunani kuno ke teori atom modern tidak
selalu mulus. Di Yunani kuno, ada perselisihan yang tajam antara teori
atom dan penolakan keberadaan atom. Sebenarnya, teori atom tetap tidak
ortodoks dalam dunia kimia dan sains. Orang-orang terpelajar tidak
tertarik pada teori atom sampai abad ke-18. Di awal abad ke-19, kimiawan
Inggris John Dalton (1766-1844) melahirkan ulang teori atom Yunani
kuno. Bahkan setelah kelahirannya kembali ini, tidak semua ilmuwan
menerima teori atom. Tidak sampai awal abad 20 teori ato, akhirnya
dibuktikan sebagai fakta, bukan hanya hipotesis. Hal ini dicapai dengan
percobaan yang terampil oleh kimiawan Perancis Jean Baptiste Perrin
(1870-1942). Jadi, perlu waktu yang cukup panjang untuk menetapkan dasar
kimia modern.
Sebagaimana dicatat sebelumnya, kimia adalah ilmu
yang relatif muda. Akibatnya, banyak yang masih harus dikerjakan sebelum
kimia dapat mengklaim untuk mempelajari materi, dan melalui pemahaman
materi ini memahami alam ini. Jadi, sangat penting di saat awal
pembelajaran kimia kita meninjau ulang secara singkat bagaimana kimia
berkembang sejak kelahirannya.
a. Teori atom kuno
Sebagaimana
disebut tadi, akar kimia modern adalah teori atom yang dikembangkan
oleh filsuf Yunani kuno. Filosofi atomik Yunani kuno sering dihubungkan
dengan Democritos (kira-kira 460BC- kira-kira 370 BC). Namun, tidak ada
tulisan Democritos yang tinggal. Oleh karena itu, sumber kita haruslah
puisi panjang “De rerum natura” yang ditulis oleh seniman Romawi
Lucretius (kira-kira 96 BC- kira-kira 55 BC).

Atom
yang dipaparkan oleh Lucretius memiliki kemiripan dengan molekul
modern. Anggur (wine) dan minyak zaitun, misalnya memiliki atom-atom
sendiri. Atom adalah entitas abstrak. Atom memiliki bentuk yang khas
dengan fungsi yang sesuai dengan bentuknya. ”Atom anggur bulat dan mulus
sehingga dapat melewati kerongkongan dengan mulus sementara atom kina
kasar dan akan sukar melalui kerongkongan”. Teori struktural modern
molekul menyatakan bahwa terdapat hubungan yang sangat dekat antara
struktur molekul dan fungsinya.
Walaupun filosofi yang
terartikulasi oleh Lucretius tidak didukung oleh bukti yang didapat dari
percobaan, inilah awal kimia modern.
Dalam periode yang panjang
sejak zaman kuno sampai zaman pertengahan, teori atom tetap In heretikal
(berlwanan dengan teori yang umum diterima) sebab teori empat unsur
(air, tanah, udara dan api) yang diusulkan filsuf Yunani kuno Aristotole
(384 BC-322 BC) menguasi. Ketika otortas Aristotle mulai menurun di
awal abad modern, banyak filsuf dan ilmuwan mulai mengembangkan teori
yang dipengaruhi teori atom Yunani. Gambaran materi tetap dipegang oleh
filsuf Perancis Rene Descartes (1596-1650), filsuf Jerman Gottfried
Wilhelm Freiherr von Leibniz (1646-1716), dan ilmuwan Inggris Sir Issac
Newton (1642-1727) yang lebih kurang dipengaruhi teori atom.
b. Teori atom Dalton
Di
awal abad ke-19, teori atom sebagai filosofi materi telah dikembangkan
dengan baik oleh Dalton yang mengembangkan teori atomnya berdasarkan
peran atom dalam reaksi kimia. Teori atomnya dirangkumkan sebagai
berikut:
Teori atom Dalton:
(i) partikel dasar yang menyusun unsur adalah atom. Semua atom unsur tertentu identik.
(ii) massa atom yang berjenis sama akan identik tetapi berbeda dengan massa atom unsur jenis lain.
(iii)
keseluruhan atom terlibat dalam reaksi kimia. Keseluruhan atom akan
membentuk senyawa. Jenis dan jumlah atom dalam senyawa tertentu tetap.
Dasar
teoritik teori Dalton terutama didasarkan pada hukum kekekalan massa
dan hukum perbandingan tetap. Keduanya telah ditemukan sebelumnya, dan
hukum perbandingan berganda yang dikembangkan oleh Dalton sendiri.
- Senyawa tertentu selalu mengandung perbandingan massa unsur yang sama.
- Bila dua unsur A dan B membentuk sederet senyawa, rasio massa B yang bereaksi dengan sejumlah A dapat direduksi menjadi bilangan bulat sederhana.
Atom Democritos dapat dikatakan sebagai sejenis
miniatur materi. Jadi jumlah jenis atom akan sama dengan jumlah materi.
Di pihak lain, atom Dalton adalah penyusun materi, dan banyak senyawa
dapat dibentuk oleh sejumlah terbatas atom. Jadi, akan terdapat sejumlah
terbatas jenis atom. Teori atom Dalton mensyaratkan proses dua atau
lebih atom bergabung membentuk materi. Hal ini merupakan alasan mengapa
atom Dalton disebut atom kimia.
Bukti keberadaan atom
Ketika
Dalton mengusulkan teori atomnya, teorinya menarik cukup banyak
perhatian. Namun, teorinya ini gagal mendapat dukungan penuh. Beberapa
pendukung Dalton membuat berbagai usaha penting untuk mempersuasi yang
melawan teori ini, tetapi beberapa oposisi masih tetap ada. Kimia saat
itu belum cukup membuktikan keberadaan atom dengan percobaan. Jadi teori
atom tetap merupakan hipotesis. Lebih lanjut, sains setelah abad ke-18
mengembangkan berbagai percobaan yang membuat banyak saintis menjadi
skeptis pada hipotesis atom. Misalnya, kimiawan tenar seperti Sir
Humphry Davy (1778-1829) dan Michael Faraday (1791-1867), keduanya dari
Inggris, keduanya ragu pada teori atom.
Sementara teori atom masih
tetap hipotesis, berbagai kemajuan besar dibuta di berbagai bidang
sains. Salah satunya adalah kemunculan termodinamika yang cepat di abad
19. Kimia struktural saat itu yang direpresentasikan oleh teori atom
hanyalah masalah akademik dengan sedikit kemungkinan aplikasi praktis.
Tetapi termodinamika yang diturunkan dari isu praktis seperti efisiensi
mesin uap nampak lebih penting. Ada kontroversi yang sangat tajam antara
atomis dengan yang mendukung termodinamika. Debat antara fisikawan
Austria Ludwig Boltzmann (1844-1906) dan kimiawan Jerman Friedrich
Wilhelm Ostwald (1853-1932) dengan fisikawan Austria Ernst Mach
(1838-1916) pantas dicatat. Debat ini berakibat buruk, Boltzmann bunuh
diri.
Di awal abad 20, terdapat perubahan besar dalam minat sains.
Sederet penemuan penting, termasuk keradioaktifan, menimbulkan minat
pada sifat atom, dan lebih umum, sains struktural. Bahwa atom ada secara
percobaan dikonfirmasi dengan percobaan kesetimbangan sedimentasi oleh
Perrin.
Botanis Inggris, Robert Brown (1773-1858) menemukan gerak
takberaturan partikel koloid dan gerakan ini disebut dengan gerak Brow,
untuk menghormatinya. Fisikawan Swiss Albert Einstein (1879-1955)
mengembangkan teori gerak yang berdasarkan teori atom. Menurut teori
ini, gerak Brown dapat diungkapkan dengan persamaan yang memuat bilangan
Avogadro.
D =(RT/N).(1/6παη) (1.1)
D adalah gerakan partikel, R tetapan gas, T temperatur, N bilangan Avogadro, α jari-jari partikel dan η viskositas larutan.
Inti
ide Perrin adalah sebagai berikut. Partikel koloid bergerak secara
random dengan gerak Brown dan secara simultan mengendap ke bawah oleh
pengaruh gravitasi. Kesetimbangan sedimentasi dihasilkan oleh
kesetimbangan dua gerak ini, gerak random dan sedimentasi. Perrin dengan
teliti mengamati distribusi partikel koloid, dan dengan bantuan
persamaan 1.1 dan datanya, ia mendapatkan bilangan Avogadro. Mengejutkan
nilai yang didapatkannya cocok dengan bilangan Avogadro yang diperoleh
dengan metoda lain yang berbeda. Kecocokan ini selanjutnya membuktikan
kebenaran teori atom yang menjadi dasar teori gerak Brown.
Tidak
perlu disebutkan, Perrin tidak dapat mengamati atom secara langsung. Apa
yang dapat dilakukan saintis waktu itu, termasuk Perrin, adalah
menunjukkan bahwa bilangan Avogadro yang didapatkan dari sejumlah metoda
yang berbeda berdasarkan teori atom identik. Dengan kata lain mereka
membuktikan teori atom secara tidak langsung dengan konsistensi logis.
Dalam
kerangka kimia modern, metodologi seperti ini masih penting. Bahkan
sampai hari ini masih tidak mungkin mengamati langsung partikel sekecil
atom dengan mata telanjang atau mikroskop optic. Untuk mengamati
langsung dengan sinar tampak, ukuran partikelnya harus lebih besar
daripada panjang gelombang sinar tampak. Panjang gelombang sinar tampak
ada dalam rentang 4,0 x 10-7- 7,0 x10-7 m, yang
besarnya 1000 kali lebih besar daripada ukuran atom. Jadi jelas di luar
rentang alat optis untuk mengamati atom. Dengan bantuan alat baru
seperti mikroskop electron (EM) atau scanning tunneling microscope
(STM), ketidakmungkinan ini dapat diatasi. Walaupun prinsip mengamati
atom dengan alat ini, berbeda dengan apa yang terlibat dengan mengamati
bulan atau bunga, kita dapat mengatakan bahwa kita kini dapat mengamati
atom secara langsung.
Download bukunya disini

Monday, November 19, 2012
Kumpulan Animasi Kimia untuk SMA
Menurut istilahnya media berasal dari kata medium yang dapat didefenisikan sebagai perantara atau pengantar terjadinya komunikasi dari pengirim menuju penerima. Berdasarkan defenisi tersebut, dapat dikatakan proses pembelajaran merupakan proses komunikasi. Jadi, media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran) sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan siswa dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Kalau kita hubungkan dengan pembelajaran kimia, maka kimia sangat memerlukan media yang dapat menjelaskan materi yang bersifat abstrak agar menjadi lebih nyata di hadapan siswa. Untuk tujuan tersebut media animasi flash merupakan salah satu solusi yang dapat digunakan guru di dalam pembelajaran kimia. Di bawah ini ada 45 animasi flash dalambentuk swf yang dapat di-download secara gratis dengan cara meng-klik setiap judul yang ada dan dapat digunakan langsung di dalam kelas. Mudah-mudahan bermanfaat.
Catatan: Kalau belum mempunyai program swf dapat anda download DI SINI (tunggu 5 detik lalu klik skip ad)
A. Materi Kelas X
1. Bilangan Oksidasi
2. Cara Mengukur Volume
3. Hukum Gay-Lussac dan Avogadro
4. Ikatan kovalen Polar dan Non Polar
5. Ikatan Ion
6. Ikatan Kovalen
7. Isotop
8. Jari-Jari Atom
9. Kegagalan Aturan Oktet
10. Konsep Mol
11. Konsep Mol dengan Massa
12. Larutan Elektrolit
13. Massa Atom
14. Menentukan RE dan RM
15. Menghitung Massa Atom dari Isotop
16. Menghitung Mr
17. Minyak Bumi
18. Mol dan Bilangan Avogadro
19. Muatan Ion
20. Notasi Atom
21. Pembentukan Ikatan Ion (NaCl)
22. Perbandingan Mol dalam Reaksi
23. Perbedaan Ikatan Ion dengan Kovalen
24. Percobaan Rutherford
25. Pereaksi Pembatas
26. Perhitungan Kimia
27. Persen Kadar
28. Rumus Senyawa Ion
29. Rumus Lewis
30. Rumus Empiris dan Rumus Molekul
31. Rumus Perbandingan Dua Gas
32. Senyawa Hidrat
33. Sifat Logam pada SPU
34. Sifat Periodik (JJA)
35. Sistem Periodik
36. Struktur Atom dan Ikatan Ion
37. Struktur Atom
38. Struktur Atom
39. Tatanama Senyawa dan Ion
40. Tatanama Senyawa Ion dari Ion Poliatom
41. Tatanama Senyawa Ion dari Kation Transisi
42. Tatanama Senyawa Ionik
43. Timbangan
44. Volume Molar
45. Zat Padat
B. Kelas XI….
1. Struktur Atom
2. Konfigurasi Elektron
3. Sistem Periodik
4. Ikatan Kimia
5. Teori VSEPR
6. Gaya Antar Molekul
7. Termokimia
8. Hukum Hess
9. Kalorimeter
10. Laju Reaksi
11. Kesetimbangan Kimia
12. Pergeseran Kesetimbangan
13. Pergeseran Kesetimbangan1
14. Teori Asam Basa
15. pH Asam Basa
16. Ionisasi Asam Kuat dan Lemah
17. Titrasi Asam Basa
18. Larutan Penyangga
19. Hidrolisis Garam
20. Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan
21. Sistem Koloid
Kelas XII
1. Sifat Koligatif Larutan
2. Diagram P-T
3. Tekanan Uap
4. Kenaikan Titik Didih
5. Titik Beku
6. Tekanan Osmotik
7. Menyetarakan Persamaan Reaksi Redoks
8. Elektrokimia
9. Sel Galvani
10. Sel Elektrolisis
post asli/sumber: http://adisaputrabtm.wordpress.com/2011/02/08/kumpulan-animasi-flash-gratis-untuk-media-pembelajaran-kimia-sma/
Source: http://bukanisapanjempol.blogspot.com/2011/07/kumpulan-animasi-flash-gratis-untuk.html#ixzz2CjImkiEy
Kalau kita hubungkan dengan pembelajaran kimia, maka kimia sangat memerlukan media yang dapat menjelaskan materi yang bersifat abstrak agar menjadi lebih nyata di hadapan siswa. Untuk tujuan tersebut media animasi flash merupakan salah satu solusi yang dapat digunakan guru di dalam pembelajaran kimia. Di bawah ini ada 45 animasi flash dalambentuk swf yang dapat di-download secara gratis dengan cara meng-klik setiap judul yang ada dan dapat digunakan langsung di dalam kelas. Mudah-mudahan bermanfaat.
Catatan: Kalau belum mempunyai program swf dapat anda download DI SINI (tunggu 5 detik lalu klik skip ad)
A. Materi Kelas X
1. Bilangan Oksidasi
2. Cara Mengukur Volume
3. Hukum Gay-Lussac dan Avogadro
4. Ikatan kovalen Polar dan Non Polar
5. Ikatan Ion
6. Ikatan Kovalen
7. Isotop
8. Jari-Jari Atom
9. Kegagalan Aturan Oktet
10. Konsep Mol
11. Konsep Mol dengan Massa
12. Larutan Elektrolit
13. Massa Atom
14. Menentukan RE dan RM
15. Menghitung Massa Atom dari Isotop
16. Menghitung Mr
17. Minyak Bumi
18. Mol dan Bilangan Avogadro
19. Muatan Ion
20. Notasi Atom
21. Pembentukan Ikatan Ion (NaCl)
22. Perbandingan Mol dalam Reaksi
23. Perbedaan Ikatan Ion dengan Kovalen
24. Percobaan Rutherford
25. Pereaksi Pembatas
26. Perhitungan Kimia
27. Persen Kadar
28. Rumus Senyawa Ion
29. Rumus Lewis
30. Rumus Empiris dan Rumus Molekul
31. Rumus Perbandingan Dua Gas
32. Senyawa Hidrat
33. Sifat Logam pada SPU
34. Sifat Periodik (JJA)
35. Sistem Periodik
36. Struktur Atom dan Ikatan Ion
37. Struktur Atom
38. Struktur Atom
39. Tatanama Senyawa dan Ion
40. Tatanama Senyawa Ion dari Ion Poliatom
41. Tatanama Senyawa Ion dari Kation Transisi
42. Tatanama Senyawa Ionik
43. Timbangan
44. Volume Molar
45. Zat Padat
B. Kelas XI….
1. Struktur Atom
2. Konfigurasi Elektron
3. Sistem Periodik
4. Ikatan Kimia
5. Teori VSEPR
6. Gaya Antar Molekul
7. Termokimia
8. Hukum Hess
9. Kalorimeter
10. Laju Reaksi
11. Kesetimbangan Kimia
12. Pergeseran Kesetimbangan
13. Pergeseran Kesetimbangan1
14. Teori Asam Basa
15. pH Asam Basa
16. Ionisasi Asam Kuat dan Lemah
17. Titrasi Asam Basa
18. Larutan Penyangga
19. Hidrolisis Garam
20. Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan
21. Sistem Koloid
Kelas XII
1. Sifat Koligatif Larutan
2. Diagram P-T
3. Tekanan Uap
4. Kenaikan Titik Didih
5. Titik Beku
6. Tekanan Osmotik
7. Menyetarakan Persamaan Reaksi Redoks
8. Elektrokimia
9. Sel Galvani
10. Sel Elektrolisis
post asli/sumber: http://adisaputrabtm.wordpress.com/2011/02/08/kumpulan-animasi-flash-gratis-untuk-media-pembelajaran-kimia-sma/
Source: http://bukanisapanjempol.blogspot.com/2011/07/kumpulan-animasi-flash-gratis-untuk.html#ixzz2CjImkiEy
Friday, November 2, 2012
Saturday, September 29, 2012
Kimia Dasar 2
Berisi beberapa materi seperti: keseimbangan kimia, redoks dan elektrokimia, kinetika kimia, kimia organik, kimia inti,
Silahkan download disini
Silahkan download disini
Sunday, September 23, 2012
Hubungan tingkat keasaman dengan pH
Bila Anda perhatikan, nilai pH merupakan eksponen negatif dari konsentrasi ion hidronium. Sebagai contoh, larutan basa kuat dengan konsentrasi ion hidronium 10-11 M mempunyai pH 11. Larutan asam kuat dengan pH 1 mempunyai konsentrasi ion hidronium 10-1 M. Hal ini dikarenakan asam/basa kuat terionisasi sempurna, maka konsentrasi ion H+ setara dengan konsentrasi asamnya.

Berdasarkan uraian di atas, karena pH dan konsentrasi ion H+ dihubungkan dengan tanda negatif, maka kedua besaran itu berbanding terbalik, artinya makin besar konsentrasi ion H+ (makin asam larutan) maka makin kecil nilai pH, dan sebaliknya. Selanjutnya, karena dasar logaritma adalah 10 maka larutan yang nilai pH-nya berbeda sebesar n dan mempunyai perbedaan konsentrasi ion H+ sebesar 10n. Bila pH berkurang, konsentrasi ion hidronium akan meningkat, dan konsentrasi ion hidroksida berkurang. Pada setiap unit penurunan pH sama dengan peningkatan faktor 10 untuk konsentrasi ion hidronium.
Sebagai contoh, larutan dengan pH 4 dan larutan dengan pH 3 keduanya bersifat asam, karena mempunyai pH kurang dari 7. Larutan dengan pH 3 mempunyai konsentrasi H3O+ 10 kali lebih besar
dari pada larutan dengan pH 4, sehingga perubahan kecil dalam pH dapat membuat perubahan besar dalam konsentrasi ion hidronium. Bila pH meningkat di atas 7, konsentrasi ion hidroksida akan meningkat, dan konsentrasi ion hidronium akan berkurang. Dalam larutan netral, konsentrasi ion hidroksida dan ion hidronium adalah sama.

Berdasarkan uraian di atas, karena pH dan konsentrasi ion H+ dihubungkan dengan tanda negatif, maka kedua besaran itu berbanding terbalik, artinya makin besar konsentrasi ion H+ (makin asam larutan) maka makin kecil nilai pH, dan sebaliknya. Selanjutnya, karena dasar logaritma adalah 10 maka larutan yang nilai pH-nya berbeda sebesar n dan mempunyai perbedaan konsentrasi ion H+ sebesar 10n. Bila pH berkurang, konsentrasi ion hidronium akan meningkat, dan konsentrasi ion hidroksida berkurang. Pada setiap unit penurunan pH sama dengan peningkatan faktor 10 untuk konsentrasi ion hidronium.
Sebagai contoh, larutan dengan pH 4 dan larutan dengan pH 3 keduanya bersifat asam, karena mempunyai pH kurang dari 7. Larutan dengan pH 3 mempunyai konsentrasi H3O+ 10 kali lebih besar
dari pada larutan dengan pH 4, sehingga perubahan kecil dalam pH dapat membuat perubahan besar dalam konsentrasi ion hidronium. Bila pH meningkat di atas 7, konsentrasi ion hidroksida akan meningkat, dan konsentrasi ion hidronium akan berkurang. Dalam larutan netral, konsentrasi ion hidroksida dan ion hidronium adalah sama.
Subscribe to:
Comments (Atom)



















