Showing posts with label Kimia. Show all posts
Showing posts with label Kimia. Show all posts
Saturday, January 12, 2013
Monday, January 7, 2013
Gaya Molekul dan Gaya Antar Molekul
Monday, January 07, 2013
Ikatan Kimia, Kimia, Kimia SMA, Sistem Periodik Unsur, Struktur Atom
No comments
Sistem periodik modern disusun
berdasarkan kenaikan nomor atom dan kemiripan sifat. Ada keterkaitan antara
konfigurasi elektron dengan letak unsur dalam sistem periodik
• Letak periode unsur dapat diramalkan dari jumlah kulit elektron dari unsur tersebut.
• Letak golongan unsur dalam sistem periodik dapat
diramalkan dari subkulit terakhir yang terisi elektron.
Tabel 1.2 Golongan unsur menurut elektron valensi
Contoh:
Tentukan letak unsur 15P, dan 26Fe
dalam sistem periodik unsur!
Jawab:
15P : [Ne] 3s2 3p3 (blok p : antara IIIA sampai VIIIA)
berakhir pada kulit ke tiga berarti terletak pada periode
ketiga. Elektron bentuk molekul, elektron, gaya antarmolekul
valensinya lima (2+3)
VA.
25Mn :
[Ar] 3d5 4s2 (blok d : antara IB sampai VIIIB)
berakhir pada kulit keempat berarti terletak pada periode
keempat. Elektron valensi-nya lima, yaitu pada 3d5 4s2, berarti terletak pada
golongan (5+2) VIIB.
BENTUK MOLEKUL DAN
GAYA ANTARMOLEKUL
a. Bentuk molekul
Bentuk molekul menggambarkan kedudukan atom-atom di dalam
suatu molekul, yaitu dalam ruang tiga
dimensi dan besarnya sudut-sudut yang dibentuk dalam suatu molekul.
Bentuk molekul dapat dijelaskan dengan menggunakan berbagai
pendekatan, yaitu teori hibridisasi
orbital, teori medan kristal, dan teori tolakan pasangan elektron (Valence Shell Electron Pair Repulsion
atau VSEPR). Menurut teori ini, terdapat pola dasar kedudukan
pasangan-pasangan elektron akibat adanya gaya tolak-menolak yang terjadi antara
pasangan elektron-elektron tersebut. Teori ini tidak menggunakan sama sekali
orbital atom.
Pasangan elektron-elektron
pada kulit luar atom pusat akan menyusun diri, sehingga tolak-menolak diantaranya menjadi
minimum.
• Kekuatan tolak-menolak tergantung pada pasangan elektron
bebas (PEB) dan pasangan elektro ikatan (PEI)
• Urutan kekuatan tolak-menolak diantara pasangan elektron:
PEB-PEB > PEB-PEI > PEI-PEI. Adanya gaya tolak yang kuat pada pasangan
elektron bebas (PEB) mengakibatkan PEB akan menempati ruang yang lebih luas.
Tabel 1.3 Susunan ruang pasangan-pasangan elektron pada
kulit luar atom pusat
Langkah-langkah meramalkan geometri molekul
berdasarkan teori VSEPR:
1. Membuat rumus Lewis, untuk mengetahui jumlah pasangan
elektron pada kulit terluar atom pusat.
2. Menyusun pasangan elektron disekitar atom pusat yang
memberi tolakan minimum.
3. Menetapkan pasangan terikat dengan menuliskan lambang
atom yang sesuai.
4. Menentukan bentuk molekul setelah mempertimbang kan pasangan elektron bebas.
b. Gaya Antarmolekul
Dalam molekul kovalen, atom-atom terikat satu sama lain
karena penggunaan bersama pasangan
elektron. Bagaimana interaksi antar molekul dalam senyawa molekul? Adakah ikatan antar molekul zat itu?
1) Gaya Van der Waals
Gaya yang relatif lemah yang bekerja (tarik-menarik)
antarmolekul. Gaya ini sangat lemah
dibandingkan gaya antar atom (ikatan ion dan ikatan kovalen). Untuk memutuskan
gaya tersebut diperlukan energi sekitar 0,4 – 40 kJ mol-1, sedangkan untuk
ikatan kovalen diperlukan 400 kJ mol-1. Gaya Van der Waals bekerja jika jarak
antar molekul sudah sangat dekat, tetapi tidak melibatkan terjadinya
pembentukan ikatan antar atom.
Ada tiga gaya antarmolekul yang berperan dalam terjadinya
gaya Van der Waals, yaitu:
a)
Gaya Orientasi
Terjadi pada molekul-molekul yang mempunyai dipol permanen
atau molekul polar. Antaraksi antara kutub positif dengan kutub negatif yang
lain akan menimbulkan gaya tarik-menarik yang relatif lemah. Gaya ini memberi
sumbangan yang sangat lemah kepada gaya van der Waals secara keseluruhan.
b)
Gaya imbas
Terjadi bila terdapat molekul dengan dipol permanen
berantaraksi dengan molekul dengan dipol sesaat. Adanya molekul-molekul polar
dengan dipol permanen akan menyebabkan imbasan dari molekul polar kepada molekul
nonpolar, sehingga elektron-elektron dari molekul nonpolar tersebut mengumpul
pada salah satu sisi molekul (terdorong atau tertarik), yang menyebabkan
terjadinya dipol sesaat pada molekul nonpolar.
Terjadinya dipol sesaat mengakibatkan adanya tarik-menarik
antar dipol yang menghasilkan gaya imbas. Gaya ini juga memberikan sumbangan
yang kecil terhadap keseluruhan gaya van der Waals.
c)
Gaya dispersi (gaya London)
Pertama kali dikemukakan oleh Fritz London (1928).
Pada molekul nonpolar gaya London ini terjadi akibat adanya elektron-elektron
mengelilingi inti secara acak., sehingga pada suatu saat elektron akan
mengumpul pada salah satu sisi molekul.
Dipol yang terbentuk dengan cara itu disebut dipol sesaat, karena dipol
itu dapat berpindah milyaran kali dalam satu detik. Kemudahan suatu molekul
untuk membentuk dipol sesaat disebut polarisabilitas.
Makin banyak jumlah elektron, makin mudah mengalami
polarisasi, maka makin besar Mr makin kuat gaya Londonnya, karena jumlah
elektron berkaitan dengan massa molekul relatif. Zat yang molekulnya bertarikan
hanya dengan gaya London mempunyai titik leleh dan titik didih yang rendah
dibandingkan zat lain yang mempunyai Mr hampir sama.
Gaya dispersi merupakan penyumbang terbesar pada gaya Van
der Waals.
Gambar 1.7 Dipol sesaat
Jadi, gaya Van der Waals dipengaruhi oleh beberapa faktor,
yaitu:
1.
Kerumitan Molekul
Gaya antar molekul
bekerja pada jarak yang sangat dekat. Semakin dekat jarak antarmolekul semakin
kuat gaya antar molekul tersebut. Molekul yang bentuknya sederhana (lurus),
gaya antar molekulnya lebih kuat daripada yang bentuknya rumit(bercabang).
Gambar 1.8 Struktur molekul mempengaruhi titik didih
n-butana (a) lebih tinggi daripada 3–etil–pentana (b)
2.
Ukuran Molekul
Molekul yang
berukuran besar lebih mudah membentuk dipol sesaat, karena elektronnya terletak
jauh dari inti sehingga pergerakkan elektronnya lebih leluasa daripada molekul
yang berukuran kecil. Gaya van der waals tidak memiliki arah yang jelas,
terlihat pada bentuk kristal kovalen yang bisa berubah pada suhu tertentu.
2) Ikatan hidrogen
“Ikatan hidrogen terjadi antara atom hidrogen dari suatu
molekul dengan atom elektronegatif (N, O, F) pada atom lain”
Ikatan hidrogen ini lebih kuat daripada ikatan Van der
Waals, dan memiliki arah yang jelas. Energi untuk memutuskan ikatan hidrogen
adalah 15 – 40 kJ/mol, sedangkan untuk memutuskan gaya Van der Waals adalah
sekitar 2 – 20 kJ/mol. Inilah sebabnya
zat yang memiliki ikatan hidrogen memiliki titik cair dan titik didih yang
relatif tinggi. Ikatan hidrogen yang kuat hanya terjadi antara molekul yang
mempunyai ikatan F – H, O”H, atau N”H.
Contoh fenomena ini dapat kita lihat pada senyawa NH3,
H2O, dan HF
Struktur Atom dan Sifat SPU
STRUKTUR ATOM DAN SIFAT PERIODIK UNSUR
Bagaimana partikel-partikel penyusun atom (proton, netron, dan elektron) berada di
dalam atom digambarkan dengan struktur atom. Kedudukan elektron di sekitar inti
atom atau konfigurasi elektron di sekitar inti atom berpengaruh terhadap
sifat fisis dan kimia atom yang
bersangkutan.
Model atom Ernest Rutherford (1871-1937) tahun 1911
yang menyatakan bahwa atom terdiri dari inti kecil yang bermuatan positif
(tempat konsentrasi seluruh massa atom) dan dikelilingi oleh elektron pada
permukaannya. Namun teori ini tidak dapat menerangkan kestabilan atom. Sewaktu
mengelilingi proton, elektron mengalami percepatan sentripetal akibat pengaruh
gaya sentripetal (Gaya Coulomb). Menurut teori mekanika klasik dari Maxwell,
yang menyatakan bahwa partikel bermuatan bergerak maka akan memancarkan energi.
Maka menurut Maxwell bila elektron bergerak mengelilingi inti juga akan
memancarkan energi. Pemancaran energi ini menyebabkan elektron kehilangan
energinya, sehingga lintasannya berbentuk spiral dengan jari-jari yang mengecil, laju elektron
semakin lambat dan akhirnya dapat tertarik ke inti atom. Jika hal ini terjadi
maka atom akan musnah, akan tetapi pada kenyataannya atom stabil.
Maka pada tahun 1913, Niels Bohr menggunakan teori
kuantum untuk menjelaskan spektrum unsur. Berdasarkan pengamatan, unsur-unsur
dapat memancarkan spektrum garis dan tiap unsur mempunyai spektrum yang khas.
Menurut Bohr,
•
Spektrum garis menunjukkan
elektron dalam atom hanya dapat beredar pada lintasan-lintasan dengan tingkat
energi tertentu. Pada lintasannya elektron dapat beredar tanpa pemancaran atau
penyerapan energi. Oleh karena itu, energi elektron tidak berubah sehingga
lintasannya tetap.
•
Elektron dapat berpindah
dari satu lintasan ke lintasan lain disertai pemancaran atau penyerapan
sejumlah energi yang harganya sama dengan selisih kedua tingkat energi
tersebut.
Keterangan :
∆E = Energi yang menyertai perpindahan
elektron
Ef = Tingkat energi akhir
Ei = Tingkat energi awal
Namun teori Bohr ini memiliki kelemahan,
yaitu:
• Bohr hanya dapat menjelaskan spektrum
gas hidrogen, tidak dapat menjelaskan spektrum dari unsur yang jumlah
elektronnya lebih dari satu.
• Tidak dapat menjelaskan adanya
garis-garis halus pada spektrum gas hidrogen.
Kelemahan dari model atom Bohr dapat
dijelaskan oleh Louis Victor de Broglie
pada tahun 1924 dengan teori dualisme
partikel gelombang. Menurut de Broglie, pada kondisi tertentu, materi yang
bergerak memiliki ciri-ciri gelombang.
Hipotesis tersebut terbukti benar dengan
ditemukannya sifat gelombang dari elektron.
Elektron mempunyai sifat difraksi, maka lintasan elektron yang dikemukakan Bohr
tidak dibenarkan. Gelombang tidak bergerak melalui suatu garis, melainkan
menyebar pada daerah tertentu.
Pada tahun 1927, Werner Heisenberg
mengemukakan bahwa posisi atau lokasi suatu elektron dalam atom tidak dapat
ditentukan dengan pasti. Yang dapat ditentukan adalah hanya kemungkinan
(kebolehjadian) menemukan elektron pada suatu titik pada jarak tertentu dari
intinya.
1.
Model atom mekanika gelombang
Hipotesis Louis de Broglie dan
azas ketidakpastian dari Heisenberg merupakan dasar dari model Mekanika Kuantum
(Gelombang) yang dikemukakan oleh Erwin Schrodinger pada tahun1927,
mengajukan konsep orbital untuk menyatakan kedudukan elektron dalam atom.
Orbital menyatakan suatu daerah dimana elektron paling mungkin (peluang
terbesar) untuk ditemukan.
Persamaan gelombang ( ᵠ =
psi) dari Erwin Schrodinger menghasilkan tiga bilangan gelombang (bilangan
kuantum) untuk menyatakan kedudukan (tingkat energi, bentuk, serta orientasi)
suatu orbital, yaitu:
a.
Bilangan kuantum utama (n)
Menentukan besarnya tingkat energi suatu
elektron yang mencirikan ukuran orbital (menyatakan tingkat energi utama atau
kulit atom). Bilangan kuantum utama memiliki harga mulai dari 1, 2, 3, 4,….dst
(bilangan bulat positif). Biasanya dinyatakan dengan lambang, misalnya K(n=1),
L(n=2), dst.
Orbital–orbital dengan bilangan kuantum
utama berbeda, mempunyai tingkat energi yang berbeda. Makin besar bilangan
kuantum utama, kulit makin jauh dari inti, dan makin besar pula energinya.
b.
Bilangan kuantum azimut (l )
Menyatakan subkulit tempat elektron
berada. Nilai bilangan kuantum ini menentukan bentuk ruang orbital dan besarnya momentum sudut elektron. Nilai untuk
bilangan kuantum azimuth dikaitkan dengan bilangan kuantum utama. Bilangan
kuantum azimuth mempunyai harga dari nol sampai (n – 1) untuk setiap n. Setiap
subkulit diberi lambang berdasarkan harga bilangan kuantum l.
l
= 0 , lambang s (sharp)
l
= 1, lambang p (principal)
l =
2, lambang d (diffuse)
l = 3, lambang f (fundamental)
(Lambang s, p, d, dan f diambil dari nama
spektrum yang dihasilkan oleh logam alkali dari Li sampai dengan Cs).
Tabel 1.1
Subkulit-subkulit yang diijinkan pada
kulit K sampai N
c. Bilangan kuantum magnetik (ml)
Menyatakan orbital khusus mana yang
ditempati elektron pada suatu subkulit. Selain itu juga dapat menyatakan
orientasi khusus dari orbital itu dalam ruang relatif terhadap inti. Nilai
bilangan kuantum magnetik bergantung pada bilangan kuantum azimuth, yaitu
bilangan bulat dari –l sampai +l.
Contoh:
l = 0, maka nilai m = 0 berarti hanya
terdapat 1 orbital
l = 1, maka nilai m = –1, 0, +1, berarti
terdapat 3 orbital
d. Bilangan kuantum spin (ms atau s)
Bilangan kuantum spin terlepas dari
pengaruh momentum sudut. Hal ini berarti bilangan kuantum spin tidak
berhubungan secara langsung dengan tiga bilangan kuantum yang lain. Bilangan
kuantum spin bukan merupakan penyelesaian dari persamaan gelombang, tetapi
didasarkan pada pengamatan Otto Stern dan Walter Gerlach terhadap
spektrum yang dilewatkan pada medan magnet, ternyata terdapat dua spektrum yang
terpisah dengan kerapatan yang sama. Terjadinya pemisahan garis spektrum oleh
medan magnet dimungkinkan karena elektron-elektron tersebut selama mengelilingi
inti berputar pada sumbunya dengan arah yang berbeda. Berdasarkan hal ini
diusulkan adanya bilangan kuantum spin untuk menandai arah putaran (spin)
elektron pada sumbunya.
Hanya ada dua kemungkinan arah rotasi
elektron, yaitu searah jarum jam dan berlawanan jarum jam, maka probabilitas
elektron berputar searah jarum jam adalah
dan berlawanan jarum jam . Untuk
membedakan arah putarnya maka diberi tanda positif (+1/2 ) dan negatif (–1/2 ).
Oleh karena itu dapat dimengerti bahwa satu orbital hanya dapat ditempati
maksimum dua elektron.
2.
Bentuk dan orientasi orbital
Setiap orbital mempunyai ukuran, bentuk,
dan arah orientasi ruang yang ditentukan oleh bilangan kuantum n, l, ml.
orbital-orbital bergabung membentuk suatu subkulit, kemudian subkulit bergabung membentuk kulit dan
tingkat energi.
a. Orbital s
Orbital yang paling sederhana. Subkulit s
tersusun dari sebuah orbital dengan bilangan kuantum l = 0 dan mempunyai ukuran
yang berbeda tergantung harga bilangan kuantum n. Probabilitas
(kebolehjadian)untuk menemukan elektron pada orbital s adalah sama untuk ke
segala arah, maka bentuk ruang orbital s seperti bola.
b. Orbital p
Orbital p tersusun dari tiga orbital
dengan bilangan kuantum l = 1. Ketiga orbital p tersebut adalah px, py, pz. dengan
bentuk ruang orbital p seperti dumbbell dengan probabilitas untuk menemukan
elektron semakin kecil bila mendekati inti.
c. Orbital d
Subkulit d tersusun dari lima orbital
yang mempunyai bilangan kuantum l = 2. Arah
orientasi dari orbital d dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu:
–
mempunyai orientasi di
antara sumbu, terdiri dari tiga orbital, yaitu dxy, dxz, dan dyz.
–
mempunyai orientasi
pada sumbu, terdiri dari 2 orbital, yaitu: dx2
–
y2, dan dz2.
3.
Konfigurasi elektron
Konfigurasi elektron menggambarkan penataan/susunan
elektron dalam atom.
a. Aturan Aufbau
(membangun)
Pengisian orbital dimulai dari tingkat
energi yang rendah ke tingkat energi yang tinggi. Elektron mempunyai
kecenderungan akan menempati dulu subkulit yang energinya rendah. Besarnya
tingkat energi dari suatu subkulit dapat diketahui dari bilangan kuantum utama
(n) dan bilangan kuantum azimuth ( l ) dari orbital tersebut.
Orbital dengan harga (n + l) lebih besar
mempunyai tingkat energi yang lebih besar. Jika harga (n + l) sama, maka
orbital yang harga n-nya lebih besar mempunyai tingkat energi yang lebih besar.
Urutan energi dari yang paling rendah ke yang paling tinggi adalah sebagai berikut:
1s < 2s < 2p < 3s < 3p <
4s < 3d < 4p < 5s < 4d < 5p < 6s < 4f < 5d ....
b. Larangan Pauli (Eksklusi Pauli)
Tidak boleh terdapat dua elektron dalam
satu atom dengan empat bilangan kuantum yang sama. Orbital yang sama akan
mempunyai bilangan kuantum n, l, ml yang sama. Yang dapat membedakan hanya
bilangan kuantum spin (s). Dengan demikian,
setiap orbital hanya dapat berisi 2 elektron dengan spin (arah putar) yang berlawanan.
Jadi, satu orbital dapat ditempati
maksimum oleh dua elektron, karena jika elektron
ketiga dimasukkan maka akan memiliki spin yang sama dengan salah satu elektron
sebelumnya.
Maka jumlah elektron pada setiap subkulit
sama dengan dua kali jumlah orbitalnya.
Contoh:
Subkulit s (1 orbital) maksimum 2
elektron
Subkulit p (3 orbital) maksimum 6
elektron
Jumlah maksimum elektron pada kulit ke-n
= 2n2
Contoh:
Jumlah maksimum elektron pada kulit L (n
= 2) = 2 (22) = 8
c. Aturan Hund
Pada pengisian orbital-orbital dengan
energi yang sama, mula-mula elektron menempati
orbital sendiri-sendiri dengan spin yang paralel, baru kemudian berpasangan.
Contoh:
7N : [ He ] 2s2 2p3
Diagram orbitalnya:
Konfigurasi elektron dari gas mulia dapat
dipergunakan untuk menyingkat konfigurasi elektron dari atom-atom yang mempunyai
jumlah elektron (bernomor atom) besar. Berikut contoh peyingkatan konfigurasi
elektron :
19K : 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s1 disingkat menjadi: [Ar] 4s1
1) Penyimpangan dari aturan umum
Terdapat beberapa atom yang konfigurasi
elektronnya menyimpang dari aturan-aturan umum di atas, seperti:
24Cr : [Ar] 4s2 3d4 kurang stabil, maka berubah menjadi [Ar] 4s1 3d5
29Cu : [Ar] 4s2 3d9 kurang stabil, maka berubah menjadi [Ar] 4s2 3d10
46Pd : [Ar] 5s2 4d8 kurang stabil, maka berubah menjadi [Ar] 4d10
Penyimpangan ini terjadi karena adanya
perbedaan tingkat energi yang sangat kecil antara subkulit 3d dan 4s serta
antara 4d dan 5s pada masing-masing atom tersebut. Pengisian orbital penuh atau
setengah penuh relatif lebih stabil.
2) Cara penulisan urutan subkulit :
Contoh: Ada dua cara menuliskan
konfigurasi elektron Magnesium
1) 25Mg : 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d5
2) 25Mg : 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 3d5 4s2
Menurut cara
- Subkulit-subkulit ditulis sesuai dengan urutan tingkat energinya; sedangkan pada cara
- Subkulit-subkulit dari kulit yang sama dikumpulkan. Pada dasarnya kedua cara di atas sesuai dengan aturan Aufbau (dalam prioritas pengisian orbital, yaitu dimulai dari tingkat energi rendah ke tingkat energi yang lebih tinggi), hanya berbeda dalam hal penulisannya saja.
Karakteristik Atom Karbon
Monday, January 07, 2013
Bentuk rantai karbon, Jenis ikatan kovalen pada rantai karbon, Karakteristik Atom Karbon, Kimia, Kimia SMA, Posisi atom C pada rantai karbon
No comments
Pada awalnya, senyawa-senyawa karbon dianggap hanya dapat
diperoleh dari tubuh makhluk hidup dan tidak dapat disintesis dalam pabrik.
Anggapan tersebut berubah sejak Friedrich Wohler dari Jerman pada tahun 1928
berhasil mensintesis urea (suatu senyawa yang terdapat dalam air seni) dari
senyawa anorganik, yaitu dengan memanaskan amonium sianat.
Begitu keberhasilan Wohler diketahui, banyak sarjana lain
yang mencoba membuat senyawa karbon dari senyawa anorganik. Lambat laun teori
tentang daya hidup hilang dan orang hanya menggunakan kimia organik sebagai
nama saja tanpa disesuaikan dengan arti yang sesungguhnya. Selain perbedaan
jumlah yang sangat mencolok yang menyebabkan kimia karbon dibicarakan secara
tersendiri, juga karena terdapat perbedaan yang sangat besar antara senyawa
karbon dan senyawa anorganik seperti yang dituliskan berikut ini.
Salah satu cara untuk mengetahui bahwa suatu bahan
mengandung senyawa karbon, yaitu dengan membakar senyawa tersebut. Hasil
pembakaran sempurna dari senyawa karbon akan mengubah karbon menjadi gas CO2,
sedangkan hidrogen berubah menjadi uap air (H2O). Adanya gas CO2
hasil pembakaran senyawa karbon dapat dikenali karena dapat mengeruhkan air
kapur, sedangkan keberadaan uap air dapat dikenali dengan kertas kobal. Air
akan mengubah kertas kobal yang berwarna biru menjadi ros.
A.KARAKTERISTIK ATOM KARBON
Salah satu kekhasan atom karbon ialah dapat membentuk rantai karbon. Atom karbon
dengan nomor atom 6 mempunyai susunan elektron K = 2 dan L = 4. Dengan
demikian, atom C mempunyai 4 elektron valensi dan dapat mernbentuk empat ikatan
kovalen yang kuat dengan atom C lainnya, serta dapat berikatan secara kuat
dengan atom-atom non logam lainnya pada saat yang bersamaan.
1.Bentuk rantai karbon
Ada dua bentuk rantai karbon, yaitu terbuka (alifatik, yang
terdiri atas rantai lurus dan rantai bercabang) dan tertutup (siklik).
2.Posisi atom C dalam rantai karbon
Ada empat macam posisi atom C dalam rantai karbon. Keempat
macam atom C dalam rantai karbon, yaitu:
- atom C primer, yaitu atom C terikat dengan 1 atom C lainnya;
- atom C sekunder, yaitu atom C terikat dengan 2 atom C lainnya;
- atom C tersier, yaitu atom C terikat dengan 1 atom C lainnya;
- atom C kuartener, yaitu atom C terikat dengan 3 atom C lainnya.
3.Jenis ikatan kovalen antara empat atom dalam rantai karbon
Ada dua macam ikatan kovalen antaratom dalam rantai karbon,
yaitu:
- Ikatan tunggal (C – C); 2 atom C menggunakan bersama sepasang elektron.
- Ikatan rangkap, yaitu terdiri atas:
- Ikatan rangkap dua (C = C); penggunaan bersama 2 pasangan elektron.
- Ikatan rangkap tiga (C C); penggunaan bersama 3 pasangan elektron.
Senyawa Hidrokarbon
Monday, January 07, 2013
Hidrokarbon alifatik, Hidrokarbon Alisiklik, Hidrokarbon Aromatik, Kimia, Kimia SMA
No comments
SENYAWA HIDROKARBON
Hidrokarbon adalah senyawa organik yang tersusun dari atom
karbon dan hidrogen. Senyawa hidrokarbon merupakan senyawa karbon yang paling
sederhana. Sampai sekarang terdapat ± 2 juta senyawa hidrokarbon. Karena
jumlahnya yang banyak sekali, maka untuk memudahkan mempelajarinya, para ahli
mengggolongkan hidrokarbon berdasarkan strukturnya.
Struktur hidrokarbon yang dimaksud ialah bentuk rantai
karbon yaitu (rantai terbuka atau rantai tertutup) dan jenis ikatan kovalen
antaratom karbon (ikatan tunggal atau ikatan rangkap). Namun secara umum,
hidrokarbon digolongkan menjadi 3, yaitu hidrokarbon alifatik (lurus atau
bercabang), alisiklik (rantai tertutup), dan hidrokarbon aromatik (rantai
tertutup).
Selain berdasarkan bentuk rantai karbonnya, hidrokarbon juga
dapat dibedakan berdasarkan jenis ikatan antaratom C dalam rantai karbon, yaitu
hidrokarbon jenuh (memiliki ikatan tunggal) dan hirokarbon tak jenuh (memiliki
satu atau lebih ikatan rangkap).
Jenis hidrokarbon:
1.Hidrokarbon alifatik, terdiri atas:
- Alkana;berupa hidrokarbon jenuh, hanya memiliki ikatan tunggal C – C.
- Alkena;berupa hidrokarbon tak jenuh, memiliki minimal 1 ikatan rangkap dua C = C.
- Alkuna; berupa hidrokarbon tak jenuh, memiliki minimal 1 ikatan rangkap tiga C C.
2.Hidrokarbon alisiklik; mempunyai rantai tertutup, dapat
berupa hidrokarbon jenuh dan tak jenuh. Contoh hidrokarbon alisklik:
3.Hidrokarbon aromatik; mempunyai rantai tertutup membentuk
cincin benzena, berupa hidrokarbon tak jenuh.
Alkana
Monday, January 07, 2013
Kimia, Kimia SMA, sifat alkana, sifat fisik alkana, sifat kimia alkana, tatanama alkana
No comments
ALKANA


- Rumus umum alkana
Hidrokarbon jenuh yang paling sederhana merupakan suatu
deret senyawa alkana atau parafin. Rumus umum alkana:
- Tata nama alkana
- Untuk rantai karbon tidak bercabang Penamaan alkana sesuai dengan jumlah atom C yang dimiliki dan diberi awalan n (n= normal).
- Untuk rantai karbon bercabang :
- Tentukan rantai induk, yaitu rantai karbon terpanjang. Beri nomor pada rantai induk sehingga cabang mempunyai nomor sekecil mungkin. Contoh:
- Rantai induk diberi nama alkana sesuai dengan jumlah atom C yang dimiliki oleh rantai induk.
- Cabang merupakan gugus alkil (dengan rumus umum –CnH2n+1) dan diberi nama alkil sesuai jumlah atom C dalam cabang tersebut.
Jika terdapat 2 atau lebih
jenis alkil, nama-nama alkil disusun menurut abjad
Rantai induk: Pentana
Gugus alkil: 2-metil dan 3-etil (cabang ada
di nomor 2 dan 3)
3-etil-2-metilpentana
- Jika terdapat lebih dari 1 alkil sejenis:
- Jika terdapat 2 gugus alkil dengan nomor yang sama, maka nomor tersebut harus diulang
- Beri awalan di, tri, tetra, dan seterusnya pada nama gugus alkil sesuai jumlahnya
Rantai induk: Heksana
Gugus alkil: 2 metil, 3-metil, 3-etil
3-etil-2,3-dimetilheksana
Gugus alkil: 2 metil, 3-metil, 3-etil
3-etil-2,3-dimetilheksana
- Untuk penomoran rantai karbon yang mengandung banyak cabang
- Jika penomoran ekivalen dari kedua ujung rantai, maka pilih rantai yang mengandung banyak cabang.
- Gugus alkil dengan jumlah atom C lebih banyak diberi nomor yang lebih kecil.
- Sifat alkana
- Pada suhu biasa, metana, etana, propana, dan butana berwujud gas; pentena sampai heptadekana (C17H36) berwujud cair; sedangan oktadekana (C18H38) dan seterusnya berwujud padat.
- Alkana tidak larut dalam air. Pelarut yang baik untuk alkana yaitu benzena, karbontetraklorida, dan alkana lainnya.
- Semakin banyak atom C yang dikandungnya (semakin besar nilai Mr), maka:
- titik didih dan titik lelehnya semakin tinggi (alkana yang tidak bercabang titik didihnya lebih tinggi; makin banyak cabang, titik didihnya semakin rendah)
- kerapatannya makin besar.
- viskositas alkana makin naik.
- volatilitas alkana makin berkurang.
Sifat
kimia
- Alkana adalah zat yang kurang reaktif (sukar bereaksi dengan zat lain), sehingga disebut parafin. Berikut ini reaksi-reaksi terpenting dari alkana:
- Pembakaran
Contoh:
C3H8 + 5O2 3CO2 + 4H2O + energi
- Substitusi oleh halogen
Kegunaan
alkana
- Secara umum, alkana berguna sebagai bahan bakar dan bahan baku dalam industri petrokimia.
- Metana; berguna sebagai bahan bakar untuk memasak, dan bahan baku pembuatan zat kimia seperti H2 dan NH3.
- Etana; berguna sebagai bahan bakar untuk memasak dan sebagai refrigerant dalam sistem pendinginan dua tahap untuk suhu rendah.
- Propana; merupakan komponen utama gas elpiji untuk memasak dan bahan baku senyawa organik.
- Butana; berguna sebagai bahan bakar kendaraan dan bahan baku karet sintesis.Oktana; merupakan komponen utama bahan bakar kendaraan bermotor, yaitu bensin.
Reaksi Autoredoks
Monday, January 07, 2013
Autoredoks, Kimia, Kimia SMA, Konsep Redoks, Oksidasi, redoks, reduksi
1 comment
2.Reaksi
autoredoks
Dalam
suatu reaksi kimia, suatu unsur dapat bertindak sebagai pereduksi dan
pengoksidasi sekaligus. Reaksi semacam itu disebut autoredoks
(disproporsionasi).
Contoh
:
Cu
dalam Cu2O teroksidasi dan tereduksi sekaligus dalam reaksi berikut:
Redoks Berdasarkan Pelepasan dan Penerimaan Elektron
B.KONSEP REAKSI OKSIDASI REDUKSI BERDASARKAN PELEPASAN DAN
PENERIMAAN ELEKTRON
Reaksi oksidasi dan reduksi ternyata bukan hanya melibatkan
oksigen, melainkan juga melibatkan elektron. Memasuki abad ke-20, para ahli
melihat suatu karakteristik mendasar dari reaksi oksidasi dan reduksi ditinjau
dari ikatan kimianya, yaitu adanya serah terima elektron. Konsep ini dapat
diterapkan pada reaksi-reaksi yang tidak melibatkan oksigen.
Oksidasi: pelepasan elektron
Reduksi : penerimaan elektron
Contoh:
Reaksi oksidasi dan reaksi reduksi selalu terjadi bersamaan.
Oleh karena itu, reaksi oksidasi dan reaksi reduksi disebut juga reaksi oksidasi-reduksi
atau reaksi redoks. Zat yang mengalami oksidasi disebut reduktor, sedangkan zat
yang mengalami reduksi disebut oksidator.
Redoks berdasarkan penggabungan dan pelepasan Oksigen
Reaksi redoks merupakan kegiatan dari reaksi oksidasi dan
reduksi. Reaksi redoks sangat mudah dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Perkaratan besi, perubahan warna daging apel menjadi kecokelatan kalau dikupas
merupakan contoh peristiwa oksidasi.
Pada bagian ini kita akan mempelajari lebih mendalam
mengenai reaksi redoks ditinjau dari penggabungan dan pelepasan oksigen,
pelepasan dan penerimaan elektrondan berdasarkan perubahan bilangan oksidasi.
A.KONSEP REAKSI OKSIDASI DAN REDUKSI BERDASARKAN PENGGABUNGAN
DAN PELEPASAN OKSIGEN
Konsep reaksi oksidasi dan reduksi senantiasa mengalami
perkembangan seiring dengan kemajuan ilmu kimia. Pada awalnya, sekitar abad
ke-18, konsep reaksi oksidasi dan reduksi didasarkan atas penggabungan unsur
atau senyawa dengan oksigen membentuk oksida, dan pelepasan oksigen dari
senyawa.
Oksidasi: penggabungan oksigen dengan unsur/senyawa.
Reduksi: pelepasan oksigen dari senyawanya.
Contoh:
Larutan (Materi SMA)
Monday, January 07, 2013
Kimia, Kimia SMA, Kovalen Polar, Larutan, senyawa ionik, senyawa kovalen
No comments
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar kata
larutan. Peran larutan sangat penting di antaranya ialah cairan tubuh kita yang
mengandung komponen larutan dari berbagai zat kimia, mineral yang terdapat di
kulit bumi kebanyakan ditemukan dalam bentuk
larutan, serta reaksi kimia di laboratorium dan industri kebanyakan
berlangsung dalam bentuk larutan. Oleh karena itu kita perlu memahami apa yang
disebut dengan larutan dan bagaimana sifat-sifatnya?
A.LARUTAN
Larutan adalah campuran homogen dua zat atau lebih yang
saling melarutkan dan masing-masing zat penyusunnya tidak dapat dibedakan lagi
secara fisik Larutan terdiri atas dua komponen, yaitu komponen zat terlarut dan
pelarut.
•Komponen dengan jumlah yang sedikit biasanya dinamakan zat
terlarut.
• Pelarut adalah komponen yang jumlahnya lebih banyak atau
yang strukturnya tidak berubah.
Contoh:
•25 gram garam dapur dalam 100 gram air; air disebut
pelarut, sedangkan garam dapur (NaCl) sebagai zat terlarut.
•Sirup (kadar gula 80 %); gula pasir merupakan komponen
paling banyak daripada air akan tetapi gula dinyatakan sebagai zat terlarut dan air sebagai pelarut, sebab
struktur air tidak berubah (wujud: cair), sedangkan gula
berubah dari padat menjadi cairan.
Larutan dapat digolongkan berdasarkan:
1.Wujud pelarutnya; yaitu terdiri atas larutan cair (contoh:
larutan gula, larutan garam); larutan padat (contoh: emas 22 karat merupakan
campuran homogen antara emas dan perak atau logam lain); larutan gas (contoh:
udara).
2.Daya hantar listriknya; yaitu larutan elektrolit (dapat
menhantarkan arus listrik) dan larutan non-elektrolit (tidak dapat
menghantarkan arus listrik).
Tidak semua zat jika dicampurkan ke dalam pelarut air dapat
membentuk larutan. Garam dapur (NaCl) dan asam asetat (CH3COOH)
merupakan contoh zat yang dapat larut dalam air, tetapi lilin tidak dapat larut
dalam air. Suatu zat akan larut dalam
air apabila:
– Kekuatan gaya antarpartikel zat setara dengan gaya antarpartikel dalam
pelarut air.
– Zat mempunyai muatan yang sejenis dengan muatan pelarut
air. Air merupakan senyawa kovalen polar, maka zat yang dapat larut dalam air
adalah:
a.Senyawa ion, contoh NaCl, partikel-nya terdiri atas ion
posirif (Na+) dan ion negatif (Cl–). Sedangkan air adalah
senyawa kovalen polar yang partikelnya terdiri atas molekul-molekul H2O
yang memiliki muatan parsial positif ( δ+ ) dan negatif (δ-).
Mekanisme pelarutan NaCl dalam H2O
Molekul H2O akan mengelilingi permukaan kristal
NaCl. Muatan parsial positif(δ+) dari molekul H2O
akan tertarik ke ion Cl- yang ada pada bagian luar kristal. Begitu
juga dengan muatan parsial negatifnya (δ- ) akan tertarik ke ion
Na+ (Gambar 5.3)
b.Senyawa kovalen polar, contoh C2H5OH
(etanol) dapat larut dalam air karena molekul-molekul C2H5OH
dan air sama-sama memiliki muatan parsial positif dan negatif. Keduanya akan
tertarik satu sama lain.
Subscribe to:
Comments (Atom)


















